Agama ini adalah bagi siapa saja yang mempunyai harapan. Harapan bagi mereka yang mau berjuang pada Izzatul Islam wal Muslim. Tentu harapan-harapan ini disandarkan kepada Allah Swt. Harapan yang menjadi jembatan bagi terciptanya sebuah pencapaian. Pencapaian yang hanya akan diraih melalui sebuah perjuangan.
Pencapaian ini pun tidak diraih secara instan melainkan dengan proses kesabaran, keuletan, keikhlasan dan disertai dengan tawakal kepada Allah. Bagi para aktivis dakwah tentu saja poin-poin itu harus dikantongi sebagai bekal untuk berangkat ke medan dakwah. Namun tanpa disadari terkadang ada rasa kecemasan tentang bagaimana keberhasilan dakwah yang tak kunjung menemui titik terang. Padahal, hal seperti itu bisa membuat aktifitas dakwah menjadi kurang semangat dan menggoncang niat yang sebelumnya lurus.
Niat sebagai pondasi dalam beramal seharusnya tidak menjadikan ia terguncang hanya karena hasil yang didapat tidak sesuai dengan ekspektasi. Kalaulah Allah menilai perjuangan itu orientasinya kepada hasil, lalu untuk apa Rasulullah Saw berdakwah ke kota Thaif dengan bermandikan darah dikakinya, bukannya menerima hasil yang baik justru penolakan kepada risalah Islam. Namun, bukan berarti perjuangan itu telah usai. Semangat perjuangan pun tak pernah padam dan terus berlanjut ke generasi berikutnya yang pada akhirnya keturunan para penduduk Thaif pun menerima risalah Islam.
Seperti halnya perjuangan para pahlawan terdahulu yang banyak menemui kegagalan setelah berperang. Bahkan harus menempuh waktu 350 tahun untuk menemui kemerdekan. Melewati begitu banyak generasi. Namun dengan semangat yang tak pernah berhenti pada akhirnya kemerdekaan itu bisa didapat bahkan tanpa melalui peperangan, melainkan karena jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu yang berimbas pada kekosongan kekuasan. Yang setelahnya diproklamasikan kemerderkaan Indonesia.
Memang semua itu sudah kehendak Allah. Namun yang harus digaris bawahi bahwa mereka tak pernah memikirkan untuk berhenti berjuang walau sudah melewati banyak kekalahan. Kalaulah para Ulama, santri dan pejuang berhenti berjuang ditahun ke 200 penjajahan barat karena tidak menemui hasil yang diharapkan, mungkin saja bangsa kita saat ini telah diduduki oleh keturunan² asing. Dengan semangat juang yang tinggi, hati ikhlas, dan konsistensi pada akhirnya kita dapat berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka.
Adakalanya perjuangan ini tak harus kita menuai hasil sekarang. Cukuplah gembira dengan proses-proses kenikmatan dalam berjuang. Terutama perjuangan hidup dan dakwah. Kebersemangatan dalam berjuang sudah seharusnya digenggam hingga akhir hayat.
Akhmad Sukhrowardi, Bekasi, 23:57 18.8.21.
