Berbincang Tentang Sastra Profetik (Bagian 1)

Sebenarnya, saya bukan orang yang tepat untuk menuliskan hal ini. Namun, karena membawahi tim redaksi di GLP (Gaza Library Publishing), yang beberapa waktu lalu melakukan pembaruan soal naskah yang diterima, mau tak mau, akhirnya tulisan ini perlu dibuat.

Ketika mengantar (melalui esai) pada pembukuan beberapa artikel mahasiswa magister sastra di kampus Bulaksumur yang menyoroti tentang evolusi sastra dan budaya popular, saya memang sudah merasa jauh-jauh sebelumnya bahwa perubahan itu sudah terlampau jauh. Budaya massa, yang menjadi salah satu titik kritik dalam Maklumat Sastra Profetik-nya Kuntowijoyo, hari ini telah melampaui nalar orang yang pernah hidup di zaman kentongan dan per-sms-an.

Sebut saja soal FOMO, sesuatu yang menurut saya, “mengerikan” sekali di zaman ini. Sungguh beruntung bagi mereka, orang-orang yang masih bisa menggunakan akalnya dengan benar.

Itulah mengapa, redaksi di GLP memilih sastra profetik sebagai acuan untuk menyeleksi karya fiksi dengan sistem terbit royalti. Mengingat sastra profetik tidak erat dengan budaya massa, maka dapat dengan mudah diduga bahwa sastra yang demikian tidak mudah—untuk tidak mengatakan tidak bisa—menjadi komoditas yang menjanjikan di pasaran.

Lihatlah misalnya, ketika novel-novel yang beredar di aplikasi daring yang paling diburu adalah bertema lendir, perselingkuhan, dan semacamnya, sesuatu yang berhubungan dengan libido atau jiwa kebinatangan manusia. Mau tak mau, para penulis di dalamnya, lebih memilih hal yang demikian, demi popularitas, demi cuan.

Saya tahu, ini berat. Berat sekali bagi penulis yang memiliki perspektif atau pandangan hidup yang bertolak belakang dengan budaya massa atau budaya populer seperti di zaman ini. Sebagai manusia, kita memang punya prinsip, tetapi sayangnya, kita juga harus bisa hidup. Dua hal yang rasa-rasanya jadi bertolak belakang. Tentu saja, sebagai manusia yang bisa berpikir, tak semestinya kita menggadaikan prinsip kita. Sebagai Muslim, tak mungkin dan tak seharusnya kita mengkhianati ajaran yang kita anut sendiri.

 

Ihwal Sastra Profetik

Beberapa waktu setelah pembaruan persyaratan, memang wira-wiri yang menanyakan soal persyaratan, termasuk yang mencoba mengirimkan naskah. Namun, standar sastra profetik ini sepertinya masih menjadi ganjalan untuk penulis yang akhirnya mengurungkan niat atau naskah yang disodorkan belum masuk kategori. Mengingat, sastra Islam (yang dulu diwakili oleh FLP) atau sastra pesantren (yang lahir dari pondok atau alumnusnya), pernah berjaya di masanya. Tim redaksi tentu paham hal ini.

Untuk itulah, saya ingin menuliskan sedikit ihwal sastra profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo. Harapannya, ini bisa menjadi sedikit pengetahuan. Sebab, saya akan menyarankan pembaca untuk tetap membaca karya utuhnya dalam buku Maklumat Sastra Profetik. Saya kira, tidak ada alasan lagi untuk kita tidak bisa membacanya karena tidak punya buku tersebut atau karena belum ada anggaran untuk membelinya. Sebab, buku ini bisa dibaca secara gratis melalui ponsel kita pada aplikasi Ipusnas. Adapun bagi pecinta buku fisik, bukunya yang bersampul merah (terbitan lawas) bisa jadi masih ada yang menjualnya di online shop. Adapun yang versi baru (sampul coklat) diterbitkan oleh Diva Press, bisa dibeli di toko buku langganan masing-masing.

Di sini, akan dituliskan poin-poin dan ulasan ringkasnya.

Seperti dikatakan Kuntowijoyo, baginya, sastra profetik bukan sekadar sastra Islam, yang maknanya sebagai “sastra ibadah”. Namun, maknanya adalah sastra sebagai ibadah dan sastra yang murni. “Sastra ibadah” yang dimaksud adalah ekspresi dari penghayatan nilai-nilai agama, sedangkan sastra yang murni adalah ekspresi dari tangkapan penulis atas realitas.

Sastra profetik tidak hanya menyerap dan mengekspresikan, tetapi juga memberi arah realitas. Disebut juga sastra dialektik, yang berarti berhadap-hadapan dengan realitas. Maksudnya, memberi penilaian dan melakukan kritik sosial-budaya secara beradab. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan.

Ihwal sastra profetik ini, bisa dijelaskan ke dalam tiga bagian. Pertama, kaidahnya. Kedua, etikanya. Ketiga, strukturnya.

Pertama, kaidahnya. Ada tiga kaidah sastra profetik. Kaidah ke-1, epistemologi strukturalisme transendental. Maksudnya, sastra profetik ingin melampaui keterbatasan akal manusia, dan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi. Sehingga, perlu merujuk pada penafsiran kitab suci atas realitas, dengan memilih epistemologi strukturalisme transendental. Strukturalisme transendental dipilih karena, (a) kitab suci sifatnya transendental. Kitab suci adalah wahyu dari Tuhan yang Maha Transenden, Yang Maha Abadi (al-Baqi). Kitab suci juga melampaui zaman, tidak terbatas waktu, menjadi pedoman sepanjang masa. Selanjutnya, (b) dipilih karena kitab suci dan agama merupakan struktur yang koheren ke dalam dan konsisten ke luar. Strukturnya koheren (utuh) ke dalam, yang berarti strukturnya merupakan sebuah kesatuan. Artinya, nilai-nilai, ajaran, dan hukum yang ada dalam suatu agama membentuk sebuah sistem yang utuh dan tidak terpisahkan. Konsisten (taat asas) ke luar, artinya tidak bertentangan. Dalam hal ini, maksud Kuntowijoyo adalah antara agama yang satu dan yang lainnya tidak bertentangan dalam perspektif universal, ada nilai atau etika kemanusian yang serupa. Kuntowijoyo lalu menuliskan, “Khusus bagi saya, iman itu berarti iman secara Islam.” Sampai sini, kita akan paham dengan maksudnya.

Kaidah ke-2, sastra sebagai ibadah. Islam itu utuh (kaffah). Seorang penulis yang rajin salat, zakat, dan ibadah wajib lainnya, tidak bisa disebut kaffah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah. Dalam hal ini, Kuntowijoyo juga menjelaskan soal hubungan agama dan ilmu. Misalnya, saya beragama Islam, tetapi dalam bidang psikologi saya menganut neo-freudian. Hal ini tidak menggugurkan dirinya sebagai orang Islam, kecuali agama dihadapkan dengan agama. Misalnya, saya beragama Islam, tetapi saya komunis. Sesuatu yang sangat tidak bisa disebut kaffah dalam berislam. Hal ini penting kita mengerti, karena di dalam kehidupan, nilai-nilai yang ada di masyarakat rembesannya banyak sekali. Sesuatu yang nantinya akan banyak dinilai dan dikritik dalam mengekspresikan ide ke dalam karya sastra.

Kuntowijoyo juga memberi penjelasan kepada mereka yang menganggap Tuhan totalitarianisme (dalam perspektif orang sekuler). Mereka mungkin akan bertanya, “Apakah menulis sastra harus tetap diniatkan beribadah? Apakah Tuhan sedemikian totaliter, semua-muanya harus dihubungkan dengan Tuhan? Semua-muanya harus di bawah kekuasaan Tuhan?”

Menurut Kuntowijoyo, Tuhan memang begitu, dalam bahasa familiarnya disebut Maha Kuasa. Itu adalah hak-Nya sebagai Sang Pencipta (al-Khalik). Ajaran mengenai hal ini sebenarnya sudah amat populer bagi seorang Muslim, bahwa ibadah memiliki dimensi ghairu mahdah, yang berarti apa saja yang sifatnya dibolehkan syariat, bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk Tuhan, Allah Swt, sebagaimana hadis yang begitu popular, yang kerap disebut pertama kali dalam kitab-kitab para ulama. Berkaitan dengan kekuasaan, ada perbedaan dasar mengenai hal ini. Menurut Kuntowijoyo, kekuasaan Tuhan itu membebaskan, sementara kekuasaan manusia itu mengikat. Selain menjelaskan tentang kesadaran ketuhanan, sastra profetik juga menghendaki kesadaran kemanusiaan.

Kaidah ke-3, keterkaitan antarkesadaran. Kuntowijoyo menyebutnya: dari Tuhan ke Manusia. Maksudnya, hal ini berkaitan dengan ajaran hablun-minallah dan hablun-minannas. Menurutnya, kesadaran ketuhanan adalah continuum kesadaran kemanusiaan, begitu juga sebaliknya. Lanjutnya, ia menuliskan begini, “Kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan adalah dua tema besar dalam sastra. Tetapi, karya-karya dengan tema serius seperti itu tidak akan diapresiasi oleh publik, karena dalam budaya massa, umum akan lebih tertarik kepada hal-hal yang emosional dan yang mengundang curiosity.”

Berkaitan dengan kesadaran ketuhanan, di negeri ini hampir tak ada masalah. Negara kita termasuk negara yang lebih “religius”. Meski tak dapat dipungkiri, tak sedikit muda mudi di media sosial berkoar tidak percaya tuhan, mengaku ateis, sekuler, liberal, dan seterusnya, ada juga sebagian manusia dewasa yang lebih mengutamakan budaya ketimbang kewajiban agama (dari perspektif kita yang beragama Islam). Adapun soal kesadaran kemanusiaan, isu-isu mengenai hal ini masih teramat luas untuk disorot. Lihat saja misalnya: “penindasan” buruh, soal gaji guru, pungutan pajak, hilangnya solidaritas sosial, kriminalitas, kemisikinan, dan lain sebagainya.

Bagian kedua, yakni etika profetik. Sastra profetik tidak otoriter, tidak memilih satu premis, tema, teknik, dan gaya. Keinginannya hanya sebatas di bidang etika. Disebut profetik karena ingin meneladani Nabi (prophet). Mengenai asal-usul kata ini, kita bisa merujuknya pada buku seorang filsuf, Muhammad Iqbal. Ringkasnya: Nabi Muhammad ketika Isra Miraj, mencapai tempat tertinggi (bertemu dengan Allah), suatu cita-cita yang selalu dirindukan oleh semua hamba Allah, termasuk para sufi. Kalau orang biasa, setelah bertemu dengan-Nya, bisa dipastikan ia tak mau kembali. Namun, berbeda dengan Nabi Muhammad, yang rela kembali ke bumi demi umatnya untuk menunaikan tugas-tugas kenabian.

Kuntowijoyo juga menjelaskan bahwa etika profetik ada di dalam al-Quran (Surah ali-Imron ayat 110), “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Di dalam ayat tersebut, etika profetik ada tigal, yakni: amar ma’ruf = humanisasi, nahy munkar = liberasi, dan tu’minuna billah = transendensi. Ketiga hal ini adalah syarat untuk “menjadi umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”, syarat menuju apa yang disebut rahmatan lil ‘alamin, menjadi pelayan umat.

Kita ulas dari bagian per bagian. Bagian ke-1, humanisasi. Lawan humanisasi adalah dehumanisasi. Jika dulu Kuntowijoyo menunjukkan kalau tanda-tanda masyarakat di masanya mulai ke arah dehumanisasi. Maka, di hari ini, hal tersebut memang begitu adanya. Kita semua pasti merasakan hal ini.

Dehumanisasi adalah objektivasi manusia, agresivitas, loneliness, dan keterasingan spiritual. Tanda dehumanisasi adalah perilaku manusia digerakkan berdasar ketaksadaran (bukan dari kesadarannya). Menurut Kuntowijoyo, dehumanisasi bisa dilihat melaui tiga hal: (a) terbentuknya manusia mesin, (b) manusia dan masyarakat massa, serta (c) budaya massa.

*Kita cukupkan sampai sini. Sembari mengunyah dan meremah-remah. []

 

~ Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *