Merenungi Surah Pembuka Al-Qur’an

Oleh: Rifky Maulana

Tafsir itu adalah penjelasan, dalam konteks Al-Qur’an, tentu yang dimaksud adalah penjelasan atas perkataan Allah yang diwahyukan pada nabi-Nya berupa Qur’an. Tafsir itu teramat diperlukan bahkan urgent sebab sifat dari ayat-ayat Al-Qur’an itu terbagi menjadi dua hal, yakni yang sifatnya jelas (muhkamat) dan samar (mutasyabihat). Sebab itulah ulama yang memiliki otoritas atas tafsir melakukan penafsiran atas Al-Qur’an agar umat Islam tidak kebingungan dalam memahami ayat yang mutasyabihat itu. Apalagi ayat yang bersifat muhkamat itu sendiri masih ada yang disalahpahami. Namun apa yang akan ditulis nanti ini bukanlah tafsir, melainkan hanyalah lintasan-lintasan pikiran yang kerdil ketika membaca ayat Al-Qur’an.

Tentu penulis berharap agar pikiran-pikiran kecil ini bermanfaat dan turut menjadi sumbangan atas khazanah ilmu pengetahuan. Dan penulis juga menyadari bahwa dirinya sangat fakir atas ilmu, terutama mengenai Al-Qur’an, oleh karenanya dalam menulis ini, penulis merujuk tiga tafsir agar tidak melenceng dari makna-makna yang sebenarnya. Ada pun tafsir yang dimaksud adalah Tafsir Al-Aisar yang ditulis oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazari, selanjutnya tafsir Al-Azhar oleh Buya Hamka, dan yang terakhir adalah tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang ditulis oleh Sayyid Quthb.

Semoga Allaah membimbing penulis dan menjauhkan peulis dari kesilapan atas pikiran-pikiran kecil yang akan ditulis ini, apalagi ilmu itu dari Allah, apalagi Al-Qur’an yang merupakan perkataan-Nya.

 

***

 

Merenungi Al-Fatihah.

Ada 1 surah yang berisi 7 ayat dalam Al-Qur’an yang dibaca berulang-ulang minimal sebanyak 17 kali dalam sehari yang mana surah itu bernama Al-Fatihah. Al-Fatihah itu bermakna pembuka atau dalam makna lain permulaan dari segala sesuatu. Jika boleh dikatakan surah ini merupakan pembuka atau pintu untuk memasuki surah dan ayat-ayat yang lain yang mana kesemuanya itu akan kembali pada surah Al-Fatihah.

Menariknya surah ini dibuka dengan kalimat:

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ (bismillahirrahmanirrahim) yang bermakna dengan menyebut nama Allaah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang pertama ini merupakan bentuk adab kepada-Nya dalam memahami kalam-Nya, apalagi ilmu itu semua berasal dari-Nya yang sudah seharus-Nya kita menundukkan diri kepada-Nya.

Yang kedua, di dalamnya terkandung kasih dan sayang-Nya, artinya Al-Qur’an yang merupakan petunjuk untuk manusia yang berisi banyak aturan, larangan, bimbingan, dan pelajaran ini bukanlah sebuah bentuk pemberatan kepada manusia yang sarat dengan kezaliman, melainkan sebuah bentuk kasih dan sayang. Dalam ayat lain, Allah tegaskan bahwa bentuk sayang-Nya itu berupa pengajaran Al-Qur’an kepada manusia (Ar-Rahman ‘Alamal Qur’an), ini semakin menguatkan bahwa perintah perjalanan kepada kita dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an merupakan bentuk kasih dan sayang-Nya, jika boleh dikatakan adalah bentuk dan kasih sayang-Nya yang paling besar.

Yang ketiga, ini adalah bentuk pengenalan Asma (nama) Allah. Dengan dibukanya surah ini dengan kasih dan sayang-Nya, seolah-olah nama ini adalah nama-Nya yang paling utama selain nama “Allah”. Hal ini begitu tampak dengan jelas dengan banyak-Nya pemberian yang Ia berikan kepada kita, seperti misalnya kesehatan, materi, akal, dan lebih-lebih adalah ilmu dan iman; sedangkan pada sisi yang lain, sebenarnya Allah tidak butuh kita. Ini juga membedakan Allah dengan hal-hal lain yang manusia Tuhankan seperti dewa-dewa yang seringkali ditampilkan dengan sangat seram, menakutkan, dipenuhi kemarahan, dan syahwat kekuasaan sebagaimana yang diungkapkan Prof. Hamka dan Sayyid Quthb dalam tafsirnya.

Oleh karenanya, sudah seharusnya kita memuji-Nya sebagaimana ayat kedua yang berbunyi:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ (alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin) yang berarti segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Pertama, ini adalah pujian yang kita berikan kepada-Nya atas sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Kedua, Ini menandakan bahwa hanya Allah yang harusnya kita puji, sebab segala keagungan, kekuasan, penciptaan, dan adanya alam semesta ini adalah atas kehendak-Nya serta bentuk kepemilikan-Nya, serta tiada yang bisa terjadi pada dunia ini kecuali atas kehendak dan izin-Nya.

Ketiga, secara tidak langsung, ini juga merupakan sindiran kepada manusia yang seringkali memuji makhluk secara berlebihan, apalagi manusia sering memuji dirinya sendiri dan merasa tinggi sehingga melahirkan kesombongan. Dengan ayat ini harusnya lunturlah kesombongan dan keangkuhan manusia karena sebenarnya yang layak dipuji adalah Allah; sedangkan manusia tidaklah bisa apa-apa tanpa-Nya.

Keempat, ini juga bentuk adab dan sikap merendahkan diri di hadapan yang Maha Tinggi dan Maha Agung yang di dalam-Nya terkandung bentuk penyerahan diri, syukur, dan pengakuan yang melambangkan sikap pentauhidan kepada Allah.

Kelima, ini menandakan bahwa Allah menyukai pujian dan pujian itu harus ada sebabnya sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir dalam tafsir-Nya, karenanya hendaklah kita sering memuji-Nya dan bersyukur atas setiap nikmat yang Ia berikan walau sekecil apa pun, lebih-lebih Ia memberikan itu secara cuma-cuma walau Ia sebenarnya tidak butuh kita sama sekali.

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  (Ar-Rahmaanirrahiim), artinya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Arti dan makna pada ayat ini sudah diungkapkan pada ayat pertama, namun alasan kenapa kata ini diulang adalah sebagai bentuk penegasan bentuk dan kasih saying-Nya tersebut kepada manusia. Selanjutnya ini juga menandakan bahwa kasih dan sayang-Nya itu melampaui sifat-sifat-Nya yang lain seperti murka dan hukuman-Nya yang mana hal tersebut sangat tampak sekali pada sikap Allah yang begitu luas ampunan-Nya, memberi hidayah pada orang-orang kafir yang terlampau banyak dosa, dan penundaan hukuman pada manusia yang berbuat maksiat sebagai kesempatan untuk bertobat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *