Dalam banyak kesempatan sering kali kita mendapatkan pesan atau nasihat untuk meluruskan niat dalam melakukan sesuatu. Yakni memurnikan niat dengan meninggalkan orientasi selain Allah. Bahkan saking pentingnya kedudukan niat, para ulama terdahulu sering menuliskan bab niat ini di awal pembahasan. Seolah-olah terdapat pesan tersendiri kepada para pembaca dan pelajar untuk menjadikan niat ini sebagai kunci dalam menjalani kehidupan.
Berulang kali kita membaca dan mendengar nasihat untuk memurnikan niat. Namun, tak jarang kita masih melakukan sesuatu dengan niat yang salah. Terkadang niat itu bukan karena Allah tapi karena sesuatu yang lain, entah itu karena manusia, uang, kedudukan dll. Intinya bukan karena Allah Swt. Padahal kalo kita tahu dan meniatkan aktifitas kita dengan niat ibadah, tentu tak hanya dunia yang kita dapat tapi pahala akhirat juga akan menanti.
Sebagai seorang muslim kita terus berupaya untuk jadi lebih baik, apalagi soal memperbaiki niat. Niat yang baik adalah niat yang dibarengi dengan ilmu. Kenapa seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu? untuk apa sebenarnya?. Dalam salah satu kajiannya, K.H Nandang Qusyaeri, S.H pernah berkata “Kenapa kita harus mengaji?”. Beliau melanjutkan” Tentu agar kita tahu, ibadah kita itu diniatkan untuk siapa”. Jadi, memurnikan niat juga harus dibekali dengan ilmu yang baik. Artinya ketika kita terus belajar, kita tahu bahwa hakikat hidup ini untuk Allah. Sehingga seluruh aktifitas kita diniatkan untuk Allah. Lalu pertanyaannya, sudah betulkah niat kita selama ini?
“Sesungguhnya segala sesuatu tergantung niatnya”. Inilah yang menjadi kunci dalam kehidupan ini. Ada orang bekerja selama 20 tahunan lebih, dia mendapat harta, mobil, uang, rumah dsb. Namun dalam hatinya terasa hampa, tidak pernah puas, dan tidak ada kenikmatan. Terlebih lagi dia sering meninggalkan sholat. Kisah-kisah seperti itu mungkin sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa bisa seperti itu? Bisa jadi karena niat bekerjanya belum sempurna, belum meniatkan untuk ibadah. Tentu hal ini sangat merugikan dirinya, ia dapat gaji, tapi ia tak dapat pahala. Ia dapat dunia, tapi ia tak dapat akhirat. Tentu sangat rugi.
Dalam kaitannya menuntut ilmu misalnya, apakah menuntut ilmu harus menjadikan seseorang menjadi a, b, atau c?, terutama soal orientasi. Mempunyai cita-cita itu baik, tapi jangan sampai lupa dengan nilai ibadahnya. Dan menjadi siapapun atau profesi apapun adalah karunia dari Allah swt. Jadi, niat kita tetap harus karena Allah, sehingga tidak ada kekecewaan dengan apa yang telah kita miliki. Dengan begitu, kita memaknai ayat _’wama khalaqtuljinna wal insan illa liya’buduun’_ itu dengan benar. Karena segala sesuatu menjadi bernilai ibadah ketika kita niatkan dengan benar.
Memperbaiki niat yang murni bukanlah perkara yang mudah. Tulisan ini pun menjadi pengingat untuk penulis. Tak jarang lisan atau hati kita sudah mengatakan niat karena Allah. Tapi belum tentu saat melakukannya hati kita tetap kokoh dengan niat murni itu, bisa saja hati kita justru disusupi oleh sesuatu yang lain. Maka dari itu kita terus berupaya untuk saling mengingatkan.
Manusia yang baik adalah manusia yang tak pernah puas akan kebaikan. Ia selalu merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Dia selalu merenungi niat dan tujuan hidupnya. Maka ia selalu bertanya kepada diri sendiri “sudah betulkah niatku selama ini?” Maka ia tak pernah bosan untuk terus belajar. Belajar tentang hidup. Belajar mengenal dirinya. Dan juga belajar mengenal niat hidupnya. []
Akhmad Suhrowardi
