Menulis dari yang Kecil

Sebagian dari kita mungkin berpikir kalau menulis harus selalu dari yang besar. Selalu dari ide-ide besar. Selalu dari sesuatu yang begitu idealis.

Apakah begitu? Tidak juga sebenarnya. Tak harus dari yang membuat orang pusing untuk memikirkannya. Malahan, menulis itu bisa dimulai dari hal-hal kecil yang kadung atau sering dianggap remeh.

Kalian tak percaya? Coba saja baca buku karya (ustadz) Muhammad Fauzil Adhim yang berjudul “Agar Cinta Selalu Bersemi”. Kita akan menemukan satu jargon dari tulisan di buku-buku itu: little things mean a lot. Banyak hal-hal “kecil” yang sesungguhnya tidak kecil.

Misalnya, di awal buku, kita akan disuguhkan dengan bahasan “panggilan” untuk suami atau istri. Perlu diketahui, buku ini bertema parenting. Jarang-jarang sekali ya saya mengulas buku parenting. Bagi sebagian orang, nama panggilan mungkin hal yang biasa saja. Tapi tidak menurut penulis buku ini, sesuatu yang terlihat kecil ini ternyata jika tidak diperhatikan dengan baik justru bisa menimbulkan bencana besar, yaitu keretakan rumah tangga.

Kita tidak akan fokus pada bahasan bukunya, tapi fokus pada hal-hal sepele dan kecil yang menjadi pokok bahasan. Sampai sini kita jadi mengerti bukan? Ternyata hal-hal yang sering dianggap remeh malah bisa menjadi tulisan menarik dan bahasan serius.

Begitulah dalam menulis, bisa saja kita angkat topik-topik kecil dan kadang dianggap remeh oleh sebagian orang. Jika kita bisa menyuguhkannya dalam bahasan yang menarik, apa saja yang kecil itu bisa menjadi pilihan orang mampir untuk sejenak membaca.

Sebagaimana halnya pengertian pada awalnya, menulis itu mengungkapkan apa yang kita pikirkan. Apa yang kita rasakan. Apa yang ingin kita tulis. Mulai saja dari yang kecil dan mudah. []

Viki Adi N

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *