Beberapa waktu lalu, saya mendengarkan cerita dari salah seorang senior yang mengajar di sebuah sekolah dasar. Seorang muridnya tega membuat kepala temannya berdarah, entah apa yg dilakukannya, yang jelas pemandangan yang disaksikan guru-guru adalah kepala sang anak sudah berlumuran darah. Para guru dibuat semakin miris dengan kenyataan bahwa pelaku menyuruh temannya yang lain untuk membersihkan darah yang berceceran (usaha menghilangkan jejak). Setelah diusut, ternyata hal itu terjadi dikarenakan pelaku merasa cemburu, karena si korban terlihat bermain kejar-kejaran dengan pacarnya. Murid sekolah dasar. Ya itu realitanya. Murid sekolah dasar berani melakukan tindakan kriminal karena persoalan cinta.
Kisah kedua, saya mendengarnya dari seorang rekan. Ia memiliki saudara yang memiliki gangguan pada jiwanya. Sulit mengambil keputusan dan bingung dalam membedakan realita dan hanya sekadar hayalan. Padahal dia sudah memiliki dua orang putri. Ternyata dia punya masa lalu yang membuat jiwa saudaranya ini terguncang hebat. Sejak peristiwa itu, ia jadi berubah bahkan walaupun ia sudah menikah dan memiliki anak. Saat ia masih single, ia memiliki perasaan kepada seorang lelaki, ia selalu berlaku baik dan memberikan perhatian padanya. Lelaki tersebut juga berlaku baik, bahkan sangat baik sehingga ia menganggap itu adalah tanda bahwa perasaannya terbalaskan. Tetapi, itu mungkin hanya prasangka dia saja. Suatu hari lelaki tersebut memberikan undangan pernikahan, ya dia menikah dengan wanita yang ternyata adalah sahabat perempuan ini. Sejak saat itu semuanya berubah. Saat ia sudah berkeluarga sekalipun, ia tak bisa jernih dalam berfikir dan memutuskan. Banyak yang menjauhi, tapi untungnya ia memiliki suami yang masih peduli dan tulus merawatnya. Kisah kedua adalah ujian cinta bagi mereka yang sudah cukup usia, tapi tak berhasil ridho dengan ketetapan-Nya.
Dua kasus ini hanyalah salah satu dari ribuan kasus tentang persoalan cinta yang berakhir tragis. Bagi orang yang tak pernah merasakan jatuh cinta, mungkin kedua kisah ini terdengar berlebihan. Tapi Allah sebagai rabb yang dariNyalah rasa cinta itu diberikan sebagai fitrah tentu telah memberikan rambu-rambu agar cinta itu berbuah banyak kebaikan. Ada dua jalan, satu menikah atau dua berpuasa. Itu saja.
Kasus pertama tentu saja adalah PR besar bagi lingkungan termasuk sekolah dan tentu saja orang tua untuk bisa mengarahkan anak untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang positif. Juga memberikan tontonan yng relatif aman, tidak berbau kekerasan dan pornografi yang akan mengantarkan anak untuk mengikuti jejak langkah tontonannya. Disebuah kesempatan, saya pernah berbincang dengan seorang psikolog. Beliau bilang, sebenarnya obat bagi jiwa yang sedang gelisah, hati yang tidak tenteram, dan banyak penyakit kejiwaan lainnya adalah Al-Quran. Di dalamnya terdapat nilai dan pelajaran yang bisa menyembuhkan penyakit mental yang kita rasakan.
Mengapa ada tools berupa ikhlas, memaafkan, sabar, ridho, tawakal, qanaah, bersyukur dan sebagainya, itulah adalah sarana yang Allah berikan agar hati kita tetap lapang terhadap ketetapannya. Ternyata iman kepada takdir tak semudah menghafalkannya.
~Wardah H. Ramadhani
