Saya pernah sangat kesal ketika menyampaikan salah satu cita-cita saya untuk melanjutkan studi suatu jurusan. Saat itu sahabat saya menolak mentah-mentah bahkan terkesan meremehkan, untuk apa mempelajari sesuatu yang tidak dibawa mati ? saya tidak langsung menolak maupun menerimanya, namun saya pikirkan berhari-hari dan ketika sudah ada keputusan ternyata waktu berjalan sudah 3 bulan lamanya.
Dia dengan gigih menyampaikan pendapatnya, sedangkan saya merasa tidak ada yang salah dengan keinginan saya. Sebenarnya apa yang salah dari mimpi saya ini? selama 3 bulan itu, berbagai pendapat dari banyak referensi teman saya kumpulkan untuk membandingkan keinginan saya dan pendapat sahabat saya waktu itu. Sebagian jawaban selalu mengisyaratkan bahwa keinginan saya yang salah dan pendapat sahabat saya yang benar. Rasa penasaran saya semakin besar dan mencoba mencari dan merenungi referensi lain. Dan saya menyadari sesuatu yang sangat penting yaitu tentang pondasi dasar keilmuan seorang muslim. Ya, saya diingatkan lagi tentang materi dasar tersebut.
Bagi “korban” sistem pendidikan wajib seperti saya ini, yang sangat sedikit porsi pengetahuan keislamannya. Belajar ilmu agama yang benar dan terstruktur menjadi prioritas utama dalam hidup. Bagaimana tidak? Hidup didunia akan gelap gulita ketika penerangan jalan tidak ada. Ketika dasar keilmuan wajib atau ilmu wajib ‘ain kita belum tuntas, hasil dari ilmu fardu kifayah atau ilmu-ilmu sekuler yang sudah terpisahkan jauh dari agama akan berguna seperti apa untuk islam? Ilmu-ilmu tersebut hanya akan berguna di dunia, dan apakah akan bernilai pahala ketika kita sibuk mengejar keilmuan yang tidak dibawa mati itu?
Mungkin pendapat sahabat saya akan berbeda ketika ilmu wajib ‘ain saya sudah tuntas, lalu memilih untuk melanjutkan bidang yang akan saya tekuni. Tapi kenyataannya memang, pendapat dia benar. Karena dasar dalam memilih keputusan adalah ilmu yang benar, bukan perasaan benar saja.
“jika teman-temanmu tidak mendukung karya atau usahamu, maka yang perlu diganti itu teman-temanmu. Bukan karya atau usahamu” J.S. Khairen.
Saat membaca quotes singkat dari novelis itu, saya langsung teringat sahabat saya sambal sedikit mengernyitkan dahi. Jika menuruti sisi emosional dan mengandalkan perasaan, pasti akan sependapat dengan quotes tersebut. Apalagi ketika kita sudah berusaha mati-matian untuk menuju cita-cita kita. Pasti banyak yang sependapat dengan kalimat itu, apalagi dia sudah dikenal banyak kalangan. Ganti saja teman yang seperti itu, atau ditukar dengan uang yang lebih berguna dan tidak banyak bicara.
Orang dengan banyak pengikut di media sosial ini melemparkan sebuah pendapat yang bertentangan dengan prinsip kita sebagai seorang muslim. Bukankah dalam hal muamalah kita memiliki kewajiban untuk mengingatkan? Lalu apa fungsi teman dalam hidupmu? Apakah hanya sebagai manekin berjalan yang ketika sudah tidak dibutuhkan maka dijual saja?
Namun semua itu kembali lagi pada prinsip masing-masing orang, apakah dia memiliki prinsip kebenaran dalam hidupnya, atau hanya menuruti perasaan saja. Jika sahabatmu mengingatkan tentang sebuah kebenaran meskipun menyakitkan, terimalah dan jangan ditolak begitu saja. Itu adalah bentuk kasih sayang seorang teman karena dia tak ingin dirimu mengambil keputusan yang salah. Jagalah teman semacam itu, karena akan ada penyesalan berkepanjangan saat kita kehilangan.
Yugana Firda Syu’ari 30/9/21
