Lagi dan Lagi, Ini Masih Tentang Buku

Beberapa hari terakhir, saya kerap dihujani pertanyaan yang hampir sama. Soal buku, soal membaca, soal apa yang sedang digandrungi, bagaimana kabar buku pergerakan, dan semacamnya. Belum lagi soal maraknya toko buku tutup.

Misalnya, ada yang bertanya mengenai anak-anak kampus sekarang membaca apa, apakah buku pergerakan masih dibaca? Saya hanya senyum dan ketawa lepas. Itu jawabannya. Yang bertanya pasti sudah tahu maksudnya.

Kalau mereka baca buku pergerakan (Islam), penerbit-penerbitnya pasti hidup. Coba lihat penerbit-penerbitnya, hidup segan mati tak mau. Faktanya begitu. Hal tersebut juga berpengaruh pada toko buku/distributor/reseller yang tadinya menjual buku semacam itu akhirnya sedikit demi sedikit beralih ke “genre” lain. Semua demi berjalannya kehidupan. Demi periuk yang tak boleh mati kepulannya.

Dalam satu pembicaraan yang lain, seorang penulis juga menyatakan bahwa penjualan buku-bukunya menurun drastis. Ketika bertanya mengenai buku di Gaza, saya jawab juga sama. Memang kondisinya sedang seperti itu. Semuanya. Jika ada penerbit Islam yang masih hidup dan lancar, artinya ada faktor atau variabel yang mendukung lainnya. Bisa karena modal, bisa juga karena adanya lini “genre” di luar buku “idealis”, yakni tema/genre yang populer, diminati banyak kalangan, yang bisa mendatangkan uang lebih banyak dan lebih cepat.

Jadi, seidealis-idealisnya mereka, pada akhirnya akan menurunkan semua “jurus” agar tetap hidup dengan membuat banyak lini atau ceruk.

Adapun saat ada yang bertanya buku apa yang sedang ramai dan digandrungi, saya jawab: buku anak. Tentu saja para penulis yang sering melemparkan pertanyaan mengenai penurunan penjualan buku-bukunya tertawa lebar. Sampai-sampai ada statement, “Anaknya yang mbaca, orang tuanya entah!”

Lucu memang melihat fenomena ini. Para orang tua berlomba-lomba membelikan buku untuk anaknya, namun mereka sendiri enggan untuk mendaras buku. Tapi entah kenapa, saya justru memandang masih ada seberkas sinar di ujung sana. Siapa tahu, anak-anak yang diberikan buku-buku ini akan menjadi pencandu buku ke depannya. Sehingga generasi yang akan berlahiran adalah generasi yang suka pada buku dan ilmu. Mereka bisa membeda dari orang tuanya.

Mengenai toko buku tutup, sudah pernah saya ulas di tulisan sebelum-sebelumnya. Namun, jika dikaitkan dengan “darurat literasi” seperti yang dikatakan oleh para netizen, agaknya terlalu berlebihan. Faktanya, jika soal buku, profesi bookstagram masih digandrungi. Postingan mereka masih tetap ramai dari para booklovers. Begitu juga profesi semacam review atau ulas buku di YouTube, podcast, dan sejenisnya, mereka masih tetap hidup dengan para komunitas atau fans-nya.

Ada satu fakta menarik mengenai ebook di platform Google Play Book. Misalnya, buku-buku Hamka. Ketika kita lihat, harga offline dan online tak jauh beda. Namun, penjualan di platform ebook ini tetap lumayan besar. Maksud saya begini, jika harga sama, bukankah akan lebih baik memilih yang berbentuk fisik? Tapi generasi muda kini sepertinya tak peduli dengan hal tersebut. Mereka lebih memilih kepraktisan.

Adapun jika harga di platform ebook lebih murah, kita masih menganggapnya wajar ketika sebagian orang kemudian menjatuhkan pilihan pada ebook ketimbang beli fisik. Memang, hampir sebagian penerbit atau penulis ketika menjual ebooknya di platform Google Play Book, akan menurunkan harga jual dari buku fisiknya. Belum lagi ditambah diskon oleh Google dan bagi-bagi voucher, wajar jika banyak anak zaman now memilih di sana. Sesuatu yang sangat berbeda dengan generasi saya ke atas yang masih tetap menyukai yang fisik.

Jadi, agaknya terlalu berlebihan dan gegabah jika kita mengatakan sedang terjadi darurat literasi. Namun, istilah darurat literasi juga perlu kita antisipasi. Kita perlu menjadikannya sebagai warning bersama. Apalagi di zaman sekarang sudah bermunculan dan populer website AI (Artificial Intelligence) yang bisa membantu semua orang dengan kemudahan dan kepraktisannya. Menulis dan membaca bisa-bisa menjadi pekerjaan mereka (AI) lalu memberikannya kepada manusia dalam bentuk ringkas-ringkasnya. Begitu sekali ya dunia ini!

***

Kalau kondisinya seperti di atas, kira-kira bagaimana menurut kalian? Apakah industri buku (khususnya buku pergerakan dan pemikiran) akan menemukan kematiannya secara perlahan? Ataukah justru sedang terjadi masa transisi generasi? Atau seperti apa? Coba tuliskan pendapat kalian ya!? []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *