Hidup Hari Ini

Jika bunek, cemas, bingung, bisa jadi karena kita terlalu memikirkan yang kemarin, telah lalu, atau besok, yang akan datang. Kekhawatiran akan yang lalu atau yang akan datang sering kali membuat orang stres, cemas, hingga pada suatu titik bisa menyebabkan penyakit fisik. Suatu yang jamak sudah diketahui dari amatan dokter sekaligus filsuf, Ibnu Sina.

Beruntung sekali bagi mereka yang mau mengambil pelajaran dari bagaimana burung menjemput rezeki. Pagi hari terbang. Lalu pulang membawa “sekantong” makanan untuk anak-anaknya. Itu terus yang dilakukannya.

Baiklah, itu memang naluri. Mengingat burung tak punya akal layaknya manusia. Kita manusia? Ya, kita manusia berarti seharusnya bisa jauh lebih menarik dari burung. Bisa lebih dari sekadar mengendalikan naluri.

Burung hidup untuk hari ini. Burung hidup untuk hari itu juga. Hidup untuk hari ini adalah prinsip yang menarik untuk bisa kita praktikan di keseharian. Hal tersebut bisa meredam bahkan menghilangkan rasa cemas hingga stres berlebih karena kekhawatiran akan yang lalu atau yang akan datang.

Hidup hari ini bukan berarti tak memikirkan masa depan. Sama sekali bukan soal itu. Hidup hari ini adalah soal bagaimana kita bersyukur di setiap harinya. Soal bagaimana persepsi, keyakinan, dan prasangka baik kepada Tuhan, Allah Swt,.

Lalu, bagaimana dengan sesuatu yang membuat cemas? Hadapi dengan berani. Ambil sikap tenang. Pikirkan baik-baik. Apa akibatnya. Apa konsekuensinya. Ambil keberanian untuk memilih opsi-opsi yang akan terjadi.

Jika satu pintu tertutup, pintu yang lain sebenarnya masih ada. Persoalan yang sering terjadi adalah kita terlalu cemas, stres, dan khawatir sehingga tidak lagi bisa berpikir jernih. Tidak bisa lagi berprasangka baik.

Hidup hari ini, sungguh menarik. Coba saja lakukan. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *