Sebagai manusia yang memiliki akal, berbeda pikiran itu biasa. Masing-masing bisa berargumen bebas. Tak hanya soal argumen, bahkan berpikir tentang apa pun juga bebas. Kita punya kehendak. Kita bebas berkeinginan. Hanya saja, tidak semua orang menerapkan salah satu ciri khas filsafat: meragukan. Sebagai orang Muslim misalnya, dari kecil kita sudah diajari mengenai akidah, tentang sifat Tuhan. Apakah kita diminta meragukan? Tentu saja tidak, tapi sebaliknya. Ada pandangan hidup yang melingkupi kita untuk membatasi diri pada hal-hal tertentu. Ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal.
Pandangan hidup Islam itulah yang memagari kita untuk tetap berada pada garis lurus, tidak menyimpang. Sayangnya, kita kerap keliru memahaminya. Dengan kita memagari, dengan memasang barrier, kita luput dengan ragam pikiran yang lain. Bukan hanya soal kaya wawasan, tapi ini soal bagaimana kita melihat realitas.
Misalnya, ketika masa industrialisasi. Ketika “buruh” untuk kali pertama ada, dalam makna industri atau pabrik. Ketika sistem kapitalis merusak tatanan sosial, dieksploitasinya para buruh oleh para pemilik modal, tanpa memberi mereka hak dengan adil. Antitesa pikiran muncul. Misalnya, sosialisme. Atau dalam titik enggan kita, bersandingnya dengan komunisme. Ketiadan agama menjadikan kita luput untuk melihat, misalnya soal pemihakan kelas yang menjadi salah satu gagasan ideologi-ideologi ini.
Tentu saja, karena Islam tidak mengenal kelas seperti itu, perbendaharaan kita akhirnya luput—meski sebenarnya ajaran Islam sudah menaruh perhatian besar akan hal tersebut. Sedang ada kaum-kaum tertindas yang perlu dibela. Di titik inilah, ternyata konsepsi pemihakan kelas tersebut ada manfaatnya.
Membuang pikiran liyan, ternyata tidak harus juga. Ini soal kecerdikan kita saja untuk mengenali dan melihat realitas, mengambil sisi-sisi tertentu yang bisa dimanfaatkan.
Misalnya lagi, ketika (alm.) Ahmad Syafi’i Maarif (tokoh Muhammadiyah), kerap menelurkan pikiran yang dianggap tidak biasa bagi umat Islam, kerap dianggap liberal, ada sebagian masyarakat Muslim yang kemudian enggan untuk mengambil pemikiran warisannya yang lain. Sebagai contoh, kajiannya tentang Ibnu Khaldun. Sayang sekali, kita kerap menutup demi alasan keamanan atau mungkin karena barrier kita terlalu bebal (?).
Menjadi lebih konyol, jika ternyata barrier itu datang karena, misalnya: pilihan politik yang berbeda. Penganggapan “bukan sebagai kelompok kita”, kerap menumpulkan kita karena menjauhkan kita dari sikap yang lebih objektif. Sudah seharusnya, umat, terutama kita saat ini untuk berpikir lebih rasional. “Hikmah” bisa berasal dari mana saja. Amat disayangkan jika kita terus membuang banyak pikiran liyan hanya karena alasan-alasan di atas.
Jika masih menganggap diri kita tidak memiliki pegetahuan yang bermacam-macam, bukankah kita bisa sedikit demi sedikit belajar? Kanal kita hari ini terlalu banyak. Mungkin karena itu, manusia hari ini jadi bingung. Entah bingung, atau malas? []
Viki Adi N
