Refleksi Hoaks di Era Revolusi Industri

Hoaks atau berita bohong tidaklah muncul baru-baru ini, dari zaman Rasulullah pun sudah ada kisah-kisah yang diabadikan dalam sejarah. Coba ingat kembali saat sayyidina Aisyah ra difitnah oleh kaum munafik yang menyebarkan desas desus bahwa istri Rasulullah tersebut berselingkuh. Ketika perjalanan pulang dari perang, Aisyah kehilangan kalungnya kemudian menyusuri sepanjang jalan, ada satu sahabat yang bertugas di barisan paling belakang untuk menyapu jalur lalu bertemu dengan beliau, Aisyah. Akhirnya mereka berdua pulang Bersama karena memang rombongan paling akhir. Namun apa yang terjadi? Fitnah tersebut semakin menyebar luas hingga Rasul pun berubah sikapnya kepada Aisyah. Dalam sirah nabawiyah dijelaskan, Rasul tidak menerima wahyu selama satu bulan lamanya saat peristiwa itu terjadi. Hingga Allah turunkan wahyu Q.S An-Nur ayat 11-26 sekaligus kabar gembira untuk membersihkan fitnah yang ada pada keluarga Rasulullah.

Kisah tersebut hanyalah satu dari sekian banyak yang tertulis dalam sejarah, apalagi ketika Rasul wafat, masa-masa setelah itu, hingga hancurnya masa kekhalifahan. Berita bohong atau hoaks sedikit banyak menyumbang faktor kehancuran dari masa ke masa, apalagi belum ada digitalisasi waktu itu, belum ada akses komunikasi instan maupun jejak digital yang bisa dijadikan barang bukti. Pada masa itu untuk berkomunikasi antar daerah saja harus mengirimkan delegasi, dan yang pasti dia adalah seorang diplomat ulung dan sangat dipercaya karena mewakili komunikasi daerahnya. Bukan seperti film Harry Potter yang menggunakan burung dan sihir untuk menyampaikan surat, itu hanya fantasi.

Perbandingan masa pra-digitalisasi dan masa digitalisasi sekarang ini sangat jauh jika dinilai dari aspek alat komunikasinya. Zaman dahulu harus manusianya yang berpindah untuk menyampaikan informasi. Zaman sekarang hanya perlu akses internet kemudian bisa tersambung dengan orang yang dituju. Perkembangan teknologi cukup pesat hingga abad 20 ini, tapi satu yang masih menjadi PR kita bersama yaitu budaya untuk melacak kebenaran. Kisah-kisah yang sudah disebutkan dalam sejarah setidaknya memberikan kita pelajaran yang bisa kita terapkan pada masa kini.

Coba perhatikan, subyek yang termakan berita bohong. Asal muasalnya adalah percaya dengan berita yang beredar tanpa tabayyun terlebih dahulu. Informasi yang ada ditelan mentah-mentah tanpa filter dan akhirnya membuat prasangka lalu menyulut emosi. Itulah salah satu faktor manusia yang menyumbang kehancuran. Maka dari itu kita sebagai kaum terdidik harusnya lebih aware dan sedikit skeptis terhadap berita atau informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dalam Islam sudah ada ajaran untuk tabayyun dalam mengolah informasi, kita sebagai muslim hanya perlu berpikir dengan tenang dalam mengaplikasikan setiap ajarannya agar tidak menyesal dikemudian hari. Menuju muslim yang kaffah dalam setiap lini kehidupan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat : 6) []

Yuri

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *