Sepak Bola Bukan Untuk Kampanye LGBT

Publik dunia dikagetkan oleh aksi tutup mulut Timnas Jerman saat melakoni laga fase grup pada Piala Dunia Qatar 2022 melawan Timnas Jepang. Aksi tutup mulut yang dilakukan Timnas Jerman ini sebagai bentuk protes terhadap Qatar selaku pihak penyelenggara sekaligus tuan rumah FIFA World Cup 2022. Timnas Jerman merasa hak mereka untuk menggunakan ban kapten pelangi (One Love) dilarang oleh pihak penyelenggara. Ban kapten pelangi (One Love) merupakan bagian dari kampanye dukungan anti-diskriminasi LGBT. Ban kapten pelangi (One Love) pertama kali diluncurkan oleh Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) pada tahun 2020.

Mengutip dari sport.tempo.co, ban kapten pelangi (One Love) menjadi ikon promosi pesan perdamaian untuk komunitas LGBT. Ban kapten One Love ditandai dengan simbol hati berwarna pelangi dengan angka 1 di dalamnya. Promosi ini bertujuan untuk menolak kriminalisasi terhadap perbedaan khususnya LGBTQ+. Sebanyak 10 negara Eropa termasuk Jerman telah setuju untuk menggunakan ban kapten One Love pada perhelatan FIFA World Cup Qatar 2022.

Kampanye pesan anti-diskriminasi terhadap komunitas LGBT melalui sepak bola bukanlah hal baru. Kampanye ini telah dilakukan di liga-liga sepak bola eropa sejak diluncurkan oleh Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) pada tahun 2020. Kampanye One Love pertama kali dimuat di papan iklan sepak bola ketika liga-liga sepak bola di eropa berlangsung. Kampanye One Love kemudian berkembang dalam berbagai bentuk atribut sepak bola seperti, ban kapten One Love dan jersey club-club sepak bola eropa yang bercorak pelangi.

Sikap Qatar sebagai tuan rumah FIFA World Cup 2022 untuk melarang penggunaan atribut sepak bola yang bernuansa LGBT sangat jelas, karena Qatar merupakan negara Islam yang tidak memperbolehkan semua hal yang berhubungan dengan LGBT. Qatar secara tegas melarang penggunaan ban kapten pelangi (One Love) dalam perhelatan Piala Dunia 2022 di negaranya. Qatar telah menunjukkan pada dunia Islam bahwa kampanye pesan anti-diskriminasi merupakan produk barat yang menyalahi Aqidah Islam. Sikap Qatar layak diberi apresiasi, karena telah memberikan perlawanan terhadap sekularisasi dan liberalisasi barat yang dominan dari berbagai sisi.

Saat dunia sedang berada dibawah hegemoni peradaban barat yang sekuler dan liberal, seharusnya ummat muslim tidak tinggal diam. Ummat muslim harus menggambil bagian dalam melawan dominasi barat saat ini, karena konsepsi Islam ummat muslim bisa rusak jika kampanye yang mengatasnamakan anti-diskriminasi LGBT terus dilakukan. Ummat muslim harusnya lebih serius dalam menanggapi persoalan kemunkaran saat ini.

Dalam Islam, homoseksual merupakan tindakan yang dikategorikan sebagai dosa besar dan sanksinya sangat berat. Dikutip dari Adian Husaini (Hegemoni Kristen-Barat; Dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi), Imam Syafii berpendapat bahwa pelaku homoseksual harus dirajam atau dilempari batu sampai mati tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujang atau sudah menikah. Menurut para fuqaha pelaku homoseksual laki-laki dan wanita dibedakan sanksinya, pelaku homoseksual laki-laki akan dihukum mati sementara pelaku homoseksual wanita (lesbi) tidak dihukum mati. Pelaku homoseksual wanita diberi sanksi sesuai keputusan penguasa (ta’zir), dimana sanksinya akan sangat berat berupa kurungan dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya.

Dibalik kampanye dukungan anti-diskriminasi LGBT yang tengah digulirkan oleh barat dari berbagai sisi perlu dilakukan perlawanan (penolakan) oleh organisasi dan tokoh-tokoh Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Hegemoni peradaban barat telah membuahkan arus globalisasi yang pesat, di mana media saat ini menjadi penguasa dan penentu nilai-nilai moral baru ditengah masyarakat. Sehingga, berdampak pada lahirnya ketidakberdayaan (power-less) yang gagap dan gamang dalam menyikapi persoalan kemunkaran saat ini. Mengutip Adian Husaini (Hegemoni Kristen-Barat; Dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi), penjungkirbalikan nilai-nilai haq dan bathil melalui perusakan keilmuan Islam merupakan masalah paling serius yang dihadapi kaum muslim khususnya pemuda Islam saat ini.

Kita perlu mengambil contoh dari seorang pemuda muslim asal Senegal yang juga berkaca pada perhelatan FIFA World Cup Qatar 2022 kemarin. Pemuda muslim tersebut adalah Idrissa Gueye, pemain Timnas Senegal yang juga pernah memperkuat Paris Saint-Germain (PSG) selama 3 musim berturut-turut. Keteguhan iman seorang muslim tercermin dalam diri Idrissa Gueye ketika menolak dimainkan dalam sebuah laga di Liga Prancis, karena timnya saat itu PSG menggunakan atribut jersey yang bernuansa pelangi LGBT. Mengutip dari sport.detik.com, Idrissa menyampaikan alasan menolak dimainkan dalam laga tersebut kepada pelatih saat itu Mauricio Pochettino dengan kalimat “saya menandatangani perjanjian dengan club PSG untuk bermain sepak bola, bukan untuk kampanye yang menyalahi Aqidah saya”.

Idrissa Gueye merupakan figur pemuda muslim yang keteguhan pendiriannya amat dirindukan oleh ummat Islam. Tidak bisa dipungkiri bahwa di zaman yang penuh fitnah ini hampir sebagian besar pemuda muslim merupakan korban penjajahan pemikiran. Korban dari agenda busuk semua gerakan beracun; liberalisme, sekularisme, pluralisme, feminisme dan islamophobia. Tetapi, Idrissa membuktikan bahwa ia mampu untuk tidak tersentuh oleh jerat gerakan itu sedikitpun. Idrissa menolak untuk disetir dan dicuci pemikirannya oleh barat. Maka, pemuda muslim sudah sepantasnya mengikuti langkah Idrissa Gueye dalam hal keteguhan pendirian dan keberanian sebagai totalitas dari prinsip-prinsip Aqidah Islam. Hasan Al-Banna berpesan bahwa tegakkanlah Islam dalam dirimu, niscaya dengan sendirinya Islam akan ditegakkan di atas bumi mu.

Akhirnya penulis ingin menyampaikan bahwa sepak bola bukan untuk kampanye dukungan anti-diskriminasi LGBT. Sepak bola merupakan olahraga semua orang yang menggemarinya. Sepak bola lahir untuk dinikmati oleh semua orang dari berbagai kalangan, golongan, etnis, suku, ras dan agama. Sepak bola tidak layak untuk mempertontonkan pesan dukungan yang melanggar prinsip-prinsip agama tertentu. Kampanye dukungan anti-diskriminasi LGBT dalam sepak bola jelas telah bertentangan dengan prinsip-prinsip Aqidah Islam. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang turut serta menjadi bagian dari sepakbola seperti, pemain, pelatih, pengurus, penyelenggara, federasi ataupun penggemar (supporter) harusnya menjadi cerminan dengan tetap kokoh pada prinsip-prinsip Aqidah Islam.

Suratman S. Naim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *