Sibuk adalah sebuah realita yang mungkin dihadapi setiap orang di masa kini. Namun, bukan berarti orang terdahulu tidak mempunyai kesibukan yang sama padatnya seperti kita saat ini. Mereka justru tetap produktif berkarya di tengah kesibukannya. Meskipun mempunyai kesibukanya layaknya kita hari ini. Pertanyaannya adalah kenapa mereka tetap bisa produktif?
Kalau membaca kisah para ulama dan orang-orang terdahulu bisa seproduktif itu salah satu kuncinya adalah pada manajemen waktu. Mereka sama seperti kita, mempunyai waktu 24 jam dalam sehari. Namun mereka adalah orang-orang yang memperhatikan dan berhati-hati soal menggunakan waktu sehingga tidak ada hal sia-sia.
Kita akui mungkin diri kita belum bisa sepenuhnya sempurna mengatur waktu. Namun, kita patut untuk mencontoh para ulama. Bukan hanya soal manajemen waktu namun juga bagaimana mengatasi rasa malas dan tidak pernah puas untuk berkarya.
Hari ini, kita sebagai seorang muslim mempunyai kesempatan yang luas untuk berkarya. Bayangkan!!. Masa kita ini tidak sesulit sahabat yang harus membela Islam dengan harta, darah dan nyawa, atau tidak sesengsara para pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan negeri kita. Waktu luang kita lebih banyak. Buktinya kita adalah manusia gadget (orang yang memandang gadget selama berjam-jam dalam sehari).
Bukan berati tak ada manfaatnya. Tapi alangkah bijaknya jika gadget itu gunakan sebagai sarana ibadah. Misal dengan membuat tulisan yang bermanfaat, membuat konten youtube, atau sesuatu yang mempunyai nilai manfaat. Tentu haruslah tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Kita sadari bahasan waktu ini memang agak berat. Terlebih karena memang sangat krusial untuk sebuah momentum hidup dimana kita takan bisa mengulang kembali walaupun hanya sedetik. Saya sendiri menulis ini sebenarnya ingin mengingatkan diri pribadi untuk berikhtiar memperbaiki manajemen waktu di tengah amburadulnya kultur (budaya manajemen waktu) yang telah di tempuh saat ini.
Lagi-lagi ini kembali pada pribadi masing-masing apakah akan bergegas memperbaikinya atau justru membiarkan kesempatan (waktu) itu habis dengan tidak berbuat apapun.
Kita pun di ingatkan Allah Swt. melalui firmannya dalam Al-Qur’an surat al-‘ashr ayat 1-3. “Demi Masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”
Ayat ini mungkin sering kita baca semasa pulang dari sekolah atau madrasah dulu. Namun, jarang sekali kita renungi. Dan saya rasa momentum ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk merenungi dan mengamalkannya. []
Akhmad Suhrowardi
