Ruang kosong di dalam dunia seni itu penting. Dalam aspek keindahan, ruang kosong memiliki banyak makna. Dalam ukuran estetika, kerap ruang kosong dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Bagaimana dengan menulis? Agaknya, ruang kosong saat ini begitu jarang ditemui. Saat ini, praktis secara umum kita akan menulis di aplikasi Ms. Word. Kita tak perlu menaruh ruang kosong karena jika di antara halaman atau bab tertentu ada yang kurang, tinggal enter saja dan seketika tersedia ruang kosong atau halaman baru.
Namun, agaknya kita akan mendapati ruang kosong semacam itu sebagai sesuatu yang lazim di masa lalu. Masa ketika kertas, tinta, dan tangan masih berkolaborasi secara manual untuk menghasilkan tulisan. (Imam) Ibnu Hajar, seorang ulama yang menulis Fathul Bari telah mengungkapkan mengenai “bermanfaatnya” ruang kosong semacam ini bagi para ulama ketika menulis. Hal tersebut selalu dilakukan oleh (Imam) Bukhari, seorang ulama penulis hadis yang begitu terkenal sampai sekarang dan kitabnya menjadi rujukan utama umat Muslim.
Ruang-ruang kosong tersebut bisa dijadikan semacam tempat untuk membubuhkan catatan-catatan yang berkaitan dengan perbaikan atau hal-hal yang terlupa. Itulah mengapa banyak buku-buku dari generasi saat itu yang memiliki banyak versi. Tak lain tak bukan adalah soal perbaikan yang terus menerus dilakukan. Ruang kosong telah banyak membantu berkaitan dengan hal tersebut.
Jika dibandingkan hari ini, memang begitu jauh. Utamanya dalam hal kemudahan. Jika dahulu para penulis harus menulis manual dan menyalinnya jika ingin dijual atau disebarkan, bukankah hari ini jauh lebih mudah? Tanpa perlu meninggalkan ruang kosong, tanpa perlu menulis dan menyalin secara manual, dan tanpa apa lagi?
Betapa beruntungnya kita hari ini sebenarnya. Bisa lebih banyak? Iya, kita bisa lebih banyak untuk mengetik tanpa perlu menggoreskan tinta. Semangat generasi terdahulu dalam menyajikan pengetahuan dan karya patut ditiru. Kemudahan yang ada hari ini, sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin. Bukan saja untuk berdebat kusir soal capres dan cawapres (#pis).
Viki Adi N
