Kesibukan kita selaku manusia di dunia pada akhirnya membawa kita pada suatu titik pencarian: ketenangan. Ketenangan bisa kita definisikan dalam beragam makna dan aspek. Namun jika ditarik sampai ujung, ternyata ketenangan tetap ada di dalam batin kita. Letak akhirnya tetap ada di dalam hati.
Dengan begitu, upaya untuk mencari ketenangan di tengah kesibukan adalah dengan membesarkan atau menghidupkan hati.
Persoalan kita yang selalu disibukkan dengan hal-hal yang bersifat fisik, lahiriah, atau dunia barangkali telah mengurangi atau melupakan tujuan akhir: ketenangan batin. Ketika seseorang sibuk bekerja mencari uang misalnya, semua pikiran dan tenaga diupayakan ke sana. Selepas itu, kembali bersama keluarga lalu beristirahat. Begitu seterusnya. Siklusnya hampir-hampir seperti itu kecuali hari libur di akhir pekan.
Rasa-rasanya, manusia yang hidup di zaman modern begitu penat melihat siklus ini. Seolah waktu habis untuk bekerja dan memburu sedikit dari apa yang dimiliki dunia. Terkadang, waktu untuk “memikirkan” Tuhan (termasuk ibadah), hanya sembari lewat. Padahal kita tahu bahwa hal inilah yang bisa menuntun untuk menuju ketenangan (batin).
Jadi, siapa yang salah? Sampai kapan ini akan terjadi? Siapa yang bisa memutusnya? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bisa menjadi refleksi bagi diri kita masing-masing. Setidaknya kita bisa mengingat kembali apa tujuan akhir kita di tengah kesibukan (dunia).
Barangkali, ini memang problem besar dari manusia yang hidup di zaman industrialisasi (entah sampai point ke berapa nantinya), di zaman modern, dan di zaman media sosial yang selalu menuntut “citra” indah. Jelas sampai sini kita memang tak bisa menghindarinya. Kita memang sedang di zaman yang seperti ini. Gagasan-gagasan mengenai “tasawuf modern”, “tasawuf untuk orang kantoran”, dan tema-tema semacamnya, hemat saya begitu relevan untuk dikaji manusia zaman kini.
Mendaras tema-tema tasawuf, tazkiyatun nafs, kisah para ulama, kisah para auliya, kisah bagaimana mereka berusaha untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga “kewarasan” batin kita di tengah kesibukan dunia.
Kalau urusan dunia kita terasa sempit, jangan-jangan itu terjadi karena masih terlalu jauhnya kedekatan kita kepada-Nya, masih kurangnya ketenangan batin yang kita punya. Jika ketenangan batin kita miliki, maka sesempit apapun keadaan yang sedang kita hadapi, pikiran kita masih akan tetap “waras”, terbuka, dan masih bisa berusaha merancang skema-skema lain. Itu terjadi karena dalam pikiran kita masih tersemat kata: optimis.
Firman Allah Swt dalam surah Yusuf patut kita renungi, “…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir.”
Wallahualam. Semoga segala urusan kita selalu dilapangkan oleh-Nya. Momentum Ramadhan, setidaknya adalah kesempatan yang sangat baik untuk (kembali) mendekatkan diri dan mencari apa yang sedang kita bahas: ketenangan. []
Viki Adi N
