Bahasa Lisan

Agaknya ini cukup menarik dalam dunia tulis menulis. Bahasa lisan ialah bahasa yang sering dipakai oleh penulis baru. Tapi jangan minder dulu, ternyata banyak penulis kenamaan yang juga menggunakannya. Semisal esai-esai yang ditulis Soekarno, isinya pasti meletup-letup. Tulisannya seperti orang yang sedang naik mimbar dan berpidato didepannya. Memang sudah kebiasaannya ketika naik mimbar, ia menyiapkan naskah terlebih dahulu.

Jadi, bagi penulis baru bahasa lisan itu biasa. Tak usah malu. Justru bahasa seperti itu juga sering digunakan oleh orang-orang besar dalam tulisannya. Pasalnya sebagian penulis baru terkadang masih dibuat pusing oleh gaya bahasa. Mereka takut akan buruknya “tampilan” tetapi luput pada substansi yang ingin disampaikan. Seharusnya dibalik dulu logikanya. Beda lagi kalau sudah level “pro”.

Namun, untuk menjadi “pro” dalam dunia ini dibutuhkan banyak pengalaman. Pengalaman apa? Tentu saja pengalamannya menulis dan kekonsistenannya. Semakin banyak jam terbangnya tentu akan berpengaruh terhadap levelnya. Nah, kalau dari sekarang sama sekali tak mencoba menuliskannya, bagaimana mau menjadi “pro”?

Logika sederhana ini saya kira penting untuk kita renungi khususnya yang baru, akan, dan sedang bergelut dalam dunia kepenulisan. Semua ada prosesnya dan nikmati saja. Rasanya jarang sekali ada penulis di karya pertamanya yang langsung meledak menembus jangkauan luas serta laris manis kecuali sebelumnya ia memang aktif di banyak komunitas. Jadi, bisa dipastikan karya pertamanya itu adalah “karya puncak” dari segudang aktivitasnya—termasuk menulis—di komunitas-komunitasnya.

Bisa dibayangkan bahwa meledaknya sebuah karya adalah jalan panjang penulisnya merangkai dunianya. Pasti ada pasang surut. Mengalami “penurunan” pasti pernah dialami. Namun mereka tak menyerah. Terus saja menulis dan berkarya. Disitulah jalan panjang pengalamannya dirajut. Itu semua yang akan membuatnya menyudahi level mudanya di dunia kepenulisan. Sekarang, tentukan saja! Kita akan segera memulainya atau menunda-nundanya. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *