Ramainya Toko Buku Tutup

Beberapa pekan ini kita diramaikan dengan tutupnya toko buku. Tak satu dua, tapi banyak. Dari mulai lapak besar semacam Toko Buku Gunung Agung hingga lapak-lapak kecil yang biasanya memiliki ruko termasuk yang berjejer-jejer.

Ada asumsi mengenai daya baca yang menurun. Tapi tentu saja jika ini memang benar, ada banyak faktor lain yang sebenarnya juga berpengaruh.

Saya sendiri tak terlalu “menyalahkan” soal daya baca. Justru saya lebih melihat pada beberapa alasan berikut. Pertama, soal pasar online (marketplace) yang memasang harga banting dan gila-gilaan. Ada yang sampai berani memasang diskon di atas 40% dari harga normal. Jelas sekali, itu akan mematikan toko buku offline yang biasanya hanya memberi diskon 10-20%. Tak kalah pentingnya, ada potongan ongkir jika membelinya di marketplace.

Masih seputaran dunia online. Mengingat orang lebih sering melihat gawai, konten menarik semacam review buku, kutipan isi buku, pembahasan isu terkini yang dikaitkan dengan isi buku, adalah hal-hal menarik yang orang sukai ketimbang melihat postingan jualan (ini dalam konteks media sosial). Itu mungkin yang masih menjadi PR bagi shifting-nya para lapak offline ke online. Mengingat beberapa hari yang lalu beredar berita-berita mengenai mereka yang tetap saja sepi meski sudah mulai berubah ke cara online.

Alasan kedua, meningkatnya permintaan buku anak. Bukankah ini meroketkan penjualan? Tunggu dulu. Kebanyakan lapak-lapak kecil yang berjejer tidak terlalu update soal buku anak yang selalu di Pre Order kan melalui daring oleh reseller yang beranggotakan para emak-emak muda. Kebanyakan lapak-lapak buku offline ini menjajakan buku kategori remaja sampai dewasa, yang sudah sama-sama kita tahu kalau buku-buku dewasa memiliki segmentasi khusus yang tidak semua bisa tertarget. Apalagi buku lawas. Itu sangat segmented. Kalau pun ada buku anak, paling yang edisi lama atau sudah ketinggalan.

Pengelola BBW (Big Bad Wolf) telah membuktikan dan mengonfirmasi soal buku anak. Katanya, pangsa pasarnya memang paling besar. Beberapa distributor buku yang saya kenal juga mengamini soal demikian. Bahkan untuk buku kategori Islam dewasa, telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Apalagi penerbit pergerakan (Islam), seperti hidup tak mau, mati pun segan. By the way, ini yang salah penerbitnya atau aktivisnya yang tak mau baca? (Hehe)

Alasan berikutnya, mengenai ebook. Meski bagi pecinta dan penikmat buku sejati wujud fisik tetap saja tak tergantikan, tapi tidak bagi sebagian orang masa kini. Teknologi di genggaman bagi mereka lebih memudahkan dan praktis ketimbang membawa sesuatu yang berwujud fisik dan berat. Hadirnya piranti pembaca ebook yang memiliki tampilan seperti buku asli juga telah cukup memberi nuansa berbeda. Tapi kalau saya ditanya soal ini, jawaban saya masih lebih memilih buku fisik. Alasannya sudah pernah saya tulis entah kapan itu. Ebook hanya saya jadikan opsi kedua jika buku fisiknya sudah tidak ada.

Selanjutnya, soal buku bajakan. Nah, ini mungkin yang masih bikin geleng-geleng kepala. Harganya hanya puluhan ribu saja. Sungguh jauh dengan buku asli atau original. Konyolnya, pangsa pasar buku ini juga cukup besar. Kalian bisa membuktikannya dengan melihat jumlah penjualan serta ulasan-ulasan produknya di marketplace. Kalian pasti akan tertawa. Masalah ini memang tak pernah habis untuk dibicarakan. Apa pun solusinya, mereka akan tetap saja muncul. Mengenai hal ini, kesadaran diri kita sendiri selaku pembaca memang yang terbaik. Aturan dan regulasi yang sudah ada nyatanya tetap tidak bisa menghentikan munculnya buku bajakan.

Alasan kelima, soal ebook pdf. Di atas kita telah bicara ebook yang legal atau resmi, karena memang dijual di platform yang legal. Nah, kalau ini kebalikannya. Betul sekali! Ebook pdf alias ebook bajakan alias ebook tidak resmi alias ah sudahlah. Saya menemukan beberapa chanel telegram yang membagikan ebook-ebook gratis tersebut. Bukunya beragam, dari mulai novel hingga tafsir yang begitu tebalnya. Parah asli ini. Penerbitnya bisa dipastikan rugi besar. Bayangkan saja, tafsir yang harganya dua jutaan, lah ini gratis mas bro! Saya coba men-download beberapa versi novel, loh kok bisa bening banget seperti bukan scan-an? Dapat dari mana mereka? Apa mereka mengetik dan me-layout ulang? Sungguh, ini namanya tidak beradab alias biadab. Ini pula yang dikhawatirkan penerbit jika melihat aturan Perpusnas saat proses pengajuan nomor ISBN, yakni diwajibkannya penyerahan dummy buku. Siapa yang mau bertanggungjawab jika data bocor?

Alasan keenam, prioritas. Di dunia yang serba citra, orang memang lebih memilih kebutuhan yang bisa mendukung aktivitas tersebut. Fleksing-fleksing lah istilahnya. Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi pernah menyindir soal beginian yang intinya seperti ini; orang membeli makanan itu terasa murah, tetapi kalau makanan itu diganti buku sudah jadi auto mahal meski nominalnya sama. Jadi misal nongkrong dengan uang seratus ribu itu terasa murah, tetapi jika uang seratus ribu dibelikan buku maka jadi terasa mahal. Artinya ada prioritas yang tidak seimbang.

Terakhir, soal inovasi. Saya melihat beberapa toko buku yang masih memiliki lapak offline (selain online) mencoba membuat inovasi seperti menyediakan perpustakaan dan kafe. Jadi jika calon pembeli belum punya uang untuk membeli buku, mereka bisa membaca bukunya terlebih dahulu di situ sembari pesan kopi yang harganya kurang dari sepuluh ribu. Duduk dari pagi hingga malam, bisa dipastikan mereka bahagia. Hal semacam ini, yakni bisa membaca bukunya terlebih dahulu, tidak didapatkan ketika belanja di kebanyakan toko buku offline. Itu menarik!

Inovasi lainnya, ialah membuat semacam circle diskusi atau komunitas kultural. Misalnya melalui adanya bedah buku rutin, kajian buku, telaah karya, mengundang penulis, pelatihan menulis, baca puisi, workshop, dan lain sebagainya. Banyak hal menarik yang bisa dibuat.

Tentu saja semua itu adalah subjektif dari saya pribadi. Bisa jadi benar bisa jadi salah. Faktanya, sepinya toko buku khususnya kategori dewasa (apalagi Islam) juga saya rasakan. Memang kondisinya sedang seperti itu. Beberapa kawan saya sampai harus beralih menjadi toko buku anak Islam demi tetap langgeng dan tak tamat riwayatnya. []

Viki Adi N

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *