Kisah Cinta Tan Malaka: Sebuah Epilog, Tanpa Prolog

Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com*

Kisahnya tak pernah dimulai, tetapi semuanya berakhir selesai. Mungkin adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kisah cinta Tan Malaka. Seorang revolusioner yang menghabiskan sebagai besar hidupnya dengan berpindah-pindah tempat tinggal. Perpindahannya ini tentu bukan tanpa sebab, demi menghindari kejaran agen-agen yang berusaha menangkapnya.

Tan Malaka mungkin salah satu dari sekian tokoh sejarah yang memutuskan untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya. Namun, bukan berarti dengan melajangnya Tan Malaka dia tidak memiliki kisah cinta. Tan Malaka tetap pernah jatuh cinta, walaupun kisah cinta yang dijalaninya lebih mirip dengan cinta tak sampai.

Kisah cinta pertamanya dimulai ketika lelaki yang bernama Ibrahim ini berada di Kweekschool, Bukittinggi. Dia jatuh cinta dengan seorang gadis cantik bernama Syarifah Nawawi. Kisah cinta pertamanya ini kemudian harus kandas, karena Tan Malaka dihadapkan pada pilihan sulit dari kedua orang tuanya. Pilihannya adalah Ibrahim harus menyandang gelar Datuk atau menikah dengan gadis piliha orang tuanya.

Dua pilihan tersebut adalah pilihan yang sulit bagi seorang Ibrahim waktu itu. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk memilih pilihan yang pertama yaitu menerima gelar Datuk. Sejak saat itu Tan Malak dikenal sebagai datuk Tan Malaka. Sejak gelar tersebut dia terima Tan Malaka kemudian melanjutkan pendidikannya ke Belanda meninggalkan pujaan hatinya. Sekian lama tak berjumpa Tan Malaka mendapatkan kabar jika Syarifah Nawawi dilamar oleh seorang Bupati Cianjut, walaupun kemudian berakhir dengan perceraian.

Gagalnya kisah cinta Tan Malaka dengan Syarifah membuat hidup Tan Malaka sebagian besar dihabiskan dengan hidup sendiri. Walaupun ada beberapa wanita yang sempat singgah di hatinya, nakun tak pernah berakhir dengan pelaminan. Ketika di Belanda Tan Malak dikabarkan sempat dekat dengan seorang perempuan bernama Fenny Struijvenberg. Walaupun hubungan mereka tampak tak jelas, mereka dianggap memiliki hubungan yang dekat.

Kisah cinta Tan Malaka yang selanjutnya terjadi ketika Tan Malaka tinggal di Manila, Filiphina. Dikabarkan bahwa Tan Malaka sempat jatuh cinta dengan seorang perempuan, anak seorang petinggi universitas disana. Namun, lagi-lagi kisah cinta Tan Malaka harus kandas, karena dia kemudian ditangkat oleh agen intelejen Amerika Serikat dan terpaksa dideportasi dari Filiphina.

Tan Malaka kemudian berpindah ke Tiongkok, di sebuah desa terpencil. Selama disana Tan Malaka sedang dalam keadaan sakit dan tidak memiliki uang. Dikisahkan bahwa selama sakitnya Tan Malaka sempat dirawat oleh seorang perempuan Tiongkok, meskipun tak dijelaskan hubungannya seperti apa.

Kedekatan Tan Malaka yang lainnya adalah ketika Tan bertemu deorang seorang gadis berusia 17 tahun dengan inisiap “AP”. Gadis. Gadis berinisial AP ini tidak pernah dijelaskan nama lengkapnya. Kedekatan mereka berdua dikarenakan Tan Malaka sering mengajari gadis itu bahasa Inggris. Tidak sampai disitu Tan Malaka juga menjadi tempat curhatan bagi gadis tersebut.

Kisah Tan Malaka dengan gadis berinisial AP ini pun berakhir ketika Tan Malaka harus berpindah ke Singapura. Ketika di Singapura Tan Malak tidak pernah dikabarkan memiliki hubungan cinta disana. Hanya saja, Tan Malaka sempat menjadi seorang guru di sebuah sekolah.

Selama di pelariannya Tan Malaka barulah pada tahun 1945 dia bisa menampakkan diri terang-terangan di Indonesia. Di Indonesia sendiri Tan Malaka sempat terpikat dengan keponakan sahabat lamanya, Ahmad Soebardjo yang bernama Paramita Abdurrachman.

Meskipun dikabarkan hubungannya sangat dekat, namun aktivitas Tan Malaka dalam bidang politik membuat perhatiannya banyak terfokus pada perjuangan Indonesia. Paramita menjadi gadis terakhir yang mengisi kisah cinta Tan Malaka selama hidupnya.

Kisah hidup Tan Malaka memang sebagian besar dihabiskan untuk memperjuangkan Indonesia. Tan Malaka harus lari dari satu negara ke negara yang lain baghkan sebagai buronan. Kisah hidupnya inilah yang membuat tak ada waktu bagi Tan Malaka untuk memiliki kehidupan percintaan hingga ke pelaminan. Terlepas dari paham yang diyakini Tan Malaka, dedikasinya dalam memperjuangkan Indonesia termasuk mengenalkan konsep Republik Indonesia, bukanlah sumbangsih yang kecil. Kelak, ide dan gagasan inilah yang membuat Tan Malaka lebih sering dijuluki sebagai “Bapak Republik”.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *