“Fomo”

Sebagai orang yang pernah aktif di gerakan mahasiswa, saya merasa buku-buku yang bertema “gerakan mahasiswa” sudah terlampau tidak menggembirakan. Minat para aktivis sepertinya sudah berbeda terhadap buku-buku yang dibacanya (atau mungkin malah kurang doyan buku?). Tentu saja pernyataan ini hanya asumsi, saya tidak bisa membuktikannya. Omongan ini hanya merujuk pada soal kurang lakunya buku-buku bertema tersebut, baik buku yang sifatnya dijadikan referensi atau yang berkaitan dengan internal gerakan (organisasi).

Di luar ketidakmenggembirakannya hal tersebut, “fomo” (sepertinya) telah menjadi salah satu faktor penentu generasi saat ini untuk melakukan berbagai macam aktivitasnya, termasuk soal tema bacaan. Tema kesehatan mental, layak kita jajarkan menjadi tema yang masuk kategori “fomo” bagi generasi saat ini, meski pada faktanya persoalan kesehatan mental sudah ada dari zaman dahulu, sejak manusia hidup menghadapi ragam masalah. Tentu saja, kita sedang tidak meremehkan masalah ini, mengingat kasus orang bunuh diri tak sedikit jumlahnya. “Kefomoan” itu pada ujungnya memang menyisakan aneka manfaat, selain “kecemasan nasional”. Tema kesehatan mental biasanya berbanding lurus dengan tema self improvement.

Tema berikutnya, dan ini agak sedikit berat, ialah tema filsafat. Entah sejak kapan tema ini menjadi “fomo” di kalangan generasi saat ini. Namun, saya meyakini hal ini terjadi semenjak tema filsafat diperbincangkan secara terbuka melalui kanal jagad maya. Semua orang bisa mengaksesnya kapan pun dan dimana pun. Terlebih semenjak “Ngaji Filsafat” yang diampu Dr. Fahruddin Faiz semakin populer. Seolah-olah semua jadi belajar filsafat. Terlepas dari beratnya tema ini, tentu saja kita patut bergembira.

Mengapa kita perlu bertepuk tangan? Pada akhirnya, tema filsafat inilah yang seharusnya mampu membuat orang belajar berpikir kritis dan lebih rasional. Mengapa perlu berpikir kritis? Mengapa perlu berpikir lebih rasional?

Jawaban-jawaban inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh generasi saat ini. Misalnya, kita bisa melihat dengan mudahnya orang berpendapat secara liar dan bebas tanpa tahu diri, tanpa melihat kapasitasnya berbicara sebagai apa. Dengan berpikir sedikit saja lebih rasional, seharusnya kita bisa menahan diri dan berpendapat lebih bijak. Sayangnya, konten-konten yang bernarasi “menyesatkan” kadung terlanjur banjir di berbagai kanal jagad maya. Emosi orang lebih cepat meledak ketimbang sejenak diam, merenung, dan sedikit saja berpikir lebih rasional. Ini bukan berarti kita membiarkan narasi-narasi keliru menyumpal dunia kita. Ini soal apakah kita bisa menempatkan diri kita atau tidak.

Termasuk hubungannya dalam ini juga soal berpikir kritis. Melalui hal ini, sesuatu yang “menyesatkan” tadi, jadi bisa diminimalisir atau setidaknya, narasi yang dibawa tidak laku. Kejumudan, kemandekan berpikir, terbawa arus, mau-mau saja, gampang mengiyakan, politisasi (dalam berbagai hal), dan segudang sifat kurang baik bisa diatasi dengan bersikap kritis. Tema filsafat seharusnya mengarahkan orang ke sana.

Apa yang disebut dan diuraikan tadi, hanya satu dari banyak alasan mengapa kita perlu bersikap kritis dan berpikir lebih rasional. Karakter ini tak hanya harus dimilliki oleh para aktivis, tetapi seharusnya oleh semua orang. Negara kita tak akan pernah berkembang jika orang-orang yang menghuninya tak pernah berpikir lebih kritis, khususnya mengenai masalah-masalah yang terus melingkupi bak lingkaran setan. Kalau orang saat ini cuma manggut-manggut, merasa bahagia dengan menerima bansos, mengiyakan janji manis politisi, ya sudah, kita akan terus dibodohi.

Lalu, apakah kemudian “kefomoan” itu berimbas? Saya juga tak bisa memastikan. Namun, kiranya ini (semoga saja) bisa menjadi awalan yang tak buruk untuk ke depannya. Semoga saja, dari “fomo” tersebut, berujung tidak “fomo”. []

 

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *