“Dunia semuanya berupa kerisauan. Kesenangan di dalamnya hanyalah laba.” Begitulah tuturan dan nasihat Abdullah bin Mas’ud. Salah seorang Sahabat Nabi yang mengerti betul soal kitab suci.
Jika kita merenunginya, memang demikian adanya. Tidak setiap saat manusia akan diliputi kesenangan. Begitu pula sebaliknya. Tidak semua orang akan selalu diliputi kegalauan dan kesedihan. Masa itu akan terus berubah dan berganti. Persepsi dan cara menyikapi adalah yang membuat setiap manusia akhirnya memiliki jalan berbeda.
Setiap kita itu layaknya pohon yang berdiri di tengah padang. Hujan, badai, angin semua akan datang menerpa. Kalau akar tidak elastis, pada saatnya kita akan ambruk. Daya elastis itu perlu dimiliki oleh setiap orang.
Seberapa pun besar gempurannya, pohon itu akan meliuk-liuk. Seolah akan jatuh, namun karena elastisitasnya ia kembali seperti semula kala badai reda. Berbeda dengan mereka yang kaku dan tak punya elastisitas, seolah kuat menerjang badai, tetapi justru waktu menuju kehancurannya begitu dekat.
Begitulah kira-kira hidup ini. Semua kerisauan memang pasti akan datang, akan selalu ada. Tak kan ada orang yang dipertemukan dengan kesenangan setiap waktu. Jika kalian melihat itu di layar kaca seorang bintang, yakinilah bahwa itu hanyalah yang terjadi di depan. Kita tidak tahu sama sekali yang terjadi di belakang.
Orang di zaman ini mungkin terlalu terpaku dengan layar depan, layar media, dan layar yang terlihat dari orang lain. Kita sepertinya lupa mengenai diri kita sendiri. Mengenai batas diri sendiri. Mengenai kemampuan sendiri yang dimiliki.
Setiap manusia pada hakikatnya memang beda, dan ketahuilah bahwa setiap potensi kita tidak ada yang tidak berguna. Proses memaksimalkannya saja yang belum dilakukan. []
Viki Adi N
