Jebakan Panggung

Jebakan “panggung” adalah jebakan paling dahsyat yang secara berangsur-angsur mampu meruntuhkan kesuksesan seseorang. Jebakan ini begitu halus. Mungkin juga, malah tersembunyi. Ya, namanya saja jebakan. Kalau terlihat, tentu namanya bukan jebakan.

Seorang dai, ustadz, trainer, mentor, dan beragam macam penyebutan sejenis misalnya, dikarenakan bagus dalam menyampaikan suatu materi, ceramah, kajian atau kuliah umum, akhirnya ia diundang kemana-mana. Nah, jebakan panggung mulai mengintai di sini. Semakin lama, ia semakin terkenal. Ceramah dimana-mana. Waktunya hampir sebagian terkuras untuk mengisi.

Pertama, jebakan panggung mengintai sisi kualitas dari seorang dai atau trainer tersebut. Jika ia tak pernah meningkatkan kualitas “isi”-nya, “karirnya” pasti akan segera berakhir. Keterlenaan telah membuatnya nyaman. Merasa nyaman yang dibiarkan berlarut-larut akan membawa dirinya pada suatu titik pemberhentian. Titik itu telah dirasa olehnya sebagai puncak. Akibatnya, ia berhenti. Ia merasa sudah pandai, hebat, berkualitas. Semua sudah ia dapatkan. Jika ini dibiarkan, kita akan tahu sendiri jawabannya.

Kedua, jebakan panggung juga mengintai sisi eksternal keberpengaruhannya. Kasus ini jamak terjadi. Misalnya, masih banyak pelajar Muslim yang ternyata tidak mengerjakan sholat wajib (lima waktu). Bahkan, sampai ada yang sudah lupa bagaimana tata caranya. Dan, bagaimana jadinya jika kasus ini terjadi di lingkungan Sang dai itu tinggal?

Kita pasti jadi berpikir yang tidak-tidak. Buat apa susah-susah berceramah kemana-mana, tapi ternyata orang-orang terdekat di sekitar justru terlupakan? Meski kita yakin, kalau ceramah yang dilakukannya itu pasti tak akan sia-sia. Allah Swt yang akan membalasnya. Hanya saja, ini menjadi evaluasi besar. Mungkin bukan hanya bagi Sang dai tersebut, namun bagi kita selaku umat Muslim.

Kita coba ke kasus yang lain. Tak usah jauh-jauh. Kita bahas mengenai dunia tulis menulis saja, meski sepertinya saya pernah mengulas ini di buku Jalan Berliku di Balik Sebuah Buku. Ini soal penulis. Sudah banyak penulis yang ketika melahirkan buku pertama cukup boom, tetapi tak ada kelanjutan kabarnya seperti apa. Maksudnya, konsistensi dia untuk menulis akan dipertaruhkan pada tulisan-tulisan berikutnya. Entah berupa buku lagi atau tulisan-tulisan yang terus diproduksi melalui laman-laman jagad maya yang bisa diakses publik.

Jika ia merasa telah besar setelah karya pertama itu dan tak pernah belajar lagi, artinya jebakan panggung telah berhasil merasuk. Ia akan berhenti di suatu titik yang menurutnya, itu adalah puncak. Zona nyaman telah diraihnya. Ia lupa kalau banyak penulis lain yang lebih rajin dan lebih serius. Titik itu pada akhirnya akan dilalui oleh orang lain. Ketika ia keluar, ia baru sadar bahwa dirinya telah tertinggal jauh. Sisi internal dan eksternal dari penulis terkena dampaknya sekaligus.

Jebakan panggung akan mengincar siapa saja dan dimana saja. Tak peduli siapapun orangnya. Tak peduli apapun profesi dan karirnya. Ia mengincar sisi keikhlasan di satu sisi. Sementara di sisi lain, ia melalaikan dari hal-hal yang lebih prioritas.

Semoga kita selalu memiliki waktu untuk terus mengevaluasi diri beserta apa yang sedang kita lakukan saat ini dan yang akan datang. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *