ibuan eksemplar buku terjual. Tak hanya ribuan, tetapi lebih dari belasan ribu. Setidaknya itu yang saya saksikan. Sayangnya, penulis buku tersebut hanya mendapat uang di depan saja senilai gaji UMR Jogja lebih sedikit.
Sistem yang cukup fair berkaitan dengan buku memang sistem royalti. Setidaknya itu yang saya lihat sejauh ini. Jika penerbit untung, penulis juga untung. Pun jika buku tersebut lama diserap pembaca, penulis juga ikut menanggung konsekuensi hal tersebut.
Betapa sedihnya penulis yang bukunya laku puluhan ribu, tetapi tak pernah mendapat apa-apa selain dari segepok uang di awal. Setelah itu? Tak ada. Industri buku dewasa ini semakin gila. Bidang yang disebut-sebut sebagai industri pemikiran, ternyata berubah menjadi industri materi. Kapitalis? Anggap saja demikian.
Mengerikan memang, tetapi begitulah fakta yang terjadi. Industri buku kita di Indonesia (memang tidak semua), pada akhirnya menyelam mencari kebutuhan pasar. Fakta yang tak bisa dipungkiri agar tetap bertahan. Jika masih memegang “idealisme”, secara logika dan akal sehat, industri buku seharusnya “menciptakan” jalan alternatif untuk merespons realitas, menebar ide-ide segar, memberi wacana progresif, mengatakan yang benar ya benar, dan yang salah ya salah. Kepentingan materi kemudian dinomorduakan (bukan berarti dibuang).
Beberapa waktu lalu, saya coba membuka lagi buku Maklumat Sastra Profetik karya Pak Kuntowijoyo. Seolah pas sekali. Meski karya tersebut hanya membahas soal sastra (maksudnya bukan buku secara umum), tetapi ada kaidah-kaidah yang menarik dan bagus untuk bisa kita pegang selaku pengarang atau penulis. Saya tidak tahu apakah buku semacam ini masih dibaca anak zaman sekarang atau tidak.
Kembali ke topik awal. Jika bidang yang “mencerdaskan” juga dikuasai korporasi, berkepentingan materi semata, bagaimana jadinya “kecerdasan” yang akan terjadi ke depannya?
Tentu saja, kita berharap yang baik-baik. Bukan sebaliknya. []
Viki Adi N
