Hati Islam Bung Karno dalam Rumusan Kemerdekaan

Oleh: Salman Al Farisiy

 

Pendahuluan

Dalam konteks Indonesia, perenungan mengenai kemerdekaan dapat membawa kita pada fenomena seteru dua kalangan yakni Nasionalis Islamis dan Nasionalis Sekuler. Kalangan Islamis berkeyakinan bahwa dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya maka Masyarakat Islam Indonesia dapat dinyatakan sebagai merdeka. Kalangan Sekuler yang notabene juga Muslim berpendapat bahwa agama tidak perlu menjadi legal formal, cukup dengan kebebasan beragama secara individu maka masyarakat Muslim Indonesia dapat dikatakan merdeka. Perseteruan ini berpunca pada benturan-benturan horizontal di tataran akademis, bangku politik, dan media.

Seteru tersebut memberikan cap kepada Soekarno, bahwa sebagai Founding Father ia dituduh tidak membawa spirit Islam dalam merumuskan weltanschaung kemerdekaan. Islam sebagai nilai luhur bangsa telah dipinggirkan dari dasar Negara. Namun apakah klaim itu seluruhnya benar? Nyatanya, pada hari ketiga sidang BPUPKI dalam merumuskan kemerdekaan, Soekarno bersaksi bahwa “Apabila Saudara dapati saya punya hati, maka tidak lain tidak bukan hati saya adalah hati Islam. (1)

 

Konsep Kemerdekaan menurut Soekarno

Dalam pidatonya di hadapan peserta sidang, Soekarno membuka dengan pernyataan bahwa tokoh-tokoh lain terlalu bertele-tele dalam merumuskan kemerdekaan Indonesia. Mereka membahas soalan rinci seperti syarat-syarat materiil kemerdekaan, tahapan-tahapan seperti tercapainya kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Menurut Soekarno, pembahasan tersebut tidak diperlukan dalam merumuskan kemerdekaan, “Di dalam kemerdekaan itulah kita menyehatkan Bangsa kita, di dalam Indonesia merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat. Soekarno menyatakan bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas bagi tujuan bangsa, maka harusnya merdeka dahulu baru tujuan dapat tercapai.(2)

Betul, jelas bagi Soekarno menyatakan kemerdekaan bukanlah akhir, ia adalah jembatan. Kemerdekaan tidak difahami sebatas “keadaan dimana seseorang mampu lepas dari kungkungan” namun lebih dari itu, kemerdekaan adalah jalan awal dari kemandirian. ‘Penentuan’ itu ditentukan sebelum kita mampu mempunyai kehendak menentukan. Kita tidak akan heran bahwa Soekarno selalu berteriak “revolusi belum usai!” apabila kita betul-betul memahami konsep kemerdekaan Soekarno.

Sejalan dengan hal diatas, seseorang haruslah dapat menentukan sesuatu sebelum ia mempunyai kehendak menentukan. Seseorang harus merancang start nya agar larinya kencang. Kemerdekaan Indonesia bukan hanya jembatan menuju cita-cita, namun ia adalah “Jembatan Emas”. Maka perencangan ini harus punya dasarnya yang kokoh, dasarnya yang “emas”, dasarnya yang spesial nan khas Indonesia.

Digalilah dasar itu, dipersiapkannya ia selama 16 tahun oleh Soekarno. Melalui perenungan-perenungan, melalui observasi langsung maupun kepustakaan, melalui pendekatan ilahiah dan wangsit, Soekarno menemukan “Philosofische Grondslag” dari kemerdekaan Indonesia. “Philosofische Grondslag” dari Indonesia haruslah berasal dari nilai luhur Indonesia. Soekarno mengakui, bahwa ini bukanlah idenya, bukan angan-angannya, ia hanya merenungi tiap-tiap fenomena Manusia Indonesia hingga lahirlah “Philosofische Grondslag” yang lima.

 

Lahirnya Pancasila

Dasar yang pertama ialah kebangsaan. sebuah nation dibentuk oleh “manusia-manusia yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT mendiami pulau dari ujung Sabang hingga Merauke”.(3) Soekarno cukup apologetik dan menyebut Asma Allah ketika merumuskan kebangsaan Indonesia, pada saat itu memang faham nasionalis masih diperdebatkan oleh kalangan Islam. Maka untuk melengkapi dasar pertama Soekarno melanjutkannya dengan dasar yang kedua.

Ialah internasionalisme yang membuat sebuah nation itu mempunyai makna luas. Indonesia mempunyai kesadaran bahwa dirinya hanya akan menjadi bangsa sempit apabila menyandarkan nasionalisme hanya pada egoisme bangsa saja. Soekarno pernah menyinggung hal ini dalam buku “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”. Bahwa Islam bernafas internasionalisme, ia tidak dapat dibatasi oleh wilayah tertentu, “apabila Islam merdeka, maka nasionalisme kita akan diperkuat oleh segenap kekuatan bersifat universal.” Soekarno juga mengagumi gerakan internasionalisme seperti pergerakan Jamaludd El-Afghani yang merupakan “Panglima Pan-Islamisme” dan Muhammad Abduh yang membangkitkan kembali politik Islam. (4)

Dasar yang ketiga, yang menjadi alasan islamisasi paling kuat bagi Soekarno ialah permusyawaratan perwakilan. Bagi Soekarno, inilah yang terbaik untuk umat Islam karena sesuai dengan ajarannya. “Aku orang Islam, aku seorang demokrat karena aku orang Islam, aku menghendaki mufakat, maka aku minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam menyatakan bahwa para kepala negara, baik khalifah-khalifah maupun amirul mukminin harus dipilih oleh rakyat?”(5), begitulah pernyataan Soekarno pada Cindy Adams dalam “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Soekarno pun berharap dengan adanya musyawarah berdasar perwakilan ini umat Islam mampu mengusahakan untuk beramai-ramai memasukkan hukum Islam dalam legal formal Indonesia.

Prinsip kesejahteraan mengimbangi prinsip permusyawaratan. Ia hadir dengan ruh untuk mengatasi problem-problem demokratis yang sudah dijalankan sebelumnya di Barat. Soekarno berkata, bahwa “politieke Rechtvaardigheid” tidaklah cukup, tiap-tiap orang boleh bersuara, tapi suaranya ditekan dan dibeli oleh kapitalis. Maka dari itu perlu adanya Sociale Rechtvaardigheid, persamaan secara sosial, kesejahteraan-kesamarataan. Dalam mengambil prinsip kesamarataan ekonomi ini, Soekarno berpendapat dalam pemikiran keadilan yang sosialistis itu perlu disublimir dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa.(6)

Asas Ketuhanan Yang Maha Esa inilah yang menjadi penutup diantara keempat asas sebelumnya. Soekarno menginginkan bahwa Negara harus dipandu oleh manusia-manusia yang ber-Tuhan, sehingga Negara pun akan bertuhan pula. Cara agar seorang dapat menyembah Tuhannya denga leluasa adalah dengan menghilangkan egoisme Agama, saling hormat-menghormati antar sesama. Inilah asas-asas dibangunnya jembatan kemerdekaan Indonesia, sebuah jembatan emas yang menuju cita-cita bangsa.

 

Hati  Yang Rapuh

Meski hati Bung Karno merupakan hati Islam, namun ia juga mengakui bahwa ilmu Islamnya masih kurang. Keilmuan yang didapat pada awalnya ialah ilmu sosial Islam waktu berada di gang Peneleh bersama Pak Tjokro. Corak Islam yang reformis dan tidak bermadzhab itu diambilnya dari ceramah KH. Ahmad Dahlan dan diskusinya dengan A. Hassan. Namun buku bacaannya didominasi oleh bacaan-bacaan orientalis.(7) Seringya Bung Karno melandaskan pikirannya pada kalangan “Yang bukan Islam” itu yang membuat hati Islam Bung Karno rapuh.

Dalam asas kebangsaan, Agus Salim khawatir bahwa asas nasionalisme Soekarno ini memengaruhi asas ketuhanan. Soekarno seringkali menyuarakan bahwa Nasionalisme tidak terikat agama, nasionalisme Indonesia berarti pembaktian diri sepenuhnya kepada “Ibu Indonesia” yang telah melahirkan para pahlawan besar. Agus Salim mengatakan bahwa harusnya asas kebangsaan adalah asas kecintaan pada orang sebangsa setanah air semata-mata karena Allah Ta’ala , bukan cinta pada kebangsaan itu sendiri.(8) Maka dari itu pada pidato Soekarno tanggal 1 Juni itu, ia meminta maaf kepada kalangan Islam dan menjelaskan ulang semangat kebangsaannya itu.

Dalam asas musyawarahpun terdapat indikasi pemikiran sekuler Bung Karno. Dalam tulisannya mengenai sebab Turki memisahkan agama dari Negara Soekarno mengatakan bahwa dengan memerdekakan Islam dari negara, maka dapatlah Islam berjuang habis-habisan guna mewarnai hukum negara lewat parlemen. Perkataan semacam ini pernah diucapkan oleh Attaturk (9) yang malah membuat negaranya mereduksi Islam; penutupan sekolah agama, pelarangan fez (penutup kepala khas Turki), dan penggantian hukum keluarga.(10)

 

Penutup

Bangsa yang kuat tidak hanya bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, namun juga yang tidak sekalipun melupakan sejarah. Sejarah penemuan dasar kemerdekaan kita memang begitulah adanya. Meski dominasi wacana terdapat pada Soekarno, dinamika pembuatan dasar negara diwarnai oleh wacana para pendiri bangsa seperti Agus Salim, Tjokroaminoto, Natsir, dan Syahrir yang kritiknya perlu dijadikan pelajaran dan pertimbangan di masa kini. Maka kritik wacana sekularisme ala Soekarno bukan untuk menjatuhkan Sang Penyambung Lidah Rakyat, namun sebagai refleksi atas wacana sekularisasi yang sekarang ini dapat kita rasakan.

Bagaimanapun juga, seorang Soekarno tetaplah Soekarno, yang narsistik, flamboyan, namun juga keras terhadap imperialis, seorang pria tulus yang senantiasa mencari jalan ketuhanan. Dalam malam yang gemintang sebelum 1 Juni itu Soekarno meratap kepada Tuhan “Aku menangis karena besok aku akan menghadapi saat bersejarah dalam hidupku. Dan aku memerlukan bantuan-Mu”. “Aku tahu, pemikiran yang akan kusampaikan bukanlah milikku. Engkaulah yang membukakannya kepadaku. Hanya engkaulah yang Maha Pencipta. Engkaulah yang selalu memberi petunjuk pada setiap napas hidupku. Ya Allah, berikan kembali petunjuk serta ilham-Mu kepadaku”.(11)

 

Catatan kaki:

  1. Panca azimat
  2. Lahirnya Pancasila
  3. Lahirnya Pancasila
  4. Islam Marxis nasional 12 & 15
  5. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat 242
  6. Laksana Malaekat yang Menyerbu dari Langit hlm. 140
  7. Polemik
  8. Polemik hlm. 53-54
  9. “Saya merdekakan Islam dari negara agar Islam bisa kuat, saya merdekakan negara dari Islam agar negara bisa kuat”, Di Bawah Bendera Revolusi hlm. 454
  10. Polemik Negara Islam hlm. 68
  11. Penyambung lidah rakyat hlm. 240

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *