Media Sosial dan Konsep Kebenaran (2)

“Hari ini kita hidup di zaman informasi yang kecepatan arusnya menimbulkan kekacauan. Kemudahan aksesnya membuat orang dungu menjadi sok tahu sehingga turut bicara di bidang yang bukan otoritasnya. Sedangkan orang berakal bekerja keras memisahkan referensi dari berbagai sampah informasi. Sementara penyedia informasi seringkali melakukan manipulasi. Intellectual confusion….”

Tulisan ustadz Anton Ismunanto pada tahun 2009 ini masih sangat relevan dengan keadaan sekarang. Kita mendapati banyak orang berfatwa bermodalkan mesin pencari Google, mudahnya pencarian informasi sekarang ini memiliki efek samping mudahnya juga orang-orang membuat konten yang entah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak.

Banjir informasi ini membuat kita harus memilah mana informasi yang mana yang patut kita masukkan ke dalam memori otak kita. Sayangnya hal tersebut sedikit mustahil untuk dilakukan karena tampilan media sosial yang dibuat sedemikian rupa sehingga pengguna tidak dapat berhenti untuk melihat aktifitas di sosial media. Fenomena ini dikenal dengan istilah polarisasi, dimana pengguna dibuat kecanduan dalam menggunakannya.

Pada tulisan sebelumnya sudah kita ketahui salah satu keistimewaan memiliki sumber referensi yang valid, namun tidak semua orang bisa memilikinya. Ini mengakibatkan ketidakmampuan semua orang dalam memilih dan memilah informasi, terkait benar-tidaknya hingga siapa orang dibalik konten tersebut.

Bersyukurlah kita yang memiliki banyak sumber referensi yang bisa dijadikan rujukan. Bahkan adanya fitur bagikan dalam media sosial ini memiliki dua mata pisau, bisa sangat bermanfaat jika konten itu baik dan benar, tapi bisa sangat berbahaya jika konten itu salah bahkan berita bohong atau biasa dikenal dengan istilah hoax sekarang ini.

itulah bentuk kekacauan yang dimaksud dalam kutipan pendek diatas. Sekiranya bisa menjadi sedikit refleksi untuk kita semua. []

Yuri

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *