Tawadhu atau Bersembunyi

Sering kita melihat seorang yang bukan kompetensinya dalam bidang kepemimpinan tertentu maju dan menjadi pemimpin. Memimpin dengan ala kadarnya. Memimpin secara de jure namun tidak secara de facto. Dan hasilnya pun menjadi tidak maksimal dan parahnya adalah ketidakjelasan konsep dalam memimpin.

Hal itu sering terjadi salah satunya karena banyak orang yang punya kemampuan bersembunyi dibalik ketawadhuannya. Benarkah dia tawadhu? Tawadhu adalah sikap rendah hati. Namun dalam menempatkan rendah hati ini haruslah sesuai dengan proporsinya. Ketika ada sebuah amanah yang dirasa hanya dia yang mempunyai kapabilitas seharusnya dia pula yang mengemban amanah itu.

Dalam konteks bernegara misalnya, kita masih saja menemukan orang-orang yang menjabat bukan sesuai dengan keahliannya. Bahkan tak jarang orang-orang yang sehari-harinya muncul di televisi sebagai artis bisa mewakili rakyat di Senayan. Hal ini memang sudah menjadi fenomena yang biasa. Padahal amanah lima tahunan itu menyangkut hajat orang banyak. Bukan hanya sekedar coba-coba (trail and error). Kita pasti tahu sebuah jabatan adalah amanah dan bukan menjadi jenjang uji coba kebijakan.

Memang dalam bernegara untuk menjadi seorang pemimpin atau menjabat dalam bidang tertentu haruslah masuk ke lingkungan partai terlebih lagi harus punya mahar bila ingin menjadi pemimpin masyarakat. Namun penulis tidak ingin masuk kesitu. Kita kesampingkan hal itu dulu. Yang harus kita lakukan adalah tahu bagaimana mengambil sikap ketika ada sebuah amanah didepan kita. Misal dari hal yang terkecil dalam lingkup kelas, organisasi, rt, rw, desa dll. Iya lebih tepatnya bisa memproporsikan antara ketawadhuan dengan amanah yang ada didepannya.

Dalam hal keilmuan juga haruslah seperti itu. Misal ada seorang ahli ilmu dalam bidang fikih, dia harus memaklumatkan dirinya bahwa dirinya ahli ilmu fikih. Karena bisa saja ada orang lain yang bukan bidangnya berfatwa. Dan fatwa itu berpotensi salah. Dengan memaklumatkan dirinya sebagai ahli ilmu fikih bukan berati dia sombong namun untuk kemaslahatan umat yaitu agar orang-orang bertanya pada tempatnya.

Mungkin sekarang kita juga sering mendengar istilah “kepakaran kalah dengan banyaknya jumlah followers.” Entah karena para pakar diam atau karena memang masih menggunakan cara-cara tradisional dalam memberikan informasi. Memang ditengah informasi yang begitu mudah untuk diakses menjadikan siapa saja bisa berbicara bahkan yang bukan keahliannya sekalipun. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran akan merosotnya nilai-nilai keilmuan terlebih lagi keilmuan dalam Islam yang sangat menjunjung tinggi nilai sanad keilmuan. Maka sudah seharusnya para pakar pun harus memunculkan dirinya ke permukaan agar orang tidak salah untuk bertanya kepada siapa.

Dari dulu hingga kini pertarungan haq dan bathil akan selalu berulang sampai hari kiamat. Dan sudah menjadi tugas kita untuk memenangkan pertarungan itu dengan mendominasi haq (kebenaran) di dunia ini. Oleh karena itu sebagai seorang muslim haruslah tau bagaimana dia menempatkan antara ketawadhuan dan amanah karena itu juga termasuk ikhtiar untuk memenangkan haq (kebenaran). Dengan begitu semoga saja orang-orang yang memang pantas mendapat amanah itu akan memunculkan dirinya kepermukaan dan menjadikan tawadhu sebagai kekuatan untuk maju bukan untuk kekuatan untuk bersembunyi.

Akhmad Suhrowardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *