Menulis itu memang menyempatkan. Mau dipikir sampai kapan pun, ya memang sudah begitu aturan mainnya. Kita semua pasti memiliki kesibukan yang berbeda-beda. Ada yang berprofesi sebagai guru, sibuk mengajar, kesal karena ulah nakalnya murid, bolak-balik mengurus administrasi, dan seterusnya. Ada yang menjadi tenaga kesehatan; pasien stres terkadang ikutan stres juga, berhadap-hadapan dengan nyawa orang lain, dan seterusnya. Begitu juga ragam pekerjaan lainnya.
Saya sendiri juga begitu. Meski pengin jadi penulis “full”, meski pengin punya kerjaan nulis dan nulis, tetapi nyatanya tak bisa begitu. Bahkan, kini lebih sering disibukkan mengurus naskah orang lain. Entah soal seleksi naskah, soal edit, dan tetek bengeknya berkaitan dengan proses pra cetak naskah. Maklum, tim di Gaza Library Publishing (GLP) hanya beberapa orang saja. Akhirnya, menulis itu benar-benar terasa menyempatkan alias disempat-sempatkan.
Soal menyempatkan, sebenarnya ini tidak terlalu rumit. Ini soal konsistensi. Misalnya, setiap hari atau beberapa hari sekali, kita membuat jadwal soal kegiatan menulis ini. Tak usah lama-lama, 30 menit sehari saja, ambil contoh pukul dua puluh satu. Setengah jam waktu tersebut, kita berikan effort yang cukup untuk menulis. Konsen di sana dan masuki dunia tersebut. Cara ini memang bukan satu-satunya. Sebab, ada juga orang yang bisa menulis di momen-momen tertentu, alias tidak merutinkan atau membuat jadwal seperti yang tadi dijelaskan. Ambil mudahnya saja. Diri kita sendiri yang paling tahu. Yang penting: nulis!
Ketika sudah mau fokus, lalu bingung. Mungkin kita perlu menambah banyak bahan. Nah, inilah langkah penting berikutnya. Kita perlu terus membaca. Konsepnya sama dengan yang tadi: luangkan! Tanpa banyak bahan bacaan, menulis bisa dipastikan cukup sulit. Memang, sumber bahan tak hanya berupa buku, masih banyak sumber lain juga. Namun, buku tetaplah menjadi sumber yang komplet ketimbang sumber-sumber lain yang biasanya lebih singkat dan padat (khususnya video-video singkat atau podcast). Meski tak menutup kemungkinan, sumber-sumber primer semacam hasil wawancara atau pengamatan juga bisa lengkap dan memadai.
Simpan tulisan-tulisan tersebut. Bisa juga dibagikan. Saya memang lebih menyarankan untuk dibagikan, khususnya jika kita ingin melihat bagaimana tanggapan orang lain terhadap tulisan kita, atau untuk memberi kebermanfaatan bagi yang lain. Namun, jika tak ingin pun itu tak masalah, misalnya ingin menyimpannya di laptop saja. Saya terkadang juga begitu. Ada tulisan-tulisan yang disimpan dan ada juga yang dibagikan ke publik secara langsung (lebih seringnya di facebook atau web).
Tulisan-tulisan yang ada di laptop, meski kadang terlupa, tetapi saya sangat terbantu dengannya. Ketika mau menulis buku bertema tentang sesuatu, saya tinggal buka catatan-catatan lawas tersebut, mencoba mengumpulkannya, merapikan, dan menyuntingnya. Jika masih banyak kurangnya, tentu ditambah dengan membuat tulisan-tulisan baru sesuai outline buku yang akan digarap. Masih banyak manfaat-manfaat lainnya, yang mungkin akan kita ulas kapan-kapan.
Semoga saja tulisan ini bisa memompa semangat kita lagi untuk menulis. DI tengah orang lebih banyak habis waktunya berada di depan layar (smartphone) untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, semoga saja kita tidak seperti itu. Selamat menulis lagi. (By the way, mungkin kita memang perlu punya HP genre jadul untuk mengurangi screen time unfaedah. Mungkin saja.) []
Viki Adi N
