Ketidakpercayaan rakyat kepada penguasa berakar dari sini: ketidakadilan. Kerusuhan sosial, protes sosial, demonstrasi, kemarahan rakyat, dan sejenisnya lahir karena keadilan yang hilang. Kita bisa melihat rangkaian peristiwa pada tahun-tahun yang lalu—atau dekade lalu tepatnya—sebelum ada pandemi. Begitu banyaknya protes sosial kepada para penguasa diktator di berbagai belahan dunia. Misal saja Arab Spring. Berguguranlah para penguasa itu satu per satu. Semua dikarenakan ketidakadilan di dalam negaranya. Tak usah jauh-jauh di Timur Tengah, di negeri kita sendiri saja peristiwa itu pernah terjadi. Kita mengenalnya dengan peristiwa reformasi (1998).
Oleh karenanya, keadilan adalah sesuatu yang begitu penting. Keadilan biasanya dimaknai sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam hal ini sesuai pandangan hidup Islam. Jika prinsip ini ditegakkan dalam semua aspek, niscaya penguasa akan dicintai oleh rakyatnya.
Imam al-Ghazali dalam kitab at-Tibr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk menuliskan sepuluh dasar-dasar keadilan yang ditujukan kepada penguasa. Kala itu, tulisannya ditujukan kepada penguasa yang bernama Muhammad bin Malik Syah sebagai bentuk nasehat. Meski ditujukan kepada seorang Sultan di masa lampau, ternyata setelah saya merenungi nasehat-nasehat ini, masih begitu terasa dan terus relevan di masa kekinian serta kedisinian.
Berikut adalah ringkasan dari sepuluh nasehat-nasehatnya.
Pertama, penguasa harus tahu nilai kekuasaan beserta resiko dan bahayanya. Ia harus tahu dua konsekuensi jika berkuasa. Jika menggunakan kekuasaannya sebaik-baiknya—sebagai bagian dari ibadah dan menegakkan nilai-nilai Islam—maka surga dan kebahagiaan balasannya. Berlaku juga untuk sebaliknya. Betapa banyak pesan Rasulullah Muhammad berkaitan dengan penguasa, baik berupa ancaman, berita gembira, resiko, bahayanya, dan lain sebagainya. Kata-kata Imam al-Ghazali ini barangkali begitu pedas, “Kekuasaan merupakan nikmat Allah, maka siapa yang tidak mengelolanya dengan baik berarti ia telah kufur nikmat.”
Kedua, penguasa harus selalu berkeinginan untuk menyaksikan para ulama dan antusias mendengar nasihat-nasihatnya. Selain itu, penguasa juga harus berhati-hati kepada ulama yang cinta dunia. Tandanya adalah mereka suka memuja-muja penguasa. Ulama yang baik dan sejati adalah yang ia tidak cinta dunia dan seringkali memberi nasehat kepada penguasa. Betapa kita bisa menyaksikan hal ini dalam catatan sejarah peradaban Islam. Selalu ada saja ulama yang menempel dan menjilat penguasa, tetapi ada juga yang tetap teguh mengingatkan meski nyawa menjadi taruhannya. Kalau hari ini, apakah hal seperti itu masih ada? Coba tengok saja ke istana penguasa. Nah, mungkin kalian akan menemukannya.
Ketiga, penguasa tidak boleh puas hanya berpangku tangan melihat kedzaliman. Entah itu yang dilakukan oleh pejabat, orang di sekitar istana, dan lain sebagainya. Jangan sampai penindakan hanya dilakukan kepada rakyat kecil saja sementara para pejabat dan orang yang memiliki uang tak tersentuh sama sekali. Paling penting dari semua itu, penguasa juga perlu melihat dirinya sendiri. Jangan-jangan dirinya sendirilah yang dzalim. Fenomena demikian barangkali sampai saat ini masih saja terus terjadi. Seolah-olah terulang dalam setiap rentetan peristiwa sejarah.
Keempat, penguasa jangan sombong. Dari kesombongan akan memunculkan kemarahan rakyat. Kemarahan akan membuat dendam. Penguasa harus bisa mengontrol kemarahan, mudah memaafkan, mengampuni, serta berlaku murah. Di masa pandemi seperti ini, pejabat negara tak elok membeli mobil baru dinas. Jangankan mobil, mencari sesuap nasi pun rakyat kecil harus berjalan kaki berkeliling pontang-panting. Sungguh tak elok, wakil rakyat menghabiskan anggarannya hanya untuk memperbaiki rumah dinas. Apa ia tak tahu bagaimana rakyat kecil susah membayar cicilan kontrakan?
Kelima, penguasa itu sejatinya bagian dari rakyat. Ia ada—menjadi penguasa—juga karena rakyat. Kalau rakyat tak senang, seharusnya ia juga merasakan demikian. Kalau penguasa memberikan sesuatu yang terbaik untuk dirinya, seharusnya ia juga memberikan yang terbaik kepada rakyatnya. Bukankah kanjeng Nabi Muhammad mengatakan kalau seseorang yang tak sayang kepada kaumnya berarti bukan bagian darinya?
Keenam, penguasa jangan jenuh dan bosan untuk membukakan pintu serta menemui rakyatnya. Imam al-Ghazali juga menyindir jangan sampai penguasa lebih suka ibadah-ibadah sunnah ketimbang menemui rakyatnya, mendengar keluhkesahnya, dan membantunya. Apa salahnya menemui para demonstran. Bukankah menemui itu hal yang tak sulit? Seharusnya para penguasa asing lebih layak untuk tak ditemui ketimbang mengabaikan rakyatnya sendiri. Apa itu soal kemanan negara? Atau itu karena soal investasi? Apa itu karena soal berbisnis?
Ketujuh, penguasa jangan sampai menyenangkan nafsunya. Hidup bermewah-mewah sementara rakyatnya sendiri kelaparan. Kata seorang yang bijak begini, “Mereka yang kau pilih saat pemilu, mereka yang datang meminta-minta dukunganmu, mereka pula yang akan menghentikanmu untuk menepi di jalan, lalu lewat begitu saja.”
Kedelapan, sepanjang penguasa bisa melakukannya dengan lembut dan halus, maka jangan sampai menggunakan cara yang keras dan kasar. Beberapa pengamat dan pakar politik di berbagai media mengkritik gaya pejabat di negara ini yang sering melontarkan kalimat-kalimat kasar dan keras. Tak elok—apalagi di masa yang sedang serba sulit ini bagi rakyat kecil—pejabat melontarkan kalimat yang membawa emosi rakyat.
Kesembilan, penguasa harus bersungguh-sungguh membuat rakyat senang kepadanya karena ia menjalankan syariat-Nya. Ditulisan yang lain, saya pernah membahas soal integritas. Nah, inilah yang dimaksud. Penguasa harus menunjukkan dan mencontohkan kepada rakyatnya bahwa ia berintegritas. Integritas berkaitan dengan ketaqwaan, keberislaman, keimanan, dan ihsan. Kerja nyata, bukti nyata. Kerja, kerja, kerja! Banyak kerja, bukan banyak bicara! Semoga itu bukan hanya jargon.
Terakhir, penguasa dilarang menyenangkan orang lain dengan cara melanggar syariat. Membuka jalan mudah untuk koruptor, memperlemah lembaga anti-korupsi, mendiskon hukuman para pelanggar kelas atas, dan lain sebagainya. Terkait ini, saya yakin kita semua paham. Tak perlu kita ulas panjang kali lebar kali tinggi.
Itulah sepuluh pesan dari Sang Hujjatul Islam Imam al-Ghazali kepada Sultan. Semoga kesepuluh itu bisa menjadi pengingat para pemimpin negeri kita agar berlaku bijak dan adil, sekaligus bagi diri kita pribadi tentunya. []
Viki Adi Nugroho
