Pengkhiantan dan Pengkhianatan

Cerita mengenai “pengkhianatan” terus saja muncul di beranda. Bosan sekali melihat gambar atau poster-poster yang begituan.

Kalau sudah kaitannya dengan politik, drama semacam itu sebenarnya sudah biasa. Dari dulu memang sudah seperti itu. Jika ada politisi yang terlalu berlebihan menanggapi, kita bisa menilai tentang kedewasaan dan tujuannya.

Dulu sekali misalnya, nama Hidayat Nur Wahid berubah menjadi Budiono. Demokrat harusnya sudah paham soal tikung menikung. Atau yang belum lama-lama banget, ada nama Pak Mahfud yang berubah jadi Kyai Ma’ruf. Kalkulasi suara adalah faktor yang biasanya paling menentukan dengan memperhatikan berbagai situasi dan kondisi.

“Pengkhianatan” seperti itu sudah biasa, namanya saja politik, serba atraktif. Yang lebih menjengkelkan sebenarnya “pengkhianatan” yang dilakukan kaum yang katanya disebut intelektual atau cendekiawan.

Begitu banyak cendekiawan yang rela menjatuhkan marwah gelar intelektualnya untuk membela junjungan tanpa pernah melihatnya lebih jernih dan jujur. Kejujuran sudah hilang. Kedudukan, jabatan, uang, popularitas lebih dikedepankan. Bahkan, agama bisa dijadikan mainan untuk itu, asalkan ambisinya dapat. Contohnya saja lembaga yang pernah diketuai oleh penulis buku Inteligensia Muslim dan Kuasa. Sudah benar, beliau segera keluar.

Kaum intelektual, cendekiawan, akademisi, seharusnya mereka yang paling bisa dan mengerti bagaimana menurunkan riset-riset untuk kebaikan dan keberlangsungan kemanusiaan. Sayangnya, tak sedikit yang menjadikan kegiatan yang seharusnya berguna itu malah menjadi formalitas belaka. Malahan, ada yang berkebalikan: merusak keharmonisan, merusak nilai yang sudah pakem.

Tak masalah jika mau mengejar gelar, kedudukan, jabatan, gaji, dan seterusnya, asalkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kaum intelektual atau cendekiawan tidak dibuang. Kerja-kerja jujur dan ikhlas memang sudah sesuatu yang amat langka. Mengerikan juga jika kampus-kampus berjalan formal ala kadarnya.

Saya berterimakasih pernah mengenal asistensi/tutorial pendidikan agama Islam, pernah mengenal kerohanian Islam, pernah mengenal organisasi gerakan Islam. Tanpa lembaga-lembaga ini, entah akan jadi apa manusia-manusia seperti saya ini. Terlepas dari berbagai kekurangannya yang ada, lembaga-lembaga seperti itu memang benar-benar dibutuhkan kampus untuk bisa mewaraskan dan mendewasakan para calon intelektual.

Kecuali, pendidikan tinggi kita sudah ideal dalam “mendidik”. Sayangnya, (sebagian besar) di sana, memang bukan tempat “mendidik”. Lebih pasnya mungkin adalah tempat “mengajar” dan ladang cuan. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *