Al-Hikam

Merenungi pesan Al-Hikam (5)

“Kesungguhanmu terhadap apa yang sudah dijamin untukmu dan keteledoranmu terhadap apa yang dituntut darimu adalah bukti rabunnya pandangan batinmu.” (Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari) Membuka kembali salah satu kitab yang begitu “legendaris” ini, selalu membuat saya mengoreksi diri. Pada petuah yang kelima, Syaikh Ibnu Athaillah begitu pedas mengingatkan satu soal ini: kita seringkali melupakan sesuatu yang […]

Merenungi pesan Al-Hikam (5) Read More »

Merenungi pesan Al-Hikam (4)

Istirahatkanlah dirimu dari mengatur! Apa yang telah dilaksanakan oleh selainmu (maksudnya Alloh Swt) untuk dirimu tidaklah perlu dilaksanakan lagi.” (Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari) Apa yang disampaikan melalui kalimat ini sejatinya telah kita dapati sebagian benang merahnya pada ulasan al-Hikam sebelumnya. Kita bisa menengok tulisan itu kembali. Pada kesempatan kali ini, kita disuguhkan mengenai soal atur-mengatur,

Merenungi pesan Al-Hikam (4) Read More »

Merenungi Al-Hikam Ibnu Athaillah (3)

“Menggebunya tekad tidak akan mampu mengoyak takdir.” (Ibnu Athaillah As-Sakandari) *** Kalimat ini sebenarnya sudah jelas. Lebih tepatnya: singkat, padat, dan jelas. Persoalan takdir adalah persoalan keimanan. Ia adalah bagian dari rukun iman. Sampai sini selesai. Kalimat di atas menjelaskan bahwa sehebat apapun tekad kita berusaha, seatraktif apapun kita dalam mencapai sesuatu, jika Allah tidak

Merenungi Al-Hikam Ibnu Athaillah (3) Read More »

Merenungi Al-Hikam Ibnu Athaillah #2

“Keinginanmu untuk tajrid padahal Allah menempatkanmu pada maqam asbab adalah bagian dari syahwat yang samar, sedangkan keinginan kepada sebab-sebab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid adalah penurunan dari cita-cita yang luhur.” (Ibnu Athaillah as-Sakandari) Tajrid bisa kita sederhanakan dengan meninggalkan semua urusan dunia(wi) dan hanya (melulu memikirkan) beribadah. Maqam asbab atau sebab-sebab dalam kalimat di

Merenungi Al-Hikam Ibnu Athaillah #2 Read More »

Merenungi al-Hikam Ibnu Athaillah (1)

“Di antara tanda bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan.” (Ibnu Athaillah As-Sakandari) Sudah pasti kita ketahui bahwa seorang Muslim hanya boleh bergantung kepada Allah Swt, bukan kepada selain-Nya termasuk amal-amal yang kita lakukan. Di kalimat ini, Ibnu Athaillah mengingatkan kita agar tak bergantung kepada amal dikarenakan bisa mengurangi harapan (kita kepada-Nya) ketika

Merenungi al-Hikam Ibnu Athaillah (1) Read More »