Haji Misbach: Penganut Islam Merah dan Komunis Hijau

Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com

Haji Misbach atau yang bernama lengkap Mohammad Misbach adalah seorang tokoh revolusioner yang unik. Dalam sebuah buku karya Soe Hok Gie yang berjudul Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Haji Misbach dijuluki sebagai seorang Haji Revolusioner.

Haji Miscbach dikenal sebagai seorang penganut islam yang kuat, namun di sisi yang lain beliau juga seorang penganut setia komunisme. Sebuah perpaduan yang sangat jarang ditemukan baik dulu maupun sekarang.

Haji Miscbach merupakan seseorang yang memiliki sikap antikolonialisme dengan cara mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dan komunisme untuk menentang penindasan kolonial Belanda. Perjuangan dalam menentang kolonialismenya sangat kentara jika dilihat melalui retorika-retorika yang dilontarkannya.

Haji Misbach atau yang memiliki nama kecil Ahmad belajar pertama kali di sebuah pondok pesantren. Selepas dari pondok pesantren dia melanjutkan belajarnya di sekolah Bumiputra Ongko Loro. Melalui pendidikan keagamaan dan umum inilah pola pikir Ahmad mulai terbentuk.

Selepas menempuh pendidikan dari sekolah Bumiputra Ahmad melanjutkan bisnis ayahnya yaitu di bidang perbatikan. Usahanya maju sehingga bisa dibilang menjadi salah satu pebisnis sukses.

Sayangnya kegiatan bisnis yang dia jalani ternyata tidak membuat hatinya puas. Haji Misbach justru tertarik terhadap kondisi politik dan gejolak sosial di Hindia Belanda waktu itu. Terutama terhadap hal-hal yang berbau perlawanan terhadap Pemerintahan Hindia Belanda.

Memasuki usia dewasa beliau yang awalnya bernama Ahmad berganti menjadi Darmodiprono. Kala itu beliau sudah menikah dengan seorang perempuan. Ketika itu beliau memutuskan untuk pergi berhaji dan selepas dari kepulangannya namanya menjadi Mohammad Misbach.

Ketertarikan Haji Misbach dalam ideology kiri semakin kuat ketika beliau bergabung dalam Indische Journalist Bond, sebuah media massa bentukan Syarekat Islam. Dari balik meja redaksi inilah Haji Misbach melontarkan gagasan-gagasan perlawanannya terhadap kolonialisme.
Retorika-retorika yang dikeluarkan oleh Haji Misbach tidak jarang akhirnya membuat Haji Misbach dikejar-kejar pemerintahan kolonial. Sehingga akhirnya membuat Haji Misbach dijebloskan ke penjara. Selama dalam tahanan inilah beliau berinteraksi dengan para aktivis Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), embrio Partai Komunis Indonesia (PKI). Dari dalam penjara Misbach mulai mengenal marxisme.

Dipenjaranya Haji Misbach ini merubah banyak pemikirannya terutama dalam memandang persoalan politik waktu itu. Setelah bebas dari penjara Miabach kemudian bersama dengan pendukungnya mengambil alih Medan Moeslim dan Islam Bergerak. Konflik inilah yang melahirkan ketidakharmonisan antara Misbach dan oragnisasi-organisasi Islam waktu itu.

Haji Misbach memang orang yang sangat antidengan kapitalisme. Menurut Haji Misbach kapitalis adalah kaum yang serakah dan suka menebar kezaliman. Kapitalis membuat banyak orang menderita dan kaum ini haruslah diperangi. Pandangan ini disampaikan dengan turut mengutip Surah An-Nisa Ayat 75 yang berisi anjuran untuk melawan kezaliman.

Berbekal dari pandangan-pandangan inilah Haji Miabach dikenal sebagai seorang Islam-Komunis. Haji Misbach muncul sebagai seorang agitator yang handal dalam menentang kolonialisme dan kapitalisme terutama di Indonesia. Bagi Misbach sudah menjadi sebuah kewajiban bagi seorang muslim untuk menentang kapitlisme dan kezalimannya. Sama seperti komunisme yang menentang tindakan-tindakan kapitalisme.

Terlepas dari pandangannya yang penuh dengan kontriversi Haji Misbach menjadi salah satu sosok haji yang konsisten dalam menentang kapitalisme di Indonesia. Meskipun, ide-ide yang dilontarkan oleh Haji Misbach seringkali mendapatkan pertentangan dari banyak orang namun, tidak bisa dipungkir Haji Misbach sudah berjasa dalam menggalang perlawanan terhadap kolonalisme.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *