Buku pertama yang terbit adalah suatu kebanggan, apalagi jika secara kuantitas pemesanan begitu dahsyat. Euforia bagi penulisnya luar biasa. Namun sayangnya, euforia itu bisa melenakan.
Soal keengganan meningkatkan kualitas misalnya. Karena puas akan jerih karya pertama, ia merasa biasa saja, lalu karya kedua muncul. Ternyata publik tak antusias seperti sebelumnya. Disitulah sebenarnya komitmennya diuji. Apakah ia akan berhenti dan putus asa atau tetap terus berkarya sembari meningkatkan kualitas. Kesabaran adalah nafasnya. Soal ini sudah pernah saya singgung di tulisan sebelumnya.
Selanjutnya, euforia yang berlebih juga bisa meracuni penulis hingga pada tahap: tak mau berkarya lagi. Sebenarnya itu haknya. Tak berkarya lagi tak masalah. Tak ada yang salah juga sebenarnya. Hanya saja, orientasinya menulis jadi dipertanyakan publik. Apalagi pada mereka yang terlanjur percaya.
Akibat euforia selanjutnya ialah tak menghargai karya orang lain. Ini bisa juga terjadi. Menganggap remeh tulisan orang lain seolah rasanya tak ada yang salah, namun jika dicermati lebih dalam ada satu pelajaran berarti yang hilang. Apa itu? Soal belajar. Saya adalah orang yang meyakini bahwa menulis—khususnya para penulis mula—itu seperti meniru gaya penulis-penulis lainnya yang pada akhirnya para penulis mula menemukan gayanya sendiri. Ada semacam kebanggaan pada suatu gaya, bahkan ada masanya berganti-ganti, lalu pada akhirnya menemukan satu gaya pilihannya. Terkadang semua itu berjalan alamiah tanpa disadari. Semua itu butuh waktu. Kecepatannya tergantung seberapa sering ia belajar, menulis, membaca, mencoba, dan sebagainya. Ringkasnya: budaya literasi.
Bisa jadi, hal-hal di atas adalah kutub-kutub ekstrem euforia. Tulisan yang singkat ini semoga bisa menjadi pengingat kita bagi para penulis mula maupun yang ingin mencoba menjadi (calon) penulis atau yang ingin berkecimpung di dalamnya. []
Viki Adi N
