Melihat yang di Bawah

Jika merasa sulit dan seolah dunia menyempit, ada baiknya kita melihat yang di bawah. Jangan selalu tengok ke atas. Kita semua pasti paham bahwa di era media sosial semua citra yang ditampilkan kebanyakan—untuk tidak mengatakan semuanya—adalah sesuatu yang “diunggulkan”. Wajar banyak muda-mudi yang merasa iri, gengsi, dan minder.

Kembali ke bahasan utama kita. Pernah suatu malam saya selalu melewati Jalan Kaliurang menuju perempatan Palagan, tampak bapak, ibu, atau beberapa orang yang mereka tinggal (sementara) di depan ruko. Menyelimutkan sarung dan merebahkan tubuhnya. Beberapa mahasiswa biasanya membagikan aneka makanan di sepanjang jalan tersebut. Bagi mereka, sudah bisa tidur di bawah kanopi ruko dengan sarung atau selimut lalu bisa memenuhi kebutuhan pokoknya itu sudah luar biasa bahagia. Dibanding jika berada di kota-kota besar tertentu yang tidak ramah pada tunawisma. Pasti kita sering mendengar keangkuhan petugas penertib—saya kira kalian maksud apa yang saya bicarakan—yang dengan seenaknya menyeret dan mengejar mereka layaknya para penjahat di film-film aksi. Pagi hari sebelum orang beraktivitas, mereka sudah mendorong gerobak dan berkeliling lagi.

Itulah mengapa, mereka yang biasanya mandi di masjid-masjid akan sangat bersyukur jika para takmir “menghargai” mereka dan tak menegurnya. Maklum, masih ada sebagian, mungkin banyak, masjid-masjid yang tak membuka pintu bagi mereka khususnya berkaitan dengan fasilitas semacam itu.

Menengok kondisi ini lebih baik ketimbang merasa iri pada mereka yang selalu tercitra di media sosial. Kita bisa mengoreksi apa yang ada di dalam diri. Jika kita sedang merasa sempit, bagaimana dengan kondisi mereka yang ternyata setiap hari lebih sempit dan ternyata mereka mensyukurinya?

Jika dunia seolah-olah kejam dan kita selalu dipaksa untuk menikmatinya, ya memang begitulah dunia. Sebagai manusia, memang kita harus saling berbuat baik dan berbagi. Bukankah kita sudah sama-sama tahu bahwa kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan pasca dunia dan dunia hanya persinggahan sementara?

Kita sangat patut bersyukur hidup di Indonesia yang ketika ada musibah atau bencana, orang-orang sigap saling membantu. Coba lihat kultur di beberapa negara yang mengaku menjunjung humanisme, tetapi fakta di lapangan justru kebalikannya. Saya cukup menyukai esai-esai Pak Kuntowijoyo yang seringkali mengkritik penguasa atau orang-orang kaya yang tak mau memperhatikan kaum fakir (miskin) dan mustad’afin. Jika mau dan serius, sebenarnya persoalan ini bisa diminimalisir bahkan terus dikurangi. Lembaga paling besar dan berpengaruh untuk menyelesaikannya adalah negara. Lembaga-lembaga filantropi itu sebenarnya kecil tetapi faktanya mereka cukup bisa diandalkan untuk persoalan semacam ini, dan yang super power itu tetaplah negara. Negara itu punya semua perangkat yang dibutuhkan.

Pikiran saya mungkin aneh. Saya bayangkan jika di zaman Umar bin Abdul Aziz dengan wilayah seluas itu, melintasi benua jika diasumsikan dengan wilayah saat ini, kemiskinan bisa benar-benar dihapuskan. Bagaimana istana mengirimkan petugas-petugasnya ke seluruh pelosok daerah untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya yang kekurangan. Bayangkan, itu zaman ketika gawai dan beragam teknologi secanggih kini belum ada. Artinya sebenarnya kemungkinan untuk menghilangkan ada walau secara “kultural” atau “alamiah”—meminjam istilah Kuntowijoyo—kemiskinan akan terus ada.

Jadi, sekali lagi, jika kita sedang merasa sempit. Coba berjalanlah. Coba jalan-jalan. Lihat sekeliling. Jangan-jangan posisi kita adalah yang ternyata lebih mampu dan lebih berkesempatan untuk bangun. Bacalah kisah-kisah mereka yang terpinggirkan namun berjuang untuk bangkit. Kisah-kisah orang terpinggirkan yang sering dan kerapkali kita lupakan. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *