Buku Pertama dan Konsistensi

Buku pertama adalah karya penulis yang biasanya memiliki rating tinggi di awal karirnya mengudara. Makanya, kalau ada penulis baru di Gaza dan ia pertama kali menerbitkan buku, saya katakan padanya agar memasifkan publikasi ke khalayak. Syukur, sekencang-kencangnya dan sebesar-besarnya. Saya juga meminta agar gunakan semua sumber daya gratisan yang dimiliki, semisal jaringan pertemanan, jaringan medsos, jaringan alumni, dan sebagainya. Hasilnya, bisa dipastikan dahsyat. Banyak yang memesan. Di sini, kesan “bravo” dan “euforia” masih begitu terasa.

Nah, strategi di atas biasanya tak selalu berkaitan dengan soal kualitas. Tetapi jika kualitasnya baik, itu akan menjadi point utama dan akan menentukan pada buku selanjutnya.

Ada dua persoalan yang kerapkali ditemui selanjutnya setelah buku pertama terbit.

Pertama, para penulis yang “sukses di awal” kerapkali berhenti setelah karya pertama mengudara. Bisa jadi ia terlena karena kebesaran karyanya lalu enggan untuk menuliskan karya selanjutnya. Konsistensi penulis diuji di sini. Biasanya mereka akan tersadar ketika popularitas karyanya telah memudar.

Kedua, ujian karya kedua. Nah, ini yang cukup berat. Biasanya, karya kedua tak sesukses karya pertama. Ini memang bukan pakem. Ini hasil amatan saya saja, jadi belum tentu benar seratus persen. Karena ada juga penulis yang karya kedua dan selanjutnya selalu ditunggu-tunggu pembaca setianya. Soal ini, kualitas sudah berbicara. Artinya kualitas tulisan semakin meningkat dan ide-ide yang digelontorkan juga terbilang baru dan bisa diterima banyak kalangan.

Bagi kondisi karya kedua yang tak bisa mengulang sukses seperti pada karya pertama, sebenarnya juga belum tentu karena kualitas yang buruk. Bisa jadi karena di karya pertama, seperti yang saya katakan tadi: bagian dari bravo dan euforia. Itu adalah penghargaan publik dan khususnya para kawan.

Selain soal kualitas, momentum juga menentukan. Artinya bisa saja kualitas baik, tetapi peluncuran buku kurang pas momentumnya. Ini seringkali terjadi khususnya bagi para penulis dan penerbit yang masih baru. Ini wajar.

Soal kualitas yang menurun, itulah yang harus terus diperbaiki. Anggap saja itu bagian dari latihan. Kalau gagal, jangan berputus asa dan berhenti. Teruslah menulis, tak harus menjadi buku terlebih dahulu. Bangunlah kebiasaan menulis. Bacalah banyak hal.

Disitulah konsistensi penulis dipertaruhkan. Apakah ia akan terus merawat dan menumbuhkembangkan gagasan dan tulisannya, ataukah mati bersama keterpurukan, keputusasaan, dan kegagalannya.

Buku pertama saja belum ada, ini malah ngomong buku kedua. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *