Merenungi Al-Hikam Ibnu Athaillah #2

“Keinginanmu untuk tajrid padahal Allah menempatkanmu pada maqam asbab adalah bagian dari syahwat yang samar, sedangkan keinginan kepada sebab-sebab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid adalah penurunan dari cita-cita yang luhur.” (Ibnu Athaillah as-Sakandari)

Tajrid bisa kita sederhanakan dengan meninggalkan semua urusan dunia(wi) dan hanya (melulu memikirkan) beribadah.

Maqam asbab atau sebab-sebab dalam kalimat di atas bisa dimaknai sebagai tingkatan atau kedudukan seorang hamba atau manusia yang masih terus dan harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya melalui sebab-sebab bagi terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut. Misalnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga, seseorang bekerja mencari uang.

Jadi, sebab-sebab dalam kalimat di atas akan kita sederhanakan dengan urusan dunia(wi). Penjelasan ringkas ini kita butuhkan agar lebih memahami pesan dari Syaikh Ibnu Athaillah. Mungkin istilah-istilah ini agak asing di telinga kita. Wajar sebenarnya, karena istilah-istilah ini lebih dikenal dan dekat dalam kalangan sufi.

Kita bagi menjadi dua pesan inti dari kalimat di atas. Pertama, sepanjang kalimat sebelum koma (,). Dari kata “keinginan” sampai “samar”. Kita buat analogi sederhana untuk memudahkan. Misalnya bagi kita yang sehari-hari sibuk bekerja untuk mencari nafkah dan mengurus keluarga. Sebut saja dari jam tujuh pagi sampai jam lima belas sore. Di sini, kita bisa masuk dalam kategori maqam asbab menurut istilah di atas. Menurut Syaikh Ibnu Athaillah, jika kita masih dalam maqam atau tingkatan ini tetapi justru berkeinginan (secara memaksa) untuk tajrid maka itu adalah (nafsu) syahwat yang samar. Seolah baik karena kita ingin meninggalkan dunia dan hanya berpikir mengenai ibadah kepada Allah Swt. Namun jika benar-benar dilakukan (dalam makna letterlejk) justru bisa menjatuhkan kita sendiri. Misalnya, kita tinggalkan kerja, lalu sibuk menyendiri untuk beribadah semacam rahib, atau melakukan perjalanan (dakwah keliling misalnya) tanpa memikirkan yang ditinggal. Akibatnya, keluarga yang harus dinafkahi terlantar (kondisinya mungkin akan berbeda jika kita sudah berkelimpahan).

Apakah makanan akan datang sendiri tanpa kita bekerja? Mungkin logika sederhananya begitu. Uang tidak akan turun dari langit. Uang memang bukan segala-galanya, tetapi orang seperti kita masih membutuhkan uang untuk mencukupi berbagai keperluan. Dalam maqashid syariat yang lima, jiwa (nyawa) dan harta masuk ke dalamnya. Syariat diturunkan (diantaranya) untuk menjaga jiwa dan harta (dua dari lima dalam maqashid syariat). Kan tidak mungkin, kita hidup seperti rahib tapi malah merusak jiwa dan harta (dalam hal ini misalnya menelantarkan keluarga yang seharusnya dinafkahi). Syariat Islam tak menghendaki demikian.

Ini juga menjadi kritik kepada kita yang sering mendaras tasawuf falsafi, berkeinginan kesana, namun hanya untuk sekedar gagah-gagahan tanpa tahu esensi yang sebenarnya.

Kita menuju pesan yang kedua. Dimulai dari kata “sedangkan” sampai yang terakhir, yakni kata “luhur”. Ini adalah pesan Syaikh Ibnu Athaillah pada mereka yang telah sampai di maqam tajrid. Mungkin kita belum sampai di tingkatan ini. Kita berdoa semoga bisa sampai pada tingkatan ini, yang mana hidup di dunia tak melulu memikirkan harta, tahta, dan teruskan sendiri.

Di pesan yang kedua, rasanya sudah jelas. Tak perlu kita ulas penjang. Intinya jika kita sudah sampai pada maqam tajrid, kita sudah berada pada tingkatan yang tidak memikirkan dunia lagi, maka jika kita kembali untuk memikirkannya dan sibuk dengannya, bagi Syaikh Ibnu Athaillah itu adalah suatu penurunan.

Mungkin sampai sini kepala kita di isi oleh pertanyaan semacam ini: Apakah ada orang yang tidak memikirkan dunia tetapi bisa hidup? Jawabannya: pasti ada. Seseorang yang Allah telah jadikan padanya berkecukupan dan di dalam hatinya tak lagi dipenuhi dengan keinginan dunia. Jadi, dunia tak ditaruh dalam hati. Ia letakkan hanya digenggaman tangan saja. Artinya sembari lewat. Imam Malik sebut saja. Kisahnya masyhur berkaitan dengan harta berlimpah yang dimilikinya. Apakah Imam Malik hidup hanya untuk mencari dunia? Nyatanya tidak begitu, justru dari keberlimpahan Beliau (dalam segala makna, baik dunia maupun ilmu), lahirlah ulama-ulama besar berikutnya. Dunia dijadikan perantara kebaikan, sarana dakwah, dan menyalurkan ilmu. Dengan harta yang dimilikinya, Beliau membiayai murid-muridnya untuk pergi menemui guru-guru lain yang jaraknya begitu jauh. Hatinya sudah tak dipenuhi oleh dunia lagi. Kita pasti berkeinginan seperti Imam Malik. Menjadi kaya dalam segala makna.

Nyatanya, tak semudah itu. Ada saja orang kaya yang berkebalikan dengan sikap Imam Malik. Ujian berkelimpahan realitasnya tetap ada. Dari mulai sombong, rakus, boros, dan sikap buruk lainnya.

Wallahualam. Semoga kita yang masih berada di tingkatan antah brantah ini, sedikit demi sedikit bisa naik level. Momentum Ramadhan adalah sarana yang sangat baik untuk bisa membersihkan serta meningkatkan level yang dimaksud Syaikh Ibnu Athaillah. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *