Ternyata Allah Sayang Padaku

Kaget. Itu hal pertama yang kurasakan saat aku dinyatakan hamil lagi. Dengan empat anak tinggal di perantauan, jauh dari sanak keluarga saja sudah membuat aku harus memutar otak dalam mengelola keuangan keluarga, apalagi akan bertambah satu lagi.
Rasa enggan dan tak terima berhasil kutepis. Aku ingin setiap kehamilanku semuanya spesial dan berarti. Tak peduli pada komentar orang. Dan kini, di depanku ia terbaring sakit. Sakit yang sulit dihadapi anak seusianya.

“Minum obatnya ya Nak….” bujukku pada Junda, anak kelimaku. Anak lelaki berusia 14 tahun yang kini terbaring di ruang ICU.

Matanya terpejam. Berat sekali ia membukanya.
Mendampinginya saat di rawat, ingatanku memutar kembali satu demi satu cerita hidupnya.
Junda, anak lelakiku yang manis, baik, dan selalu berbisik di telingaku saat aku menemaninya tidur di usia balitanya.

” Umi….umi Junda yang baik dan selalu wangi….. ” katanya dengan lembut.

“Kalau sudah besar, umi mau dibelikan apa sama Junda?” Tanyanya sangat mengesankan bagiku.

Saat ini, saat dokter dan perawat bertanya padaku,”junda anak keberapa Bu?” dengan percaya diri kujawab “Anak kellima.”

Hadirnya ia merupakan sebentuk kasih sayang Allah padaku. Pada keluarga kami.

“Cepat sembuh Nak…, kamu pasti tau dan merasakan sayangku padamu….”

Kupandangi anakku yang infus dan beberapa selang menempel di tubuhnya.

Saat ia berujar lirih…”sakit mi…”

Kukatakan padanya…saat melahirkanmu, umi juga sakit. Tapi umi kuat dan harus kuat, karena ada kamu.
Sekarang, kuatlah. Ada umi, abi, kakak2 dan adik yang sayang dan menunggumu cepat pulang.

Wulansari

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *