Terkadang Kita Jadi Tidak Waras Karena Media Sosial

Entah sudah berapa hari saya rehat. Tidak melakukan aktivitas apa pun kecuali untuk kebutuhan dasar. Tentu saja pengecualian Minggu pagi kemarin, menyimak obrolan mas Sadli tentang Sastra (pergerakan) yang dimoderatori coach Fadhi. Tak menyangka agenda itu bakal rame dihadiri komunitas sastra. Saya melihat mas Sadli dihujani banyak pertanyaan. Wah makin menarik. Sebenarnya sudah ada keinginan Gaza melebarkan sayap ke lini sastra dari bulan kapan itu. Tapi sampai sekarang hanya masih di dalam kepala. Belum keluar-keluar.

Sembari menunggu pulih dan waras, ternyata saya sudah ketinggalan banyak kabar. Dari mulai istana yang sedang digunakan untuk konsolidasi salah satu calon presiden hingga timnas kita yang lolos ke final. Itu belum lama, ya sekitar beberapa harian. Masih bisa dihitung jari tangan angkanya. Tenggat waktu yang tak lama saja, kabar sekitar sudah tertinggal jauh. Belum lagi kabar-kabar yang membuat kepala dan hati panas dingin?

Dunia media sosial mungkin telah menjadi tempat kita mencari segala macam kabar. Namun sayangnya, ada dampak yang terkadang tanpa disadari justru membuat diri kita terpenuhi dengan rasa iri dan emosi. Ada kawan-kawan yang membagikan sesuatu, tetiba kita jadi iri. Ada yang membagikan sesuatu yang berlawanan dengan afiliasi politik, kita jadi emosi. Dan seterusnya. Ada preferensi-preferensi yang berbeda. Terus-menerus seperti itu. Sebenarnya ulasan menarik mengenai hal ini telah dibahas oleh kawan-kawan JPG (Jaringan Penulis Gaza) di buku Dunia Tanpa Sekat (buku project BNB batch 3 kalau tak salah).

Memang obat mujarab untuk mengatasi hal tersebut adalah diri kita sendiri. Pertama, jangan jadikan hal-hal hebat sebagai sesuatu yang membuat kita iri. Kalau bisa, jadikan saja pacuan penyemangat kita untuk tumbuh dan bergerak. Kehidupan di depan kamera terkadang bukan yang selalu indah. Kehidupan yang di belakang (tidak ditampilkan) itu bukankah jauh lebih banyak? Saya yakin kalau kita upload foto pasti yang baik, bagus, dan sejenisnya kan? Jarang sekali posting yang berlaku kebalikannya?

Kedua, doa dan syukur. Berdoalah yang baik untuk mereka. Jangan malah mengatakan sumpah serapah. Ikut bahagia dan bersyukur juga merupakan obat agar tidak iri dan emosi. Kalau soal beda afiliasi politik, jangan serius-serius amat. Dibawa asyik saja. Tak perlu bawa-bawa al-wala wal-barra, anti-NKRI, Wahhabi, dan sematan-sematan yang menjengkelkan. Santai, ini masih nyetarter, belum pemanasan loh.

Ketiga, alangkah baiknya ketika memposting di media sosial ala kadarnya saja. Membagikan kebahagiaan itu tak masalah, siapa tahu menular. Ya, hanya saja kadang ada yang suka, ada yang tidak. Namanya saja manusia. Jadi pintar-pintar saja ketika kita membagikan sesuatu. Proporsional saja, jangan berlebihan. Kalau ada yang perlu diprivasi, atur saja privasi-privasinya. Saya pikir media sosial itu sudah agak canggih. Walaupun namanya screenshoot itu tetap tak bisa terhindarkan loh. Hehe, #pis!

Terakhir, jadi diri kita saja. Nah, itu sepertinya lebih baik. Tak ada yang lebih baik dari hal ini. Kita yang apa adanya. Kita ya seperti kita pada biasanya. Dengan begitu, kita bisa jauh lebih bersyukur, lebih teratur, lebih mudah menjaga diri dan hati. Yang jelas, tak gampang iri dan emosi.

Mungkin, itu tips yang kurang bermanfaat dari tulisan ini. Ditulis berdasarkan pengalaman, bukan teori yang diambil entah dari mana. Saya juga kerap dan sering mengalami hal semacam itu. Mungkin kawan-kawan di sini juga ingin berbagi tips lainnya, dipersilahkan. []

Viki Adi N

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *