Kabar Muram dari Perbukuan Islam

Kalau dapat kabar dari kawan yang bergelut di dunia perbukuan Islam, kategori pembaca muda-dewasa, isinya tak lebih mengenai kemuraman. Mulai ditinggal pembaca. Mulai sepi.

Tak seperti dulu lagi, tuturnya. Tak seperti zaman ketika diskusi pemikiran buku masih asyik dibincang. Tak seperti dulu lagi ketika kaum intelektual, maksudnya mahasiswa, membawa buku-bukunya di tas punggung ke mana saja mereka pergi. By the way, sepertinya tas punggung sudah berganti menjadi tas slempang kecil. Makanya buku sudah tak muat.

Tuturnya lagi, (sebagian besar) mahasiswa sudah tak lagi suka dengan buku dan diskusi agak mbentoyong. Termasuk mereka yang disebut aktivis mahasiswa atau aktif di gerakan mahasiswa.

Saya sendiri tak kaget dengan hal tersebut mengingat masih satu dua berinteraksi dengan teman-teman di gerakan mahasiswa. Memang, semuanya sudah berubah. Menurut saya, tak perlu dipaksakan. Kalau mereka tak mau membaca, biarkan saja.

Tak perlu menghendaki semua, minimal ada sebagian kecil saja di tengah komunitas mereka yang masih memiliki tradisi ilmu, termasuk membaca di dalamnya. Tak perlu banyak-banyak. Mereka aktif di dalam. Minimal, ada semacam klub baca dan berdiskusi. Saling melempar dan berbagi pikiran serta keresahan. Mengkaji satu buku ke buku yang lainnya. Menimba ilmu dari yang lebih paham, dan seterusnya. Pikiran-pikiran dan keresahan-keresahan itulah yang sebenarnya akan menghidupi nyala gerakan. Itu saja sudah cukup. Ada nyala, ada api. Kecil? Tak masalah.

Lanjut lagi, karena kondisinya sudah berbeda, maka diskursus-diskursus mengenai “penghargaan” terhadap buku atau mengenai pentingnya tradisi ilmu perlu terus digali, dikaji, didiskusikan, di komunitas-komunitas mereka. Saya yakin, kalau mereka tahu mengenai bagaimana para cendekiawan (Muslim) terdahulu begitu gila terhadap buku dan ilmu, mindset mereka juga akan berubah.

Berat? Jelas! Lawan buku itu gawai. Itu sudah pasti. Tak akan pernah ada yang bisa menyangkalnya. Untuk itulah sedikit orang atau lingkar kecil yang aktif, yang suka buku, harus selalu ada. Itu sudah cukup. Itu sudah paling minimal.

Jika tak ada? Nah, kalau sudah tidak ada lagi ya sudah. Tamat. Saya tidak tahu lagi solusinya kalau sudah begitu. Sebaik apa pun warisan dalam konstitusi gerakan―misalnya mengenai kurikulum, list buku yang wajib dibaca―tak akan berpengaruh kalau dari penggeraknya tidak sadar. Malahan, jadi formalitas belaka.

Kembali ke kabar muram di awal. Sejatinya, ketahuilah, salah satu kemuraman buku (muda-dewasa) Islam adalah karena tidak doyannya lagi para aktivis membaca. Jika kini mencari buku-buku rujukan kategori tertentu susah, ingatlah, bahwa penerbitnya bukan tak ingin menerbitkannya. Namun, karena memang mereka sudah tidak bisa menerbitkannya lagi. Ada krisis “ekonomi” di dalam tubuh mereka. Daya serap rendah, sementara cost produksi besar. Dalam beberapa kasus, penerbitnya bahkan sudah hilang.

Jadi, jangan kaget soal itu.  []

 

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *