Setelah memeras otak hingga berkeringat di sekujur tubuh, tulisan yang panjang itu selesai juga akhirnya. Tapi jangan salah, ternyata tulisan yang panjang belum tentu bisa membuat pembaca yang dituju paham.
Ada kalanya, justru tulisan yang pendek yang bisa menjelaskan dengan singkat, padat, lugas, dan jelas. Apalagi di tengah cepatnya orang scroll media sosial. Lihat saja generasi gawai masa kini. Sering sekali saya melihat muda-mudi di zaman ini ketika melihat gawainya, yang dibuka kalau tak reels Instagram ya (video) Tiktok. Jempolnya bergerak cepat naik turun mengganti video yang dilihat.
Ya, begitulah. Dulu saya merasa heran. Merasa aneh dengan tingkah yang begitu. Apa cuma saya saja yang merasa heran dengan kebiasaan manusia kini?
Pada akhirnya, belajar menulis pendek itu dibutuhkan. Salah satunya untuk kebutuhan ini. Agar nilai membaca “klasik” tetap terjaga di muda-mudi zaman kini.
Meski begitu, jangan sampai kita tak bisa menulis panjang. Tak bisa menguraikan persoalan dalam tulisan, apalagi untuk suatu tema yang memang kita tekuni. Mengenai persoalan pendidikan karena kita sebagai guru. Mengenai persoalan buku karena kita selaku penulis. Mengenai persoalan ekonomi karena kita sebagai pelaku bisnis. Mengenai problem kesehatan karena kita sebagai tenaga kesehatan. Dan seterusnya, bermacam-macam persoalan di tiap bidang.
Sekali lagi, di zaman seperti ini. Bisa menulis pendek itu penting juga. []
Viki Adi N
