Kita dan Dunia Ke Depannya

Akhirnya, sedikit demi sedikit dan berangsur-angsur kebijakan mengenai pandemi atau wabah yang tengah menimpa dicabut. Penggunaan Antigen dan PCR di sebagian kendaraan umum, memakai masker di luar ruangan, dan beragam macamnya yang dulu benar-benar ketat kini semua mulai dicabut atau dilonggarkan. Begitu juga pertemuan-pertemuan yang telah dibuka seperti layaknya sebelum ada pandemi.

Namun, beberapa tahun pandemi telah mengubah kebiasaan kita selaku manusia. Sadar atau tidak sadar nyatanya begitu. Bahkan pada kasus tertentu justru mempercepat perubahan. Akibatnya, sebagian “kebiasaan” pada saat pandemi menjadi semacam kultur yang kita menganggapnya biasa setelah terasa mulai surut. Jual beli online misalnya. Sebelum pandemi menerpa, lajunya memang sudah besar. Namun ketika pandemi dan kebijakan yang ketat diberlakukan, kegiatan ini semakin merubah kebiasaan yang ada dan terus membesar. Penjual-penjual yang tadinya tetap “kekeh” untuk membuka toko (secara offline) di kios mau tak mau harus menggelar lapaknya di marketplace (online). Pelapak yang gulung tikar tak mampu membayar kios pun segera beralih dengan menyulap rumah atau kontrakan menjadi sebuah toko online. Keadaan telah memaksa mereka beralih.

Dengan adanya transaksi online, maka pembayaran mau tak mau juga online. Saya yakin, kini kalian jarang sekali menyimpan uang dalam bentuk cash di dompet dalam jumlah banyak. Mungkin uang dompet itu telah terbagi-bagi di e-wallet yang berbeda-beda nama aplikasinya.

Begitu juga di dunia pendidikan, misalnya. Mau tak mau akhirnya para pendidik harus bisa menyampaikan bahan materi melalui aplikasi (online). Padahal, semasa menempuh pendidikan guru, jarang sekali bahkan hampir belum ada materi keguruan yang berkaitan dengan bagaimana mengelola kelas secara daring misalnya. Bukankah ini sesuatu yang baru? Akhirnya, guru, sekolah, instansi pendidikan, semua berkreasi dengan sebaik-baiknya. Baru setelah problem ini menjangkit, seminar-seminar, pelatihan, atau kajian mengenainya turut hadir mewarnai perbincangan para pendidik dan pemangku kebijakan. Legasinya, meski pandemi sudah mulai surut dan sekolah-sekolah sudah mulai masuk kembali, pembelajaran daring masih tetap digunakan di sebagian institusi pendidikan. Semacam hybrid lah istilahnya. Bahkan, mungkin ke depannya akan tetap ada institusi yang mempertahankannya.

Kita baru mengulas beberapa bidang saja di kesempatan ini. Padahal, semua bidang telah sedikit banyak terpengaruh oleh pandemi. Semua “dipaksa” berubah. Perubahan-perubahan itu setidaknya memaksa kita untuk terus berpikir dan mencari alternatif-alternatif baru pada apa yang sedang kita tekuni. Sekali kita tertinggal dan tak mau berinovasi, pasti habis sudah. Namun, kini persoalannya adalah, apakah kita telah punya sesuatu yang ditekuni? Jika ini tak bisa kita jawab dengan baik, maka berbahaya.

Profesional dengan apa yang kita tekuni adalah barang wajib dalam dunia yang serba absurd di masa ini. Kemampuan (skill) dan akhlak adalah dua hal yang perlu dimiliki, apapun profesi kita. Dalam Fikih Tamkin misalnya, Prof. ash-Shallabi telah menyebutkan bahwa salah satu cara untuk mempersiapkannya―yakni, Tamkin: kemenangan―adalah bagaimana tiap seorang Muslim harus memiliki kepakaran atau keprofesionalan dalam bidang yang ditekuninya. Sayangnya, agen-agen pewaris dan perubahan bangsa―kita menyebutnya dengan mahasiswa―, sebagiannya masih absurd dengan apa yang akan dilakukannya ke depan. Mungkin, pikirnya hal semacam itu baru dipikirkan pasca lulus. Meski setelah lulus, bingung juga akhirnya.

Tapi, tak ada yang namanya terlambat. Mengingat saya juga termasuk orang yang terlambat sebenarnya. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Setidaknya untuk memberi pesan kepada yang lain. Kini, selagi kita masih diberi waktu dan “masa kerja” di dunia, kesempatan tetaplah ada. Kalau tak mulai dari sekarang, mau kapan lagi? Begitu kira-kira tutur para motivator. Saya hanya sedikit mengulang saja. Entah telah berapa kali tulisan mengenai ini saya buat. Yakusa! []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *