Dalam sebuah wawancara, Cristiano Ronaldo, pesepak bola dunia menyampaikan pesan bahwa walaupun kita punya karir yang cemerlang, harta yang melimpah, popularitas, tapi keluarga adalah yang utama. Karena keluargalah yang akan selalu hadir saat kita senang maupun sedih.
Tentu saja, tidak semua orang beruntung lahir dari keluarga yang harmonis. Namun kita juga harus sadar, bahwa tak ada keluarga yang sempurna.
Mungkin suami istri tidak ada konflik, tapi masih menunggu buah hati. Suami istri tidak ada konflik, sumber uji justru dari mertua atau ipar. Mertua baik, ipar baik, ternyata sumber uji dari pasangan sendiri. Pasangan baik, keluarga besar baik, tapi sumber uji dari penyakit. Keluarga sehat, pasangan baik, semua tampak sempurna, tapi sumber uji dari dalam hati yang tak pernah merasa cukup.
Di Penghujung tahun 2022 ini kita tutup dengan film sekuel dari avatar satu, yaitu avatar the way of water. Film ini kaya akan nilai-nilai kekeluargaan yang layak ditonton oleh keluarga.
Setidaknya ada empat nilai yang bisa kita pelajari dari film ini.
Pertama, ibu yang kuat adalah sumber kekuatan keluarga. Dalam sebuah adegan, diceritakan Netayam yang merupakan anak pertama Jake Sully dan Neytiri tewas akibat tertembak musuh. Neytiri histeris dan sangat terpukul. Tentu Jake Sully juga demikian tapi ia tak bisa membiarkan peperangan yang masih berlangsung, sementara dirinyalah yang menjadi sasaran utama musuh. Ia memegang bahu Neytiri dan berkata, “Aku tidak bisa melawan mereka sendiri, aku butuh kamu. Tapi aku butuh kamu yang kuat.” Ia menguatkan Neytiri dan mengingatkan bahwa anak mereka masih ada yang tertangkap musuh. Disisa isak tangisnya, Neytiri bangkit dan mengambil kembali busur panah untuk melanjutkan peperangan.
Ibu yang kuat, adalah kekuatan bagi suami dan anak-anaknya. Ibu yang bahagia juga menjadi sumber kebahagian suami dan anak-anaknya. Betapa krusial posisi menjadi ibu itu.
Kedua, kalimat ini berulang kali disebutkan dalam film. “Seorang ayah itu melindungi, karena itulah ayah bermakna”. Dalam cerita, melindungi tentu dimaknai untuk melindungi anak-anaknya dari marabahaya, termasuk dari serangan penduduk langit. Oleh karena itu, Jake Sully sebagai ayah memberikan bekal kepada anak-anaknya berupa kemampuan bertahan hidup, menjadi pembelajar yang cepat, terutama saat mereka harus “hijrah” dari hutan dan menjadi penduduk Metkayina atau klan laut.
Mereka juga diajarkan untuk menjadi prajurit yang tangguh dan unggul. Hal itu terlihat saat adegan netayam dan adiknya, loak, berkelahi dengan anak kepala suku. Jake Sully tentu memarahi anaknya karena berkelahi, tetapi sebelum anaknya pergi ia bertanya, “siapa yang paling parah lukanya, kamu atau lawanmu?”, netayam menjawab, “lawanku”, “oh oke, bagus.”
Sosok ayah yang melindungi juga dibarengi dengan jiwa kepemimpinan yang penuh akan pertimbangan. Keputusan mereka “hijrah” didorong oleh kepentingan yang lebih besar, agar penduduk klan hutan tidak mati hanya demi menyelamatkan mereka.
Ketiga, keluarga ibarat sebuah organisasi dengan struktur dan tugas yang berbeda-beda. Dalam film ini, posisi ayah sebagai kepala keluarga selalu memutuskan sesuatu atas hasil musyawarah dengan istrinya, Neytiri. Pun dalam aksi-aksi di lapangan, setiap anak memiliki komposisi kerjanya masing-masing, seperti netayam yang ditugaskan untuk selalu menjaga adiknya, loak. Karena ia kakak tertua, maka dalam tugas-tugas pertarungan ia sudah diperbolehkan. Berbeda dengan loak yang hanya diperbolehkan melakukan pengintaian.
Ini akan berkaitan dengan poin keempat, kalau bahasa islaminya, ridho Allah terdapat pada ridho orang tua. Apabila orang tua melarang, memang sebaiknya kita tidak melanggar hal tersebut. Hal ini tergambar dalam adegan yang beberapa kali loak selalu melanggar aturan dari ayahnya. Walaupun niat ia baik, karena dia ingin menjadi prajurit yang tangguh seperti ayahnya, tetapi karena fisik dan kemampuannya yang belum memadai maka ia diberikan tugas sesuai proporsinya.
Kalau kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, akan lebih banyak lagi nilai-nilai yang bisa diambil dari film ini. Namun, dari Cristiano Ronaldo dan Film ini, kita kembali diingatkan, bahwa sejauh apapun kita pergi, keluargalah tempat kita kembali.
~Wardah H. Ramadhani
