Merenungi Al-Hikam Ibnu Athaillah (3)

“Menggebunya tekad tidak akan mampu mengoyak takdir.” (Ibnu Athaillah As-Sakandari)

***

Kalimat ini sebenarnya sudah jelas. Lebih tepatnya: singkat, padat, dan jelas. Persoalan takdir adalah persoalan keimanan. Ia adalah bagian dari rukun iman. Sampai sini selesai.

Kalimat di atas menjelaskan bahwa sehebat apapun tekad kita berusaha, seatraktif apapun kita dalam mencapai sesuatu, jika Allah tidak mengizinkannya, tentu tak akan berhasil. Sederhananya seperti itu. Namun, kalimat ini juga bisa menjadi bumerang ketika kita memaknainya secara apa adanya. Misalnya, kita jadi malas berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan gara-gara membaca kalimat ini. Kita merasa percuma. Toh, semua sudah ditakdirkan.

Nah, barangkali itulah mengapa kalimat yang singkat, padat, dan jelas di atas perlu kita beri catatan ringkas. Perlu diketahui, sebenarnya kita telah diberi peluang besar oleh Allah melalui takdir yang kita tidak diizinkan untuk mengetahuinya. Di situlah kita diperintahkan untuk berusaha dan meminta (berdoa) kepada-Nya. Justru kalau kita tahu apa yang akan terjadi pada diri kita, itu berbahaya. Misalnya, kita tahu bahwa besok adalah hari terakhir di dunia. Jika orang tahu yang beginian, maka hidupnya tak akan tenang. Ia selalu cemas, tak menikmati hidup, was-was, dan beragam sikap negatif lainnya.

Artinya, kalimat di atas justru membuat kita semakin optimis untuk berusaha. Lalu berharap dan meminta melalui doa. Kemudian ditutup dengan tawakkal. Yang terakhir inilah yang membuat beda. Dengan adanya tawakkal, yakni berpasrah menyerahkan hasil akhir kepada Allah, maka orang akan terhindar dari keputusasaan jika ternyata apa yang diusahakannya memang tak mampu menembus benteng yang telah Allah tetapkan.

Jika kita kaitkan kalimat di atas dengan tasawuf dan pesan Al-Hikam yang sudah kita ulas sebelumnya termasuk hal-hal yang berada di luar nalar, maka kita sedang diberi nasehat bahwa karamah (yang terdapat pada para auliya atau wali) dan ihanah (penghinaan, suatu yang terdapat pada penyihir dan pendengki) adalah hal kecil yang tidak mempengaruhi segala sesuatu kecuali dengan takdir dan izin Allah.

Barangkali, itu catatan ringkas yang bisa kita renungi. Sekilas, kalimat Syaikh Ibnu Athaillah membawa kita pada rasa psimis. Namun jika kita renungi ternyata malah sebaliknya, yakni membawa udara optimis dalam melihat ke depan. Ini juga pesan kepada kita yang giat mencari dunia agar tak lupa pada Sang pemberi, yakni Allah Swt. Tawazun (seimbang) adalah sebaik-baik sikap bagi orang seperti kita. Wallahualam.

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *