Merenungi pesan Al-Hikam (5)

“Kesungguhanmu terhadap apa yang sudah dijamin untukmu dan keteledoranmu terhadap apa yang dituntut darimu adalah bukti rabunnya pandangan batinmu.” (Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari)

Membuka kembali salah satu kitab yang begitu “legendaris” ini, selalu membuat saya mengoreksi diri. Pada petuah yang kelima, Syaikh Ibnu Athaillah begitu pedas mengingatkan satu soal ini: kita seringkali melupakan sesuatu yang sebenarnya perlu kita usahakan sebagai tujuan akhir dan terlalu biasanya kita mencari yang sebenarnya telah dan akan Allah Swt berikan.

Bagi saya sendiri, ini subjektif saya pribadi, pesan yang paling menyindir―tentu untuk diri saya―adalah mengenai soal “keteledoran terhadap apa yang dituntut darimu”. Ini mengenai apa yang perlu kita usahakan sebagai tujuan akhir hidup kita. Ini adalah tentang bagaimana menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah “masa kerja” kita habis di dunia. Ini adalah tentang menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Ringkasnya seperti itu. Dan, kerapkali manusia terlupa akan tujuan sebenarnya. Kita, dan saya pribadi khususnya, kerap lalai terhadap bekal yang perlu disiapkan, sementara proses pencarian dunia terlalu jauh merasuk dan menghabiskan energi dari pikiran sampai fisik.

Besarnya rasa khawatir akan masa depan atau nasib mengenai hari-hari esok atau yang akan datang telah membuat sebagian besar pikiran dan fisik kita fokus pada materi. Bahkan, ada yang sampai harus mengakhiri hidupnya “secara paksa”.

Seolah-olah kita sedang lupa akan firman Tuhan yang begitu populer dan kerap dibacakan di shalat-shalat wajib oleh imam, “Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan…”

Meski kitab ini (baca: Al-Hikam) lebih familiar di kalangan santri atau pondok pesantren, namun bagi manusia dan dunia modern kitab ini sungguh berharga untuk dikaji. Setidaknya untuk selalu mengingatkan perjalanan hidup kita di sini, kini, dan nanti.

Buku-buku yang memiliki tema-tema tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) juga demikian. Rasanya, kita perlu sedikit merogoh kocek untuk mengoleksi buku-buku semacam ini. Dari mulai yang tipis-tipis dulu saja. Baca saja setiap hari satu penggalan petuah layaknya kita sedang meminta nasihat kepada orang lain. Semoga dengan itu, hati kita akan terus lembut dan hidup. []

Viki Adi N

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *