“.. Makin hari makin susah saja menjadi manusia yang manusia, sepertinya menjadi manusia adalah masalah untuk manusia..”
Penggalan lirik lagu milik Iksan Skuter yang berjudul Bingung tersebut bisa dibilang menjadi sebuah curahan hati untuk kondisi sosial yang ada sekarang ini. susah ya menjadi manusia? Mau jadi apa ataupun melakukan apa saja selalu ada komentarnya, menurut A begini menurut B begitu, tak ada habisnya. Begitulah ketika seluruh standar penilaian kita sandarkan pada manusia.
Penilaian-penilaian antar manusia jaman sekarang di dasarkan pada pedoman pikiran untuk menggenaralisir segala hal. Misalnya saja ada seorang lelaki yang melakukan KDRT, lalu dia menganggap semua lelaki sikapnya sama kasarnya. Contoh lain ada seorang perempuan yang menangis ketika ada masalah, lalu dia menganggap semua wanita itu cengeng. Padahal jika kita melihat realita lebih luas, lebih banyak tipe sikap manusia yang bahkan tidak bisa disebut sama jika hanya berdasarkan jenis gender. Sikap menggeneralisir ini seakan sudah menjadi kebiasaan setiap orang, yang di bumbui kalimat “oh pantas saja… dia … sih”, sangat sering terdengar kalimat tersebut bukan?
Namun ketika kita mencoba belajar lebih dalam, sebenarnya sikap tersebut salah. Menurut ustad Fahrudin Faiz, sikap menggeneralisir termasuk dalam logical fallacy atau kesalahan dalam berfikir. Manusia memang dikaruniai jiwa untuk dapat merasakan berbagai hal, dan manusia juga diberi akal untuk dapat berpikir. Jangan sampai karena kurangnya pengetahuan, diri kita dikuasai oleh perasaan saja. Padahal ada akal juga yang berperan penting agar hidup lebih terarah.
Kembali lagi kepada pentingnya ilmu, peranan akal sangat berpengaruh dalam jalannya hidup kita. Ilmu apa yang kita dapat akan menghasilkan sikap apa yang akan kita buat. Tentu saja berbeda ketika tidak memiliki ilmu apapun untuk diterapkan, hanya berdasar pengalaman dan kata orang. Sibuknya kita pada urusan dunia membuat kita lupa, bahwa ada acuan tersendiri bagi kita seorang muslim. Semua hal sudah ada pedoman dan ilmunya dalam islam.
Mari terus belajar dan belajar hingga waktunya kita pulang menuju keabadian.
Yugana Firda Syu’ari, September 2021
