Menyibukkan Diri

Salah satu cara untuk menghindari rasa cemas dan stres, ini menurut saya pribadi, salah satunya adalah dengan menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat.

Entah mengapa akhir-akhir ini saya ingin menuliskan topik ini. Mungkin karena saya pernah dan malah sering mengalami hal tersebut. Dulu, ya dulu sering. Dengan menyibukkan diri pada banyak hal yang bermanfaat, kita akan terlupa pada hal-hal yang membuat cemas.

Itulah mengapa, tidur lebih baik ketimbang memikirkan takdir. Masa iya, kita akan tidur terus untuk mengatasi cemas atau stres? Kalau ada yang lebih mendayagunakan, kenapa kita tidak memilihnya?

Selain itu, kita juga bisa mengasah skill atau keterampilan dengan menyibukkan diri. Kita bisa menyusun daftar kesibukan atau pekerjaan yang bisa dipakai untuk mengalihkan. Lebih baik, lakukan hal-hal yang menyenangkan. Bisa juga hal-hal yang ingin ditingkatkan.

Kalau hal-hal yang menyenangkan, setiap orang berbeda-beda. Diri kita amsing-masing yang bisa membuat daftarnya. Adapun hal-hal yang perlu ditingkatkan, ini yang paling menarik.

Kemampuan menulis saya terbentuk salah satunya karena ini. Karena saya mencoba menyibukkan diri pada hal tersebut di suatu masa. Dari situ, jadilah kebiasaan. Saya yakin, kita semua punya keinginan untuk meningkatkan skill tertentu. Nah, ini bisa dicoba. Ketimbang memikirkan sesuatu yang membuat tambah stres, bukankah ini lebih “berguna”?

Di dalam dunia kerja, ada dua faktor yang menurut saya sangat berpengaruh. Pertama, skill. Kedua, keberuntungan. Yang kedua tidak perlu dicari. Namanya saja keberuntungan. Tetapi yang pertama, perlu dicari dengan berlatih. Skill akan selalu berbicara lebih dulu di sana. Siapa tahu, dengan memulai mendayagunakan keluangan (ketimbang memikirkan hal yang bisa membuat stres), kemampuan kita bisa bertambah dan meningkat. Hal-hal yang ingin kita tuju, bisa dicapai. Bahkan, sesuatu yang tadinya dianggap sekunder malah bisa jadi yang utama.

Dengan mengurangi rasa cemas yang berlebih, hidup akan lebih waras. Hidup menjadi lebih tenang. Sehingga kita bisa berpikir lebih jernih. Dari situ, solusi-solusi dan langkah-langkah yang perlu kita ambil akan lebih mudah dipetakan. Karena grusa-grusu, jalan penyelesaian yang sebenarnya ada di depan, bisa-bisa tidak kelihatan. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *