Sepulang dari kota Nabi dan melihat hasil perluasan Masjid Nabawi, al-Walid selaku pemimpin politik dunia Islam di masa itu memanggil al-Hallaj. Disuruhnya menemui istri al-Walid. al-Hallaj awalnya menolak. Ia tahu kalau yang akan ditemuinya adalah saudara Umar bin Abdul Aziz, orang yang selalu disegani oleh al-Walid. Di masa itu, Umar bin Abdul Aziz adalah gubernur Hijaz yang beribukota di Madinah, Kota Nabi. Sementara ibu kota Daulah Umayyah ada di Damaskus.
Perasaan al-Hallaj ternyata benar. Ia disemprot oleh Ummul Banin. Dikritik habis-habisan. Sampai-sampai dikatakan bahwa dirinya adalah orang yang munafik, bengis, keji, tak segan menghabisi darah Muslimin, dan pengecut. Ummul Banin juga mengingatkannya untuk tidak menjelek-jelekkan istri amirul mukminin, maksudnya al-Walid.
Perlu diketahui, di beberapa waktu sebelumnya al-Hallaj mencoba untuk mencari simpati al-Walid dengan menemuinya di istana. Namun, dia salah kalkulasi. Al-Hallaj malah memberi semacam “nasehat” kepada orang nomor wahid itu agar tak mendengarkan perempuan (maksudnya istrinya) dan larut dengan mereka karena itu bisa membuat pemimpin lemah.
Kisah ini menarik. Saya yakin kita semua sama-sama tahu dan sama-sama pernah mendengar nama al-Hallaj. Seorang yang disebut-sebut dalam sejarah sebagai orang paling bengis di zamannya. Disebut juga sebagai algojo. Ia tak segan-segan membantai nyawa manusia meski sesama Muslim. Ia gubernur Irak yang memimpin dengan bengis. Tetapi ia dipertahankan karena jasanya yang besar kepada ayah al-Walid dan Bani Marwan atas pembelaannya kepada Daulah Islam meski dengan cara yang salah.
Menariknya adalah bagaimana istri al-Walid dengan berani mengkritik orang yang selama ini anti dengan kritik. Al-Walid saja sangat berhati-hati jika ingin menyampaikan kritik atau semacam masukkan kepada al-Hallaj. Selain Ummul Banin, Umar bin Abdul Aziz mungkin satu-satunya orang yang seringkali mengecam dan mengatakan bahwa al-Hallaj adalah orang paling munafik. Rakyat yang dipimpin al-Hallaj saja tak ada yang berani mengkritiknya. Itu sama saja dengan menggali liang kuburnya sendiri. Pernah diriwayatkan bahwa suatu kali, al-Hallaj memimpin shalat rakyatnya tetapi ada kekeliruan ayat yang dibaca. Orang-orang tak ada yang berani membetulkannya.
Al-Walid tentu saja beruntung memiliki Ummul Banin. Ini yang saya maksud sebagai pendamping yang melengkapi. Wajar sebenarnya al-Walid berhati-hati. Ada kuasa yang harus dia pertahankan, ada pesan mendiang ayahnya yang perlu ia lakukan meski bertentangan. Ayahnya berwasiat agar ia mempertahankan al-Hallaj tetapi ayahnya juga berwasiat untuk selalu meminta nasehat kepada Umar bin Abdul Aziz jika akan membuat kebijakan. Padahal Umar bin Abdul Aziz selalu memberi nasehat untuk mencopot al-Hallaj. Jadi apa yang harus dilakukan?
Ummul Banin menjadi partner yang dahsyat. Di tengah kebimbangan itu, meski al-Walid tak mencopot al-Hallaj, tapi setidaknya keberaniannya dalam mengkritik tersebut perlu diacungi jempol. Kita melihat ada pelajaran menarik soal bagaimana perbedaan karakter dari pasangan tak selalu membawa keburukan. Jika dikelola dengan baik, maksudnya manajemen konflik yang baik, maka perbedaan itu akan membawa kebaikan yang besar. Perbedaan itu justru akan saling melengkapi. Makanya, dalam ilmu manajemen organisasi biasanya perbedaan semacam itu dijadikan sebagai salah satu supervisi untuk melakukan regenerasi, pengangkatan, pemindahan posisi, dan sejenisnya.
Persoalannya adalah tak semua yang akan hidup bersama (baca: menikah) belajar mengenai hal ini, mengenai manajemen konflik dan menghargai perbedaan. Kebanyakan yang ada justru mengabaikannya lalu membiarkannya. Istilahnya belajar sambil jalan. Kalau mental dan kesetiaan mereka (dua-duanya) kuat, mungkin itu masih bisa terjadi. Tetapi jika tidak, perbedaan itu bisa menghancurkan. Bahkan, berujung pada hal yang tidak disukai Allah Swt. []
Viki Adi N
