Kemarin baru tersadar kalau salah satu penerbit Islam yang cukup besar di Indonesia telah off. Berawal dari adanya pesanan masuk buku berjudul Jangan Risaukan Rezekimu. Saya coba cek rak buku Gaza, ternyata kosong. Saya coba kontak penerbitnya. Lah, kok lama tak ada respon. Saya coba cek grup reseller atau distributornya. Tak disangka, saya baru sadar kalau admin telah memberi pesan soal berhentinya operasional penerbit.
Pemberitahuan dilayangkan semenjak akhir Maret lalu. Maklum, bulan Ramadhan kemarin Gaza full libur. Jadi benar-benar tak memperhatikan keriuhan di grup reseller atau distributor para penerbit. Cukup tertegun dan heran. Penerbit Serambi Grup adalah penerbit besar. Buku-buku terbitannya banyak yang tergolong tak diterbitkan penerbit lain wabil khusus buku-buku terjemahannya. Mereka juga punya penerbit turunan (maksudnya dalam satu grup) yang punya pangsa pasar tersendiri. Bahkan ada karya best seller-nya, seperti buku-buku Mba Dewi Nur Aisyah.
Di salah satu lini, semisal penerbit zaman, buku sejarah bertema “Dari Puncak…” adalah seri yang menarik. Sayang sekali, saya belum mengoleksi semuanya malah sudah off saja penerbitnya. Memang di Ramadhan kemarin, sebelum memberitahukan jadwal keberhentiannya, penerbit benar-benar membuat clearence sell atau semacam cuci gudang dengan diskon besar-besaran. Saya tak curiga sama sekali mengingat ini momentum Ramadhan. Biasalah, pikir saya.
Ternyata tak disangka, bersih-bersih itu adalah versi terakhir. Amat disayangkan. Saya termasuk orang yang mengumpulkan beberapa terbitan Serambi Grup, termasuk buku-buku sejarah yang tebelnya minta ampun itu. Buku Sejarah Indonesia Modern itu salah satu contohnya.
Sedih, saya sedih mendengar penerbit ini off. Saya cukup lama duduk terdiam ketika sadar off-nya mereka. Saya yakin ada kalkulasi bisnis di dalamnya. Saya yakin ada pertimbangan berat sampai akhirnya diputuskan begitu. Penerbit buku seidealis apa pun tetap akan berpikir soal uang. Mereka tetap akan berpikir soal bisnis agar roda operasional berjalan.
Memang, tema-tema babon atau terjemahan Serambi Grup mungkin sudah tak disukai oleh anak muda zaman now. Mereka lebih suka buku motivasi, kesehatan mental, novel, dan sejenisnya. Atau bahkan memang daya baca buku sudah menurun? Entahlah.
Saya pikir, penerbit memang dituntut gila di tengah zaman yang seperti ini. Semua serba digital, buku digital juga menjamur. Pembajakan terjadi di mana-mana. Selain idealisme yang harus dijaga, ada bisnis yang juga harus dipikirkan agar operasional tetap berjalan.
Ya, sudah lah. Saya yakin ada keputusan terbaik sampai harus seperti itu. Apa kalian juga termasuk orang yang mengoleksi buku-buku terjemah atau babonnya Serambi? Sayang sekali ya, mulai bulan kemarin kalian sudah tidak bisa lagi mengoleksinya. Kecuali mau sedikit bersusah payah mengais-ngais di pasar online. []
Viki Adi N
