Enam Cara Mudah Menerbitkan Buku

Menjelang siang ini, saya ingin berbagi pengalaman bagaimana cara menerbitkan buku. Terkesan pragmatis ya? Tak apalah. Mungkin di antara kalian sedang ada yang punya keinginan minimal sekali seumur hidup bisa menerbitkan tulisan-tullisannya atau bahkan malah ingin memulai “karir” di dunia buku. Maksudnya di dunia tulis menulis.

Kalau tak salah ingat, saya pernah membagikan informasi seputar ini di training menulisnya Suluh Aksara. Tapi kalau tak salah. Saya agak lupa soalnya.

Tanpa berbasa-basi seperti HRD atau manajer operasional mewawancarai apa sebenarnya tujuan kalian ingin bekerja menulis, saya coba memberikan tips yang sat set sat set.

Pertama, dengan mengikuti pelatihan menulis berbayar yang project-nya ialah menulis buku. Pelatihan sejenis ini sangat banyak. Kalian tak perlu bersusah payah mencarinya. Iklannya saja ada di mana-mana. Dari mulai yang eksklusif sampai yang murah meriah. Untuk yang eksklusif, biasanya ada pendampingan sampai jadi buku. Ada yang sudah mematok tarif dari awal, ada juga yang modelnya memasang tarif bertahap. Ada yang modelnya nulis bareng, ada juga yang modelnya pendampingan sampai jadi buku by person. Tentu saja tergantung harga dan kelasnya. Harga training berkisar antara 400 ribu-an hingga berjuta-juta-an. Jujur, saya pribadi kurang merekomendasikan training ini, apalagi yang harganya berjuta-juta. Mengapa? Bagi saya yang telah berkelana di dunia tulis menulis, masih ada cara yang lebih low budget dan menguntungkan. Tapi jika kantong kalian pas, cara pertama ini tak masalah.

Kedua, mencari project buku menulis bersama. Cara kedua ini ada yang gratis dan ada juga yang berbayar, tapi kebanyakan memang berbayar. Biasanya sudah ditentukan tema besarnya dari Sang pembuat atau Sang penyedia jasa, kita selaku peserta tinggal menulis sesuai arahan tema besar atau pilihan rincian yang disediakan. Menulis dengan cara ini bisa menjadi alternatif jika kita sedang ada tugas menulis buku ber-ISBN dengan cepat. Meski sayangnya, ini project bersama, bukan individu. Bagi orang yang ingin meniti karir di dunia kepenulisan, trik ini bisa dicoba. Hanya saja, saya tidak menyarankan untuk memakainya berulangkali apalagi jika berbayar. Untuk kebutuhan “pragmatis” (tuntunan tugas, pekerjaan, atau semacamnya), memang ini cukup membantu. Namun untuk seorang pemula—yang masih butuh banyak belajar—saya akan merekomendasikan pilihan yang lain.

Ketiga, mencari pelatihan menulis gratis yang project akhirnya menulis buku bersama.  Nah, ini salah satu yang saya rekomendasikan bagi kalian yang sedang belajar menulis. Pasalnya di sini, kalian akan mendapatkan pelatihan dan bimbingan serta “semangat” menulis di dalam suatu komunitas. Jadi tak hanya sekadar “pragmatis” project dan project. Bincang Nulis Barang (BNB) adalah salah satu agenda yang Gaza Library Publishing buat untuk alasan ini (malah saya jadi promosi, #pis!). Karena gratis, cara ketiga ini menjadi pilihan alternatif yang menarik untuk dicoba. Kalian tak hanya dapat fasilitas menulis buku, tetapi juga komunitas untuk belajar menulis bersama. Point yang disebut terakhir ini, jauh lebih penting.

Keempat, dengan membayar (sejenis terbit atau cetak putus). Meski “pemberantasan cukong” ISBN sedang digalakkan oleh Perpusnas, namun cara keempat ini sangat bisa dicoba khususnya untuk mereka yang ingin menerbitkan buku dan memasarkannya sendiri serta ber-ISBN. Santai saja, cara ini tidak termasuk yang menjadi sasaran “pemberantasan”, hehe. Melalui sistem ini, kalian bisa menghubungi penerbit yang menyediakan jasa terbit/cetak putus. Biasanya, penerbit memberikan alternatif pilihan fasilitas yang didapatkan. Dengan membayar sejumlah biaya yang sudah dihitung terlebih dahulu, kita bisa menerbitkan buku sendiri sampai jadi, bahkan sampai ke tangan end user (pembeli). Kita juga bisa mendapat profit yang lumayan karena semua hasil keuntungan menjadi milik sendiri. Memang, kekurangan cara ini adalah kita harus memasarkan karya kita sendiri. Tapi jangan salah loh, banyak penulis-penulis yang sekarang lebih memilih cara ini apalagi mereka yang sudah punya “followers” banyak. Kok bisa begitu? Ya logikanya, penulis kan cuma bayar biaya jasa penerbitan (sampai jadi buku), terus dia menjual dengan harga yang ah mantap. Di pasaran, telah banyak yang menyediakan jasa seperti ini. Beraniterbit (@beraniterbit) salah satu contohnya (saya jadi promosi lagi gaes, #pis!).

Kelima, menerbitkan dengan cara “lazimnya” buku terbit. Menerbitkan dengan cara ini terbilang susah-susah gampang. Susah karena naskah harus diseleksi terlebih dahulu oleh penerbit. Gampang karena kalau ada orang dalam (hehe). Cara ini lazim disebut menerbitkan dengan sistem royalti. Penulis tidak perlu membayar ke penerbit dan mendapatkan royalti. Mungkin sampai sini kalian akan bertanya, berapa yah royaltinya Bang Tere Liye untuk buku-bukunya yang terbit di Gramedia? #Yo Ndak Tahu, Kok Tanya Saya! Ah mantap pastinya. Cara ini terbilang cukup sulit karena naskah kalian akan diseleksi oleh redaksi penerbit. Jadi, jika kalian ingin menggunakan cara ini, pastikan kalian tahu penerbit mana yang sesuai dengan tulisan yang kalian miliki. Kalian harus tahu mana penerbit yang mencari kriteria seperti tulisan kalian. Misalnya, yang dicari oleh penerbit adalah naskah parenting Islami, lah kalian malah memasukkan naskah tentang “bagaimana menjadi kaya dalam waktu lima menit”, ya nggak nyambung maseh! Kalo sudah tahu cara menjadi kaya dalam waktu lima menit, saran saya tak usah memasukkan naskah ke penerbit. Ya, tinggal terbitin sendiri kan? Apalagi sudah kaya. Pusying amat! (pis!) Gaza Library Publishing adalah salah satu penerbit yang masih menggunakan cara ini dalam menerima naskah. Apakah cukup ketat? Yang jelas, saya pernah menolak beberapa naskah. Sombong amat! Di web gazalibrary.my.id kalian bisa membuka tab kirim naskah, di situ ada tentang kriteria yang diterima. Silakan dicoba.

Keenam, menerbitkan buku sendiri tanpa ISBN. Apa bisa menerbitkan buku tanpa ISBN? Jawabannya bisa dan sah-sah saja, kecuali tempat kalian bekerja mensyaratkan kalian menulis buku ber-ISBN untuk kenaikan jenjang, jabatan, intensif, gaji, atau apalah dan segala macam tetek bengeknya. Kalian bisa mencoba cara keenam ini tentu dengan beberapa catatan. Karena semua dikerjakan sendiri, maka kalian harus bisa nge-proof naskah sendiri, ngedit naskah sendiri, nge-layout naskah sendiri, nyampul (membuat desain sampul) sendiri, mencetak sendiri, menjual sendiri, dan ngirim sendiri. Ribet amat? Ya ngga gitu juga kali. Santai saja, di zaman yang serba canggih dan ruwet ini, jasa yang saya sebutkan tadi sudah ada semua. Bahkan sampai jasa untuk menuliskan bukunya juga ada (ngawur!). Jasa proofreading, jasa edit, jasa sampul, jasa cetak, semuanya ada (kalau bingung, kontak saja @beraniterbit, hehe promosi lagi, #pis!). Kalau ngirim buku, ya kalian bisa membayar orang juga untuk packaging dan semacamnya. Keren kan cara ini? Tapi kalau kalian bisa semua dari yang saya sebutkan untuk jasa-jasa di atas, itu sangat keren. Saran saya: Dah, buka jasa aja! Bayarannya lumayan (hehe).

Itulah enam cara menulis buku versi saya sendiri. Versi yang saya tahu lebih tepatnya. Kalau bingung, saya menerima konsultasi gratis. Sangkyu sangkyu. Selamat berpuasa. []

 

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *