Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com
Sudah bukan rahasia umum bahwa Mekkah dan Madinah menjadi daya tarik orang untuk menuntut ilmu terutama tentang agama Islam. Bukan hanya karena dua kota ini merupakan kota suci, namun juga dipercaya sebagai pusat kajian keislaman di dunia.
Penyebaran Islam ke berbagai negara termasuk Indonesia, agak menarik minat banyak penduduk. Selain karena syarat-syaratnya yang mudah, namun juga karena penyebarannya yang dilakukan dengan cara yang lemah lembut bagi penduduk lokal.
Seiring penyebaran agama Islam di Indonesia atau Nusantara kala itu membuat perjalanan ke Tanah Suci Mekkah semakin ramai. Dikarenakan banyaknya jumlah penduduk lokal yang pergi berangkat haji. Tidak hanya berangkat haji, banyak dari para jamaah haji tersebut yang akhirnya menetap di Mekkah untuk melanjutkan menuntut ilmunya.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad-20 dikatakan bahwa ada sekitar 10 hingga 20 persen jamaah haji yang ada merupakan jamaah haji asal Indonesia. Bahkan tepat pada tahun 1920- an ada sekitar 40 persen dari total jamaah haji yang ada merupakan jamaah haji asal Nusantara atau Indonesia.
Tingginya jumlah jamaah haji yag berangkat tentu bukan tanpa sebab. Seiring dengan penyebaran agama Islam yang massif membuat banyak penduduk lokal yang akhirnya memeluk agama Islam. Dari sinilah akar mula tingginya keinginan jamaah Indonesia untuk melakukan ibadah haji ke Mekkah.
Dari sisi penggunaan akomodasi tentu tidak bisa dibayangkan seperti akomodasi hari ini, menggunakan pesawat atau kapal laut modern. Di awal-awal kedatangan Islam para penduduk yang ingin berangkat haji harus bersusah payah menumpang di perahu-perahu layar. Sehingga jangan heran, jika di zaman tersebut perjalanan haji diibaratkan seperti perjalanan yang megorbankan hidup dan mati.
Karena besar kemungkinan bahaya yang dihadapi, seringkali anggota keluarga yang mengiringi kepergiaan keluarganya sudah menaruh ikhlas jika sewaktu-waktu anggota keluarga mereka tak kembali ke Nusantara. Resiko terjadinya badai, perompakan, hingga meninggal di tengah perjalana sangatlah tinggi. Namun, hal ini tidak menyurutkan para jamaah haji asal Nusantara atau Indoesia untuk menunaikan kewajiban rukum Islam yang kelima ini.
Sebagi dari jamaah haji yang berangkat ke tanah suci tak kembali ke Nusantara, mereka menetap sementara untuk menimba ilmu dari para ulama-ulama di Mekkah. Bahkan, dalam satu waktu para jamaah haji asal Indonesia ini menjadi salah satu komunitas masyrakat yang cukup banyak di Mekkah.
Beberapa tokoh-tokoh yang sudah kembali ke Nusantara ini kelak menjadi pihak-pihak yang berpegaruh dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. ulama-ulama yang sudah menimba ilmu di Mekkah ini kemudian menyebarkan ajaran Islam bahkan mendirikan pusat pendidikan Islam di Nusantara. Adapun beberapa tokoh yang terkenal adalah K.H. Hasyi Asyhari dan K.H. Ahmad Dahlan yang kemudian menjadi ulama masyhur di Nusantara.
Tidak terbatas pada penyebaran agama Islam saja, ulama-ulama yang sudah menimba ilmu di Mekkah ii adapula yang sebagai menggalang perlawana terhadap Belanda. Tokoh-tokoh yang sudah berangkat haji ke Mekkah memang tak jarang sudah berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai negara, sehingga muncullah pemikiran-pemikiran yang revolusioner. Salah satu bukti perlawanan tersebut seperti Pemberontakan Petani Banteng di tahun 1888. Sebenarnya pemberontakan ini terjadi dari berbagai rangkaian perlawanan dan ulama-ulama di Banteng waktu itu menjadi tokoh yang getol memperjuangkan perlawanan.
Tidak hanya Pemberontakan Petani Banten, ulama-ulama yang mendirikan pondok pesantren dan para santri juga turut menjadi pihak yang memperjuangkan perlawanan terhadap penjajah kolonial. Peran dan kontribusi para ulama dan santri-santri di Nusantara menjadi salah satu faktor yang cukup berart bagi Kemerdekaan Indonesia.
Semua perubahan tersebut bermula dari tradisi keilmuan dan naik haji para ulama di Nusantara ke Tanah Suci Mekkah. Kelak, hal ini pun menjadi faktor yang penting bagi penyebaran Islam Indonesia di era modern ini. Banyak tokoh-tokoh yang melanjutkan tradisi keilmuan ke luar Indonesia, nakun tidak hanya ke Mekkah atau Madinah, melainkan ke negara-negara lain sepeti Turki.

