Haji Salihun: Perspektif Kolonial dalam Memandang Seorang Haji

Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com

Bagi orang Betawi kisah Nyai Dasimah mungkin salah satu dari sekian banyak kisah yang popular di tanah Betawi. Kisah ini bercerita tentang seseorang bernama Nyai Dasimah yang merupakan Nyai atau Gundik orang Inggris bernama Tuan Edward.

Kisah Nyari Dasimah ini cukup popular di Betawi bahkan dalam beberapa kesempatan sering dijadikan pementasan drama hingga sebuah film. Konon Nyai Dasimah digambarkan sebagai seorang Nyai yang cantik dan kaya. Kedudukan ini dia peroleh karena menjadi simpanan seorang Belanda. Fenomena yang cukup lumrah di zaman tersebut.

Pada masa kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa orang-orang Belanda yang tidak bisa mengajak istri ke tanah jajahan memiliki kebiasaan mencari gundik atau nyari untuk jadi teman hidupnya. Terlepas dari apa yang terjadi ini, kelak dari sinilah asal-usul orang-orang Indo-Belanda muncul.

Kekayaan dan kecantikan dari Nyai Dasimah ini akhirnya sampai ke telingan seorang pribumi bernama Samiun yang sudah memiliki istri. Samiun yang digambrkan sebagai sosok mata keranjang ini kemudia berkonsultasi dengan seorang Haji bernama Haji Salihun yang juga merupakan dukun pelet.

Untuk melancarkan aksinya juga Samiun kemudian mengutus Mak Buyung untuk membujuk Nyai Dasimah agar pisah dengan Tuan Edward yang menjadi tuannya. Nyari Dasimah juga dibisikkan bahwa dia sudah berdoa karena menjadi simpanannya orang kafir.

Untuk menembus dosanya Nyai Dasimah dibujuk oleh Samiun untuk sama-sama belajar agama Islam bersama Haji Salihun dan menikah dengan Samiun. Ketika sudah menikah harta kekayaan Nyai Dasimah yang diberikan oleh Nyari Dasimah kemudian dikuras habis oleh Samiun dan Ibunya.

Di akhir kisah sosok Nyai Dasimah ini kemudian meninggal karena dibuh oleh Samiun. Dalam drama yang disodorkan pula terdapat karakter Haji Salihun yang memberikan saran bahwa membunuh Nyai Dasimah tidaklah berdosa jika Samiun berangkat haji ke Mekkah.

Dalam perspektif kolonial kisah ini seringkali dipentaskan dalam berbagai drama di zaman tersebut. Bahkan ini menjadi salah satu kisah yang cukup popular dimainkan. Namun, dari sisi yang lain penggambaran sosok Haji Salihun dan Agama Islam yang cenderung dibuat dalam perspektif negative tentu menjadi sebuah permasalahan.

Kesan subyektif dari G. Francis sebagai penulis kisah tersebut memberikan gambaran bagaimana orang-orang Belanda melihat Islam dan sosok seorang haji. Bagi orang Belanda tentu gambaran ini sangatlah wajar, dikarenakan sosok seorang haji dan Islam seringkali melakukan perlawanan terhadap orang-orang Belanda.

Bahkan, hingga masa Kemerdekaan Indonesia, peran dan para haji dan ulama dalam membangkitkan perlanwan terhadap kaum penjajah sangatlah kental. Sehingga sangat wajar jika Islam dan haji menjadi sasaran propaganda negative yang dilancarkan oleh orang-orang Belanda.

 

Foto: Samioen pacifying his wives Hajati and Dasima after a fight in a scene from Dasima (1940)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *