K.H. Zainah Mustofa: Perlawanan Seorang Haji di Masa Pendudukan Jepang

Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com

Pergantian kekuasaan dari Pemerintahan Belanda ke Pemerintahan Jepang seolah-olah menjadi angina segara bagi kaum pribumi di Nusantara. Bukan, hanya karena Jepang dianggap sebagap saudara tua Asia, namun juga karena banyak program-program Pemerintahan Jepang yang seringkali mendapat dukungan tokoh-tokoh kharismatik pejuang kemerdekaan waktu itu.

Program Pemerintah Jepang yang mendapatkan dukungan waktu itu adalah sistem kerja Romusha yang mendapatkan dukungan bahkan promosi langsung dari Sukarno. Sayangnya, janji-janji yang diberka oleh Pemerintahan Jepang, tidak mudah untuk terealisasikan. Gelagat tidak baik Jepang tidak bertahan lama, banyak organisasi-organiasasi Islam yang akhirnya dibubarkan dan mendapatkan pengawasan ketat.

Pengawasan yang diberikan Pemerintahan Jepang tidak hanya terhadap organiasasi-organisasi Islam, namun organisasi-organisasi yang didirikan oleh pribumi. Fakta-fakta inilah yang kemudian membuat banyak organiasi-organisasi sempat mengalami kevakuman di zaman pendudukan Jepang.

Tidak hanya itu, banyak pula kebijakan Jepang yang kemudian dianggap bertentangan di Nusantara, salah satunya adalah kebijakan Seikerei atau penghormatan terhadap Dewa Matahari. Ritual ini dilakukan dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit atau Kaisar Jepang yang dianggap titisan Dewa Matahari.

Kebijakan ini mendapatkan banyak pertentangan dari ulama-ulama di Nusantara. Salah satu tokoh yang gencar melakukan perlawana terhadap kebijakan ini adalah K.H. Zainal Mustofa dari Tasikmalaya. Beliau dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1899 di Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau lahir dengan nama kecil Hudaemi. Nama Zainal Mustofa beliau terima ketika naik haji pada tahun 1927.

K.H. Zainal Mustofa adalah seorang Kiyai muda yang revolusioner dan tidak segan-segan menentang kolonialisme Belanda dan penjajahan Jepang. Ketika Jepang masuk ke Nusantara, K.H. Zainal Mustofa yang sempat ditahan Belanda, kemudian dibebaskan oleh Jepang. Harapannya adalah agar K.H.Zainal Mustofa membantu Pemerintahan Jepang.

Setelah dibebaskan oleh Pemerintahan Jepang, K.H. Zainal Mustofa justru melakukan pemberontakan karena menentang kebijakan Seikerei. Bersama santri-santri yang beliau bina K.H. Zainal Mustofa melakukan perlawanan terhadap Jepang. Melalui khotbah-khotbahnya yang menentang Pemerintahan Jepang. Akibat ceramah-ceramahnya yang dianggap provokatif akhirnya Pemerintahan Jepang menangkap K.H.Zainal Mustofa bersama dengan pengikut-pengikutnya. Peristiwa tersebut memicu bentrokan dengan pengikut K.H. Zainal Mustofa yang kelak dikenal dengan Persitiwa Singaparna.

Peristiwa Singaparna tersebut membuat K.H. Zainal Mustofa ditangkap dan dieksekusi bersama dengan para pengikutnya di Jakarta. Dari sisi akidah atau keyakinan K.H. Zainal Mustofa memandang bahwa tradisi Seikerei ini merupakan tindakan yang dapat merusak akidah dalam Islam.

Dari sisi keyakinan tindakan K.H. Zainal Mustofa dan para Ulama dalam menentang tradisi Seikerei merupakan tindakan yang seharusnya diambil, walaupun dari sisi resiko sangat tinggi. Para ulama terutama haji menjadi lentera bagi masyarakat yang kebingungan. Peran dan kontribusi yang diberikan oleh K.H. Zainal Mustofa inilah yang membuat beliau dikenal sebagai Pahlwanan Nasional Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *